SUKABUMIUPDATE.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level Rp17.500. Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda melalui berbagai instrumen moneter.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah ini dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan dinamika domestik yang cukup kompleks.
Destry menjelaskan bahwa selain ketidakpastian global dan kenaikan harga minyak dunia, lonjakan permintaan dolar AS di dalam negeri saat ini dipicu oleh faktor musiman, seperti kebutuhan korporasi untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) dan pembagian dividen.
Baca Juga: Daftar Puluhan Desa Wisata di Kabupaten Sukabumi yang Resmi Dikukuhkan Dispar 2026
Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing untuk keperluan ibadah haji turut menjadi faktor pendorong naiknya permintaan dolar di dalam negeri.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," ujar Destry dikutip dari suara.com, Rabu (13/5/2026).
Di tengah tekanan tersebut, Destry menekankan bahwa kepercayaan investor asing terhadap aset portofolio Indonesia masih menunjukkan tren positif.
Baca Juga: Utang Luar Negeri RI Tembus Rp7.507 Triliun per Februari 2026
Hal ini dibuktikan dengan masuknya aliran modal asing (inflows) ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang mencapai angka signifikan sebesar Rp61,6 triliun sepanjang bulan April.
Selain aliran modal, kondisi likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestic juga dilaporkan masih sangat memadai.
Bank Indonesia optimis bahwa melalui langkah-langkah strategis yang telah disiapkan, pergerakan rupiah akan segera kembali ke level fundamental ekonomi yang mencerminkan kondisi riil pasar keuangan Indonesia.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar Rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," jelasnya.
Sumber: Suara.com
Editor : Denis Febrian