SUKABUMIUPDATE.com - Dalam kehidupan modern yang semakin cepat dan kompleks, tekanan sosial sering kali hadir tanpa disadari. Meskipun terlihat sederhana atau biasa terjadi sehari-hari, tekanan-tekanan ini bisa menumpuk dan berdampak signifikan terhadap kesehatan mental seseorang. Stres yang berkelanjutan tidak hanya mempengaruhi perasaan, tetapi juga kemampuan berpikir, hubungan sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Berikut adalah tujuh bentuk tekanan sosial yang sering dianggap sepele, padahal berpotensi mempengaruhi kesehatan mental secara serius:
1. Tuntutan Prestasi Akademik dan Sosial
Tekanan untuk selalu berprestasi baik di sekolah, kuliah, maupun kehidupan profesional bisa menjadi beban yang signifikan. Di kalangan siswa dan mahasiswa, tuntutan akademik seperti tugas yang menumpuk, ujian yang padat, atau ekspektasi untuk mendapatkan nilai tinggi dapat memicu stres berat, kecemasan, hingga gangguan tidur.
2. Ekspektasi Lingkungan terhadap Peran Sosial
Perasaan harus memenuhi ekspektasi dari keluarga, teman, atau masyarakat sering membuat seseorang terus-menerus merasa belum cukup baik. Tekanan ini bisa muncul dari standar sukses yang tinggi, tuntutan untuk selalu tampil kuat, atau harapan sosial tertentu yang belum tentu sesuai dengan keinginan pribadi.
Baca Juga: Waspada! 7 Bahaya Game Online terhadap Kesehatan Mental dan Psikis Anak
3. Tekanan Media Sosial dan Perbandingan Diri
Meski media sosial menyediakan ruang untuk koneksi, banyak studi menunjukkan bahwa penggunaan platform digital secara intens dapat memperburuk kecemasan dan perasaan tidak cukup. Interaksi yang terus-menerus di media sosial seringkali memicu perbandingan sosial, di mana seseorang membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna.
4. Kurangnya Dukungan Emosional
Interaksi sosial yang minim atau tidak memuaskan dapat menyebabkan rasa kesepian dan isolasi. Ketika seseorang merasa tidak didengar atau tidak memiliki tempat untuk berbagi perasaan, tekanan emosional yang ringan pun dapat berubah menjadi beban mental yang berat.
5. Dinamika Keluarga yang Kompleks
Hubungan keluarga yang tegang atau konflik internal bisa menciptakan tekanan sosial yang berkepanjangan. Dikutip dari berbagai sumber menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak stabil sering mengalami kecemasan, rendah diri, dan kesulitan berkonsentrasi yang semuanya dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka.
6. Kekhawatiran tentang Masa Depan
Ketidakpastian mengenai pekerjaan, keuangan, dan peran sosial di masa depan dapat menjadi beban mental serius. Banyak generasi muda menghadapi tekanan untuk merencanakan masa depan secara sempurna, yang sering kali menciptakan perasaan takut gagal atau tidak siap menjalani hidup dewasa.
7. Stigma dan Ketidaknyamanan dalam Mencari Bantuan
Meskipun telah berkembang pemahaman tentang kesehatan mental, stigma masih ada di masyarakat. Banyak orang merasa malu atau takut dianggap lemah jika berbicara tentang tekanan emosional atau mencari bantuan profesional. Ketidakmampuan untuk membuka diri justru dapat memperburuk kondisi mental seseorang karena beban terus tertahan.
Faktor sosial seperti tekanan untuk berprestasi, tuntutan lingkungan, dan interaksi yang tidak sehat bisa memicu stres kronis jika tidak dikelola dengan baik. Stres yang berlangsung lama dapat memicu gangguan mental seperti kecemasan, depresi, atau gangguan suasana hati lainnya terlebih jika tidak terdapat dukungan sosial atau strategi koping yang efektif.
Dikutip dari Rsrw Menurut Kemenkes dan WHO, keadaan sosial dan ekonomi serta lingkungan hidup seseorang berperan besar dalam mempengaruhi kesehatan jiwa.
Baca Juga: 7 Ciri-Ciri Orang Berjiwa Visioner, Kamu Termasuk?
Sumber: Berbagai sumber
Editor : Silvi Maharani