SUKABUMIUPDATE.com - Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi periode ibadah puasa dan doa, tetapi juga dipenuhi dengan tradisi-tradisi unik yang mencerminkan budaya, solidaritas, dan kegembiraan umat Muslim di berbagai belahan dunia. Tradisi-tradisi ini muncul dari akar budaya masing-masing komunitas namun memiliki satu tujuan bersama: menyambut Ramadan dengan semangat kebersamaan dan syukur.
Berikut adalah 10 tradisi unik menyambut Ramadan yang menarik untuk diketahui:
1. Munggahan - Indonesia
Di Indonesia, terutama di Jawa Barat, umat Muslim memiliki tradisi munggahan, yaitu berkumpul bersama keluarga atau tetangga sebelum Ramadan untuk makan bersama dan saling memaafkan. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk pemantapan silaturahmi sebelum memasuki bulan suci.
2. Padusan - Indonesia
Sebelum Ramadan dimulai, sebagian masyarakat Jawa melakukan padusan mandi di sumber air atau sungai untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual. Kegiatan ini simbolik untuk menyambut Ramadan dalam keadaan yang bersih lahir batin.
Baca Juga: Tak Hanya Manis, Ini Manfaat Madu untuk Kesehatan Tubuh dan Kecantikan
3. Fanous - Mesir dan Arab
Fanous adalah lentera warna-warni yang menjadi simbol Ramadan di Mesir dan negara Arab lain. Lentera ini muncul sejak era Fatimiyah dan sekarang menghiasi rumah, jalan, dan pasar menjelang Ramadan, menciptakan suasana penuh cahaya dan kegembiraan.
4. Mesaharaty / Nafar - Timur Tengah & Afrika Utara
Tradisi Mesaharaty atau Nafar adalah panggilan sahur tradisional di mana seseorang berjalan keliling kampung sambil mengetuk alat musik atau meniup terompet untuk membangunkan warga agar sahur tepat waktu sebelum fajar. Tradisi ini masih bertahan di negara-negara seperti Mesir, Maroko, dan Turki.
5. Iftar Cannon - Timur Tengah & Balkan
Di beberapa negara seperti Lebanon dan Bosnia, tradisi Iftar Cannon dilakukan dengan menembakkan meriam pada waktu Maghrib untuk menandai waktu berbuka puasa. Awalnya ini adalah cara lama untuk memberi tahu masyarakat tentang waktunya berbuka.
Baca Juga: Bukan Sekadar Makan Bersama, Ini Makna Tradisi Munggahan Jelang Ramadan
6. Haq Al Laila - Uni Emirat Arab dan Teluk
Sekitar 15 hari sebelum Ramadan, anak-anak di UEA dan beberapa negara Teluk merayakan tradisi Haq Al Laila. Mereka memakai pakaian tradisional dan berjalan dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan permen dan kacang sambil bernyanyi, sebagai simbol kegembiraan menyambut Ramadan.
7. Gargee’an / Garangao / Qaranqasho - Teluk Arab
Variasi dari tradisi anak-anak berkeliaran untuk mendapatkan manisan, dikenal juga dengan nama Gargee’an, Garangao, atau Qaranqasho di negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman. Anak-anak bernyanyi dan menerima hadiah dari tetangga mereka pada pertengahan Ramadan.
8. Nyekar - Indonesia
Dalam beberapa daerah Indonesia, seperti Jawa dan sekitarnya, masyarakat melakukan tradisi nyekar (ziarah kubur) ke makam leluhur sebelum Ramadan. Ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah tiada dan refleksi spiritual sebelum bulan ibadah.
9. Mheibes - Irak
Mheibes adalah permainan tradisional yang dimainkan setelah berbuka puasa di Irak. Dua kelompok saling menyembunyikan sebuah cincin dan pihak lawan harus menebak di tangan siapa cincin itu berada. Permainan ini memperkuat nuansa kebersamaan antar komunitas.
Baca Juga: 50 Kata-Kata Islami Menyambut Bulan Suci Ramadan Penuh Makna dan Doa
10. Table of Mercy / Mawaeed Al-Rahman - Afrika Utara
Di negara-negara seperti Maroko dan Mesir, masyarakat menyelenggarakan Tables of Mercy yaitu meja panjang di ruang publik yang menyediakan makanan iftar gratis untuk siapa saja, terutama mereka yang kurang mampu. Tradisi ini mencerminkan semangat berbagi dan solidaritas sosial selama Ramadan.
Beragam tradisi menyambut Ramadan, dari Munggahan hingga Fanous, menunjukkan bahwa bulan suci ini selalu hadir dengan semangat kebersamaan dan nilai budaya yang kuat. Meski berbeda di tiap daerah, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempersiapkan diri lahir dan batin agar Ramadan dijalani dengan lebih khusyuk dan penuh berkah.
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Silvi Maharani