Sukabumi Update

Jabatan Tinggi Bukan Lagi Impian, Generasi Muda Pilih Karier yang Manusiawi

Ilustrasi Generasi Z dan milenial memilih keseimbangan hidup dibanding karir | Foto : Pexel

SUKABUMIUPDATE.com - Persepsi generasi muda terhadap kesuksesan karier kian bergeser. Jabatan tinggi yang dulu dianggap sebagai puncak pencapaian, kini tak lagi menjadi impian utama, seiring semakin banyak anak muda memilih jalur karier yang lebih manusiawi, seimbang, dan selaras dengan nilai kehidupan pribadi.

Mengutip dari Yoursay.id, bagi Generasi Z dan milenial, karier tidak lagi dimaknai sebagai perjalanan linear menuju jabatan tinggi. Sebaliknya, keseimbangan hidup, kestabilan penghasilan, serta kesehatan mental kini menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah kerja dan masa depan.

Perubahan orientasi ini tergambar dalam Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey yang melibatkan lebih dari 23.000 responden global, termasuk 535 responden dari Indonesia. Survei tersebut menunjukkan generasi muda Indonesia semakin kritis dalam memaknai pekerjaan, tidak lagi semata-mata mengejar status atau titel jabatan.

Baca Juga: Hadapi Real Sociedad, Real Madrid Enggan Kehilangan Momen untuk Salip Barcelona

Stabilitas Finansial Tetap Jadi Prioritas

Meski jabatan tinggi tak lagi menjadi tujuan utama, kebutuhan ekonomi tetap menempati posisi teratas. Survei mencatat 34 persen Gen Z dan 33 persen milenial Indonesia menempatkan stabilitas finansial sebagai tujuan karier paling penting saat ini.

Angka tersebut mencerminkan realitas generasi muda yang tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, meningkatnya biaya hidup, serta pengalaman pandemi yang meninggalkan dampak jangka panjang. Keamanan finansial dipandang sebagai fondasi sebelum mempertimbangkan ambisi karier lainnya.

Namun, orientasi pada stabilitas ini tidak otomatis berbanding lurus dengan keinginan menduduki posisi manajerial. Sejumlah kajian ketenagakerjaan menunjukkan banyak pekerja muda justru menghindari jabatan struktural karena dinilai membawa beban kerja berlebih dan menggerus ruang personal.

Baca Juga: Jelang Rukyat Hilal 1 Ramadan 1447 H, DHR Sukabumi Siagakan Sejumlah Alat di POB Cibeas

Jabatan Atasan Tak Lagi Simbol Sukses

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z cenderung memandang posisi atasan bukan lagi simbol keberhasilan mutlak. Muncul tren yang kerap disebut sebagai “karier minimalis”, yakni pandangan bahwa pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang memberi kendali atas waktu, lokasi, dan ritme hidup.

Pilihan ini juga tercermin dari rendahnya minat menjadikan dampak sosial sebagai prioritas utama karier. Survei menunjukkan hanya 8 persen Gen Z dan 5 persen milenial yang memprioritaskan kontribusi sosial dalam pekerjaan mereka. Bagi mayoritas responden, pemenuhan kebutuhan pribadi dan keseimbangan hidup masih dianggap lebih mendesak.

Work-Life Balance Jadi Tolak Ukur

Bagi generasi muda, work-life balance tidak lagi dimaknai sebatas jam kerja yang pasti. Mereka menuntut pekerjaan yang memungkinkan pengembangan diri, menjaga kesehatan mental, serta memberi ruang bagi kehidupan di luar pekerjaan.

Tekanan kerja yang terlalu menyita waktu pribadi menjadi salah satu faktor utama menurunnya kepuasan kerja. Banyak responden menyatakan lebih memilih pekerjaan dengan tanggung jawab moderat namun stabil, dibanding jabatan tinggi dengan ekspektasi berlebihan.

Baca Juga: 164 Ribu Peserta PBI Nonaktif, Bupati Sukabumi Pastikan Warga Tetap Dilayani di RS

Kesenjangan Dukungan dari Pimpinan

Isu lain yang mengemuka adalah hubungan antara pekerja muda dan atasan. Sekitar 72 persen Gen Z dan 71 persen milenial berharap mendapatkan dukungan, bimbingan, dan arahan nyata dari pimpinan mereka. Namun dalam praktiknya, hanya sekitar 52 persen yang benar-benar merasakan dukungan tersebut.

Kesenjangan ini menunjukkan masih kuatnya pola manajerial lama yang berfokus pada target dan teknis, namun minim peran sebagai mentor. Akibatnya, tidak sedikit pekerja muda merasa harus mengembangkan kariernya secara mandiri tanpa arahan yang jelas.

Tantangan Baru Dunia Kerja

Pergeseran orientasi Gen Z dan milenial menjadi sinyal penting bagi dunia kerja di Indonesia. Jabatan tinggi tidak lagi otomatis menjadi daya tarik, sementara lingkungan kerja yang manusiawi justru semakin bernilai.

Temuan survei **Deloitte** ini menegaskan bahwa generasi muda tidak menolak kerja keras, melainkan menolak kerja yang mengorbankan kehidupan pribadi dan kesehatan mental. Dunia kerja Indonesia kini dihadapkan pada tantangan baru: menyesuaikan sistem dan budaya lama dengan nilai generasi yang menuntut keseimbangan, makna, dan kendali atas hidupnya sendiri.

Sumber :   yoursay.id

Editor : Syamsul Hidayat

Tags :
BERITA TERKAIT