SUKABUMIUPDATE.com - Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Nusantara punya berbagai tradisi unik menyambut datangnya bulan penuh berkah. Salah satu yang paling dikenal di masyarakat Sunda, Jawa Barat adalah tradisi Munggahan sebuah ritual yang bukan hanya soal makanan, tapi juga persiapan batin, silaturahmi, dan doa bersama.
Asal Usul dan Makna Tradisi Munggahan
Kata Munggahan berasal dari bahasa Sunda unggah atau munggah yang berarti naik atau meningkat. Secara filosofis, tradisi ini melambangkan transisi spiritual dari kehidupan biasa menuju fase ibadah yang lebih tinggi di bulan Ramadan. Bukan sekadar ritual sosial, Munggahan juga punya makna:
- Persiapan spiritual sebelum puasa dimulai, agar hati dan niat lebih bersih.
- Ungkapan syukur atas nikmat umur dan kesehatan sehingga masih bisa bertemu Ramadan.
- Pembersihan hubungan antarmanusia, lewat saling memaafkan agar ibadah selama Ramadan lebih khusyuk.
- Penguatan silaturahmi, karena berkumpul dengan keluarga dan kerabat jadi sarana mempererat hubungan.
Baca Juga: 50 Kata-Kata Islami Menyambut Bulan Suci Ramadan Penuh Makna dan Doa
Aktivitas dalam Tradisi Munggahan
Munggahan biasa dilakukan di akhir bulan syaban sebelum datangnya bulan ramadan,. Meski bentuknya bisa sedikit berbeda antar daerah, secara umum tradisi ini diisi dengan beberapa kegiatan khas berikut:
1. Makan Bersama (Botram / Liwetan)
Makan bersama keluarga, tetangga, dan kerabat menjadi inti acara. Hidangan khas seperti nasi liwet, ikan asin, lalapan, sambal, tahu-tempe goreng, serta lauk-pauk lainnya disantap bersama di atas alas daun atau tikar. Aktivitas ini bukan sekadar makan, tetapi simbol kebersamaan dan memupuk rasa syukur.
2. Salam-Salaman dan Memaafkan
Munggahan sering dimanfaatkan sebagai momen untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan antara keluarga, tetangga, dan sahabat sebelum memasuki bulan puasa. Hal ini mencerminkan nilai pembersihan hati dan hubungan manusia yang lebih baik.
3. Doa Bersama
Doa kolektif mengiringi rangkaian munggahan. Umat berkumpul untuk berdoa agar ibadah puasa selama Ramadan berjalan lancar dan penuh berkah mencakup doa keselamatan, kesehatan, dan ampunan.
4. Ziarah ke Makam Leluhur
Beberapa keluarga juga melakukan ziarah kubur ke makam orang tua atau leluhur sebagai bentuk refleksi spiritual dan pengingat akan kefanaan hidup. Kegiatan ini menambah dimensi religius dalam menyambut Ramadan.
Baca Juga: Suara.com dan PLN Dorong Percepatan Transisi Energi Lewat Konferensi Media Jabar 2026
5. Membersihkan Tempat Ibadah dan Rumah
Di beberapa mayoritas, tradisi Munggahan juga melibatkan kegiatan membersihkan rumah atau tempat ibadah (masjid/musholla) sebagai simbol pembersihan lahir dan batin menyongsong bulan suci.
Selain dimensi religius, Munggahan juga punya nilai sosial yang kuat. Ini menjadi forum untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, solidaritas antar keluarga dan tetangga, serta tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Walaupun zaman berubah, tradisi munggahan tetap dilestarikan karena dianggap sebagai wadah penguatan hubungan sosial dan spiritual sebelum menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Munggahan bukan sekadar ritual makan bersama sebelum Ramadan. Ia adalah tradisi yang sarat makna berisi persiapan batin, memperbaiki hubungan sosial, bersyukur, saling memaafkan, dan mempererat ikatan keluarga atau komunitas. Lebih dari itu, tradisi ini mencerminkan bagaimana masyarakat Nusantara memadukan nilai budaya lokal dengan ajaran Islam dalam rangka menyambut bulan suci yang penuh berkah.
Baca Juga: Ramadan Bawa Berkah, Warga Pajampangan Sukabumi Kebanjiran Orderan Kelapa
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Silvi Maharani