SUKABUMIUPDATE.com – Pada Sabtu, 21 Maret 2026, mayoritas umat Muslim di Indonesia diperkirakan akan merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dalam momen tersebut, terdapat salah satu ibadah sunnah yang hampir selalu dilaksanakan setiap tahun, yaitu shalat Id.
Shalat Idul Fitri merupakan amalan yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi umat Islam. Ibadah ini telah disyariatkan sejak tahun kedua Hijriah dan senantiasa dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW sepanjang hidupnya. Hingga kini, tradisi tersebut terus dilestarikan oleh umat Islam di berbagai belahan dunia.
Dari segi syarat dan rukun, shalat Idul Fitri pada dasarnya sama seperti shalat wajib lima waktu. Namun, terdapat beberapa sunnah tambahan dalam pelaksanaannya, seperti takbir tambahan di setiap rakaat. Waktu pelaksanaan shalat ini dimulai setelah matahari terbit hingga menjelang masuk waktu Zuhur.
Perlu diketahui, terdapat perbedaan anjuran waktu antara shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Idul Adha dianjurkan untuk dilaksanakan lebih awal agar memberi kesempatan bagi umat Islam menunaikan ibadah kurban. Sementara itu, shalat Idul Fitri dianjurkan sedikit diakhirkan untuk memberi waktu bagi umat Muslim yang belum menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan shalat.
Berikut ini tata cara pelaksanaan shalat Idul Fitri yang dirangkum dari NU Online.
1. Niat Shalat Idul Fitri
Shalat dimulai dengan niat dalam hati, bersamaan dengan takbiratul ihram (mengucapkan Allahu Akbar). Sebaiknya niat ini juga dilafalkan sebelum memulai shalat. Berikut lafal niatnya:
Lafal Arab:
أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَــالَى
Latin:
"Ushallî sunnatan li ‘îdil fithri rak‘ataini ma’mûman (atau ‘imâman’ jika menjadi imam) lillâhi ta’âlâ."
Artinya:
"Aku berniat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat (sebagai makmum/imam) karena Allah Ta’ala."
2. Takbir Tambahan dan Doa
Setelah membaca doa iftitah, disunnahkan untuk melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali. Di sela-sela setiap takbir, dianjurkan membaca doa berikut:
Bacaan Pilihan 1:
اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Latin:
"Allâhu akbar kabîran, wal ḫamdulillâhi katsîran, wa subḫânallâhi bukratan wa ashîla."
Artinya:
"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang."
Bacaan Pilihan 2:
سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ
Latin:
"Subḫânallâhi wal ḫamdulillâhi wa lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar."
Artinya:
"Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar."
3. Membaca Al-Fatihah dan Surat Pendek
Setelah takbir, dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah, kemudian dianjurkan membaca surat Al-A’la. Setelah itu, shalat dilanjutkan seperti biasa, yaitu ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, hingga kembali berdiri untuk rakaat kedua.
4. Rakaat Kedua dan Takbir Tambahan
Pada rakaat kedua, setelah takbir untuk berdiri, disunnahkan untuk melakukan takbir tambahan sebanyak lima kali, seperti pada rakaat pertama. Kemudian membaca surat Al-Fatihah, diikuti dengan surat Al-Ghasiyah. Shalat dilanjutkan seperti biasa hingga tahiyat akhir dan salam.
5. Mendengarkan Khutbah
Setelah selesai shalat, jamaah dianjurkan untuk tetap duduk dan mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Sebaiknya tidak langsung meninggalkan tempat, karena khutbah merupakan bagian dari kesempurnaan pelaksanaan shalat Idul Fitri.
Dengan mengikuti tata cara ini, umat Islam dapat melaksanakan shalat Idul Fitri sesuai sunnah dan meraih keberkahan di hari yang fitri.
Editor : Ikbal Juliansyah