Sukabumi Update

Jembatan Kuning Bagbagan: Ikon Konstruksi Belanda di Sukabumi dan Mitos Sungai Cimandiri

Jembatan Kuning Bagbagan di Simpenan Kabupaten Sukabumi (Sumber: sukabumiupdate)

SUKABUMIUPDATE.com - Jembatan Kuning Bagbagan di Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ini adalah salah satu bukti sejarah ikon kontruksi belanda di Sukabumi, peninggalan kolonial Belanda yang membentang diatas Sungai Cimandiri, punya banyak cerita mitos yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat sekitar.

Jembatan Kuning Bagbagan di Sukabumi dibangun mulai sekitar tahun 1922 dan diresmikan pada 5 Mei 1923. Jembatan yang dulu dikenal sebagai Kabelbrug Tjimandiri ini melintasi Sungai Cimandiri, menghubungkan Palabuhanratu dengan Pajampangan, merupakan jalur penting untuk mobilitas ekonomi, termasuk perdagangan gula saat itu.

Di masa pembangunannya, pada November 1914, bagian kanan jembatan telah rampung, sementara sisi kiri baru selesai pada Agustus 1915. Meski rencana penggalian pondasi telah dimulai sejak 1916, berbagai kendala, termasuk bencana alam, sempat menghambat prosesnya.

Baca Juga: Penyu Hijau Mati di Kawasan Konservasi Pangumbahan Sukabumi dengan Leher Nyaris Putus

Konstruksi Jembatan Bagbagan Sukabumi akhirnya berhasil diselesaikan pada 1917. Namun, pada 2 November tahun yang sama, banjir besar melanda dan menyebabkan tiang penyangga serta fondasi kiri jembatan mengalami kerusakan parah.

Untuk mengatasi kendala yang muncul, B.O.W merancang pembangunan jembatan kabel, dikenal sebagai Kabelburg, yang menggunakan kabel sling baja sebagai struktur penguat. Namun, berbagai tantangan terus bermunculan selama proses pembangunan.

Meskipun menghadapi banyak hambatan, jembatan Tjimandiri akhirnya berhasil diselesaikan hampir satu dekade lebih lama dari rencana awal. Proyek Pembangunan Jembatan Bagbagan Sukabumi Zaman Belanda menelan biaya lebih dari 30.000 Gulden, hingga akhirnya jembatan diresmikan pada tahun 1923.

Baca Juga: Klinik Waluya Sukabumi Gratis Meski Belum Dicover BPJS, Paoji Nurjaman: Komitmen PDIP Melayani Rakyat

Jembatan Kuning Bagbagan Sukabumi memiliki panjang sekitar 117,5 meter dengan tinggi pylon (menara) mencapai 17,7 meter dan lebar 3,9 meter. Struktur ini menggunakan bahan besi yang kokoh, mencerminkan teknologi konstruksi pada masa itu.

Selain sebagai jalur transportasi, Jembatan Kuning Bagbagan Sukabumi juga menjadi simbol ambisi Belanda dalam membangun infrastruktur di Hindia Belanda di masa kolonial. Melansir GNFI, pada masa itu, proyek pembangunannya menarik perhatian luas dan menjadi topik utama di berbagai media pemberitaan Hindia Belanda.

Pembangunan Jembatan Bagbagan Sukabumi menarik perhatian berbagai media, termasuk koran De Sumatra Post (24 November 1923), De Preanger Bode (31 Desember 1918), dan Bataviaasch Nieuwsblad (28 November 1922). Proyek Pembangunan Jembatan Kuning Bagbagan Sukabumi menjadi bahan perbincangan karena mengalami sejumlah penundaan. Pembangunannya bahkan tertunda hingga sembilan tahun sebelum akhirnya rampung pada 5 Mei 1923.

Baca Juga: Juara Indonesia Masters 2026: Profil Alwi Farhan, Regenerasi Pebulutangkis Putra

Kondisi Saat Ini

Jembatan Kuning Bagbagan Sukabumi kini sudah tidak digunakan untuk kendaraan karena adanya jembatan baru di dekatnya. Namun, struktur aslinya masih berdiri sebagai saksi bisu sejarah Infrastruktur Sukabumi di masa kolonial.

