Sukabumi Update

Child Grooming: Ancaman Pelecehan Seksual pada Anak dan Pentingnya Edukasi di Lingkungan Pendidikan

Ilustrasi Child Grooming: Ancaman Pelecehan Seksual pada Anak dan Pentingnya Edukasi di Lingkungan Pendidikan (Sumber: pexels.com/@Anastasia Shuraeva)

SUKABUMIUPDATE.com - Child grooming merupakan istilah yang semakin penting untuk dipahami oleh orang tua, pendidik, dan masyarakat luas. 

Praktik ini mengacu pada upaya sistematis yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak atau remaja, dengan tujuan akhir melakukan eksploitasi atau pelecehan seksual. 

Meski istilah grooming sering diasosiasikan dengan perawatan hewan peliharaan, dalam konteks sosial, grooming memiliki makna yang jauh lebih serius dan berbahaya.

Menurut definisi Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Child Grooming adalah metode yang digunakan oleh pelaku kejahatan seksual untuk memanipulasi emosi anak serta lingkungan sekitarnya. 

Pelaku tidak hanya mendekati anak, tetapi juga berusaha mendapatkan kepercayaan keluarga, guru, atau orang dewasa lain agar memiliki kesempatan berdua dengan korban. Pendekatan ini dilakukan secara halus, bertahap, dan sering kali tidak disadari oleh korban maupun orang di sekitarnya.

Baca Juga: 5 SMK Negeri Terbaik di Sukabumi Lengkap dengan Jurusan dan Alamat Sekolah

Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban child grooming karena kondisi emosional dan psikologis mereka yang masih berkembang. Pelaku biasanya menunjukkan perhatian berlebihan, memberikan pujian terus-menerus, hadiah, atau perlakuan istimewa yang membuat anak merasa spesial. 

Ketika anak mulai merasa nyaman dan percaya, pelaku perlahan melanggar batas yang seharusnya aman, hingga akhirnya melakukan pelecehan seksual.

Dalam konteks pendidikan, khususnya di wilayah Sukabumi, kewaspadaan terhadap child grooming menjadi hal yang sangat penting. Lingkungan sekolah, bimbingan belajar, hingga aktivitas pendidikan nonformal dapat menjadi celah jika tidak disertai pengawasan dan edukasi yang memadai. 

Pelaku kerap menyamar sebagai sosok yang dipercaya, seperti guru privat, pelatih, atau pendamping belajar, sehingga sulit dicurigai pada awalnya.

Ciri umum pelaku child grooming antara lain menunjukkan ketertarikan berlebihan pada anak tertentu, sering mencari waktu berdua, memberikan validasi emosional secara berlebihan, serta berusaha menjauhkan anak dari pengawasan orang tua atau lingkungan sekitarnya. 

Baca Juga: Orang Tua Harus Waspada: Ini 4 Ciri-ciri Pelaku Child Grooming Pada Anak

Dalam beberapa kasus ekstrim, pelaku dapat menggunakan ancaman, manipulasi, bahkan kekerasan untuk mempertahankan kontrol atas korban.

Sayangnya, banyak kasus child grooming tidak disadari sejak awal. Anak sering kali tidak memahami bahwa mereka sedang dimanipulasi, sementara orang dewasa di sekitarnya menganggap perilaku pelaku sebagai bentuk perhatian biasa. Padahal, dampak dari grooming sangat serius, baik secara mental maupun fisik, dan dapat meninggalkan trauma jangka panjang pada korban.

Di era digital saat ini, child grooming juga semakin marak terjadi secara daring. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform game online menjadi sarana yang memudahkan pelaku mendekati anak tanpa pengawasan langsung. 

Oleh karena itu, pendidikan literasi digital di sekolah-sekolah menjadi langkah penting untuk mencegah praktik ini sejak dini.

Orang tua dan pendidik diharapkan aktif memberikan pemahaman kepada anak mengenai batasan tubuh, hubungan yang sehat, serta keberanian untuk berbicara jika merasa tidak nyaman. 

Baca Juga: Ganggu Aktivitas Nelayan, Limbah Kayu Tutupi Sempadan Pantai Ujunggenteng Sukabumi

Dengan edukasi yang tepat dan pengawasan yang konsisten, lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang tanpa ancaman child grooming.

Editor : Emi Amelia

Tags :
BERITA TERKAIT