SUKABUMIUPDATE.com - Child grooming adalah bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional dengan anak atau remaja, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual.
Modus ini kerap berlangsung secara perlahan, halus, dan sering kali tidak disadari, baik oleh korban maupun orang tua.
Child grooming dapat terjadi secara langsung di lingkungan sekitar anak maupun melalui dunia digital, seperti media sosial, game online, atau aplikasi pesan. Karena prosesnya tampak seperti perhatian atau kepedulian, banyak orang menganggapnya sebagai hal yang wajar.
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming merupakan proses bertahap di mana pelaku berusaha mendapatkan kepercayaan anak. Pelaku biasanya menargetkan anak yang sedang mengalami masalah emosional, kurang perhatian, memiliki kepercayaan diri rendah, atau sedang berkonflik dengan keluarga.
Baca Juga: Majelis Milik Pesantren di Surade Sukabumi Roboh Diterjang Hujan Deras
Pelaku akan memposisikan diri sebagai sosok yang paling memahami perasaan anak. Ia memberikan perhatian berlebih, empati, pujian, hingga hadiah agar anak merasa istimewa dan aman bersamanya.
Ketika ikatan emosional sudah terbentuk, pelaku mulai mengendalikan anak dan mendorongnya menuruti keinginan tertentu.
Dalam tahap lanjut, pelaku dapat melakukan pelecehan seksual, eksploitasi, atau bentuk kekerasan lainnya. Anak sering kali tidak berani melawan karena merasa bergantung secara emosional, takut diancam, atau merasa bersalah.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Child Grooming
Orang tua perlu waspada jika anak menunjukkan perubahan perilaku berikut:
- Menjalin hubungan dekat dengan orang dewasa yang usianya jauh lebih tua
- Sering membicarakan satu sosok tertentu secara berlebihan
- Menghabiskan banyak waktu dengan orang tersebut hingga mengabaikan sekolah atau teman sebaya
- Menjadi lebih tertutup dan jarang bercerita tentang aktivitas sehari-hari
- Sering menerima hadiah tanpa alasan yang jelas
- Menjauh dari keluarga atau terlihat mudah marah saat dilarang bertemu orang tertentu
Child grooming bisa berlangsung dalam waktu lama, bahkan bertahun-tahun. Tidak jarang pelaku juga mendekati keluarga korban agar terlihat dapat dipercaya dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Baca Juga: BPBD Sukabumi Ungkap Kendala Relokasi Korban Tanah Bergerak di Purabaya
Dampak Child Grooming pada Anak
Anak yang menjadi korban child grooming dapat mengalami dampak serius, baik secara fisik maupun mental. Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:
- Gangguan tidur dan mimpi buruk
- Sulit berkonsentrasi dan prestasi sekolah menurun
- Kecemasan berlebih dan depresi
- Gangguan makan
- Gangguan stres pasca trauma (PTSD)
Jika grooming berlanjut menjadi kekerasan seksual, anak juga berisiko mengalami penyakit menular seksual. Selain itu, perubahan sikap seperti menarik diri, mudah tersinggung, atau agresif sering kali menjadi tanda trauma yang mendalam.
Cara Mencegah Child Grooming
Pencegahan dimulai dari komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Ajarkan anak tentang batasan tubuh dan jelaskan bahwa tidak semua sentuhan boleh dilakukan oleh orang lain. Anak juga perlu tahu bahwa ia berhak menolak dan melaporkan perilaku yang membuatnya tidak nyaman.
Bangun kepercayaan agar anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi. Jika anak mengungkapkan pengalaman yang mengarah pada child grooming, hadapi dengan tenang, dengarkan dengan serius, dan tegaskan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.
Baca Juga: Jangan Anggap Remeh! 8 Bahaya Gigi Berlubang hingga Bisa Memicu Penyakit Lain
Child grooming adalah ancaman nyata yang sering tersembunyi di balik sikap ramah dan perhatian. Dengan kewaspadaan, edukasi sejak dini, serta komunikasi yang sehat dalam keluarga, orang tua dapat melindungi anak dari risiko pelecehan dan membantu mereka tumbuh di lingkungan yang aman.
Sumber: Alodokter
Editor : Emi Amelia