Banyak warga dan sejarawan berharap Jembatan Kuning Bagbagan Sukabumi dapat direvitalisasi menjadi destinasi wisata sejarah, mengingat nilai historisnya yang tinggi. Rencana ini terus bergulir di setiap rezim pemerintah daerah, namun hingga 2026 ini tak juga terealisasi.

Mitos dan Cerita Rakyat

Di balik warna kuning kusam besi tuanya, jembatan ini dikenal luas sebagai salah satu lokasi yang dipercaya memiliki “penunggu”. Sosok yang paling sering disebut oleh warga adalah Jurig Merah, makhluk gaib berwarna merah yang konon kerap menampakkan diri di sekitar tiang jembatan.

Baca Juga: Pemerintah Iran: 1.850 Orang Tewas dalam Kerusuhan Teheran

Cerita tersebut disampaikan langsung oleh Ede Barong, warga setempat yang mengaku sejak kecil sudah mendengar kisah Jurig Merah secara turun-temurun dari keluarganya."Bener sekali. Soalnya dulu mah memang saya dapat cerita dari kakek saya, buyut lah mungkin ke sananya. Katanya suka memperlihatkan diri," ujar Ede Barong saat ditemui di sekitar Jembatan Kuning Bagbagan.

Menurut Ede, Jurig Merah memiliki ciri yang sangat tidak lazim. Sosoknya digambarkan berwarna merah seluruh tubuhnya, namun tidak memiliki kepala yang menyatu dengan badan.

"Jurig Merah itu nggak ada kepalanya. Kepalanya kayak berpisah. Kalau jalan tuh kayak nggak nyambung antara leher sama kepala. Bentuk warnanya merah itu mirip golek Cepot, merah semua," katanya. Lokasi kemunculan Jurig Merah disebut berada tepat di sekitar tiang jembatan yang berdiri di tengah aliran Sungai Cimandiri.

Baca Juga: Warga Swadaya Perbaiki Jalan Nasional Amblas di Tanjakan Baeud Sukabumi

"Lokasinya pas di Sungai Cimandiri, di tiang yang tinggi itu. Satu gawang, dua gawang, di tengah air yang keruh," ujar Ede.

Ede menambahkan, sebagian orang percaya Jurig Merah bisa diajak berkomunikasi oleh mereka yang dianggap memiliki kemampuan spiritual. "Katanya suka memperlihatkan diri, bahkan bisa ngobrol kalau sama orang pintar mah," ujarnya.

Ede juga mengaku dirinya pribadi sudah berkali-kali menyaksikan langsung penampakan Jurig Merah. "Kalau nggak salah, lebih dari 15 kali saya lihat sendiri. Pernah juga saya sorot, pengen buktiin, ternyata iya ada," ujarnya.

Baca Juga: Masjid Ponpes Sirojul Ummah Surade Diresmikan, Jadi Pusat Ibadah dan Pendidikan Santri

Selain Jurig Merah, Ede juga menyebutkan adanya berbagai benda pusaka yang dipercaya tersimpan secara gaib di sekitar jembatan, mulai dari mustika Merah Delima, golok gobang, keris, batu wulung. "Merah Delima itu ada, di ujung sebelah Utara jembatan. Asli itu. Kalau ada yang bisa narik, pasti dikasih itu katanya, asal sesajennya cukup," katanya.

Tak berhenti di situ, Sungai Cimandiri di sekitar jembatan juga dipercaya dihuni makhluk lain berupa ikan lubang raksasa, sejenis sidat berukuran tak wajar. "Ikan lubang itu besarnya bulatan ban Colt Diesel. Kadang suka naik ke darat dari air katanya pernah ada yang melihat," tutur Ede.

Ia juga menyebut keberadaan buaya-buaya gaib di sepanjang aliran sungai. "Sebelah timur ada Buaya Buntung, sebelah barat ada buaya warnanya kekuningan. Banyak lah di Kali Cimandiri ini," tambahnya.

Baca Juga: Rekam Jejak AKBP Ardian Satrio Utomo, Hanya 20 Hari Lebih Pimpin Polres Sukabumi Kota

Hingga kini, Jembatan Kuning Bagbagan masih berdiri kokoh, menjadi saksi bisu lalu lalang kendaraan, sekaligus menyimpan cerita misteri yang kerap membuat bulu kuduk berdiri saat malam tiba.

 

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT