SUKABUMIUPDATE.com - Ibu tiri kerap dipersepsikan sebagai sosok yang kurang penyayang, tidak baik hati, bahkan tidak disukai. Dalam banyak anggapan, ibu tiri digambarkan lebih kejam, tidak adil, dan penuh kebencian.
Kekerasan terhadap anak oleh orang tua tiri merupakan persoalan global yang kompleks. Diperkirakan jutaan anak di seluruh dunia mengalami kekerasan, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungannya.
Dikutip dari berbagai sumber, berbagai penelitian menyebutkan bahwa anak-anak yang tinggal dalam keluarga tiri memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap kekerasan. Salah satu penyebabnya adalah tantangan dalam membangun ikatan emosional yang kuat dengan anggota keluarga non-biologis.
Bias terhadap keluarga tiri bahkan tercermin dalam bahasa. Kata “step” dalam “stepmother” berasal dari bahasa Inggris Kuno “steop”, yang bermakna kehilangan atau kekurangan. Dalam percakapan sehari-hari pun, istilah “anak tiri” sering digunakan sebagai metafora untuk sesuatu yang diperlakukan lebih rendah atau tidak diutamakan.
Baca Juga: Ini Lokasi Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 di Kabupaten Sukabumi, Lengkap!
Meski keluarga tiri memang menghadapi tantangan dan potensi konflik yang dapat memperkuat stereotipe tersebut, tidak ada bukti yang secara mutlak mendukung gambaran karikatural tentang “ibu tiri jahat”.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Violence and Victims (2004) menunjukkan bahwa ayah tiri delapan kali lebih mungkin membunuh anak yang berada dalam pengasuhannya dibandingkan orang tua kandung. Sementara itu, ibu tiri tercatat tiga kali lebih mungkin melakukan hal yang sama.
Beberapa orang tua tiri mungkin tidak merasakan keterikatan emosional yang sama terhadap anak pasangan mereka seperti terhadap anak kandung sendiri. Ada pula yang membawa persoalan yang belum terselesaikan dari hubungan sebelumnya ke dalam keluarga baru. Faktor-faktor ini dapat berkontribusi pada disfungsi keluarga tiri dan meningkatkan risiko terjadinya kekerasan (Debowska et al., 2020).
Efek Cinderella
Kekerasan dalam keluarga tiri mengingatkan pada satu fenomena. Dimana fenomena ini dikenal sebagai Efek Cinderella, istilah yang merujuk pada tokoh ibu tiri dalam dongeng klasik Cinderella. Dalam film tersebut, Lady Tremaine digambarkan memperlakukan putri tirinya dengan kejam dan memaksa melakukan pekerjaan rumah yang berat, sembari memanjakan anak kandungnya sendiri.
Istilah Efek Cinderella diperkenalkan oleh profesor psikologi evolusioner asal Kanada, Martin Daly, yang mulai meneliti fenomena ini pada 1970-an.
Kasus di Sukabumi: Berkaca dari kasus kekerasan terhadap anak juga terjadi di Kabupaten Sukabumi. Seorang anak berinisial NS (13), warga Jampangkulon, diduga mengalami kekerasan oleh ibu tirinya selama bertahun-tahun hingga berujung kematian.
Baca Juga: 26 Lokasi Penukaran Uang Baru Lebaran 2026 di Kota Sukabumi, Lengkap dengan Jadwalnya
Kapolres Sukabumi, Samian, menyatakan bahwa dugaan kekerasan tersebut telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Pada 4 November 2024, sempat ada laporan yang diproses oleh kepolisian, namun kasus tersebut berakhir dengan perdamaian.
Berdasarkan hasil penyidikan, korban diduga mengalami berbagai bentuk kekerasan, seperti dijewer, ditampar, hingga dicakar selama tinggal bersama tersangka. Polisi juga masih mendalami dugaan kekerasan terbaru, termasuk informasi bahwa korban dipaksa meminum air panas.
Saat ini, TR (47), ibu tiri korban, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sukabumi dalam kasus dugaan kekerasan yang berujung pada kematian korban. Kapolres Samian menegaskan bahwa tersangka diduga melakukan kekerasan fisik maupun psikis terhadap korban.
Dalam psikologi evolusioner, Efek Cinderella merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena meningkatnya insiden pelecehan dan perlakuan buruk terhadap anak oleh orang tua tiri dibandingkan oleh orang tua biologis.
Istilah ini diambil dari tokoh dalam dongeng klasik Cinderella, yang juga diadaptasi dalam film Cinderella, tentang seorang gadis yang diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan saudara tirinya.
Para psikolog evolusioner menjelaskan bahwa efek ini dipandang sebagai produk sampingan dari kecenderungan alami untuk lebih memihak keluarga biologis. Fenomena tersebut juga dikaitkan dengan potensi konflik dalam hubungan pasangan, terutama ketika salah satu atau kedua pihak berinvestasi dalam pengasuhan anak yang tidak memiliki hubungan darah langsung dengan mereka.
Cara Mencegah dan Mengatasi Kekerasan dalam Keluarga Tiri
Keberhasilan pengasuhan anak sangat dipengaruhi oleh penerapan pola asuh yang positif. Pola asuh ini menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan kerja sama yang baik antara seluruh pengasuh, baik orang tua biologis maupun orang tua tiri, guna menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan seimbang bagi anak.
Anak memang perlu menjaga hubungan yang kuat dengan orang tua biologis maupun orang tua tiri. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kedekatan dengan orang tua biologis tidak selalu mampu menurunkan tingkat depresi apabila hubungan dengan orang tua tiri justru renggang atau dipenuhi konflik.
Orang tua tiri juga perlu memberi waktu bagi diri mereka sendiri untuk beradaptasi dengan peran baru. Proses membangun kedekatan dengan anak tiri sebaiknya dilakukan secara bertahap, dengan pendekatan yang sabar dan konsisten.
Ketika anak menghadapi perubahan lingkungan dan struktur keluarga, mereka membutuhkan bimbingan, rasa aman, dan dukungan emosional yang memadai.
Apabila wali atau orang tua mengalami kesulitan dalam proses penyesuaian tersebut, mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat untuk membantu keluarga menemukan pola interaksi yang lebih sehat dan mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Sumber: Berbagai Sumber
Editor : Ikbal Juliansyah