SUKABUMIUPDATE.com - Wanci dalam budaya Sunda penanda waktu yang didasarkan pada fenomena alam, seperti suara ayam, posisi matahari, embun, sinar matahari dan lainnya. Jadi masyarakat Sunda menandai waktu tidak dengan hitungan jam seperti yang dikenal luas.
Dalam sehari atau 24 jam dibagi menjadi 4 kelompok besar yakni wanci isuk (pagi), beurang (siang), burit (sore) dan peuting (malam). Nah, jika sebelumnya kita sudah membahas mengenai wanci isuk atau waktu pagi hari, sekarang kita akan membahas waktu siang hingga sore menjelang malam.
Istilah ini menggambarkan harmoni manusia dengan alam yang dianut masyarakat Sunda. Waktu siang dimulai dari wanci manceran atau saat matahari tepat berada di tengah-tengah.
Baca Juga: Kesenian Sunda Paling Populer, Kaceluk ka Awun-awun Kawentar ka Janapria
Berikut adalah urutan Wanci siang hingga sore dalam budaya Sunda.
- Wanci manceran/tengah poé (pukul 12.00), saat posisi matahari berada di atas ubun-ubun atau tengah hari.
- Wanci lingsir ngulon (pukul 14.00), saat matahari mulai tergelincir ke arah barat.
- Wanci panonpoé satungtung (pukul 15.00), saat bayangan benda atau manusia sama sama panjangnya dengan benda atau manusia itu sendiri.
- Wanci tunggang gunung (pukul 16.00-17.00), saat matahari mulai terbenam dan berada di atas bukit.
- Wanci sariak layung (pukul 17.00-18.00), saat matahari sudah terbenam namun sinarnya masih terang di langit.
- Wanci érang-érang (pukul 17.30-18.00), saat cahaya matahari sudah tidak menyorot lagi ke langit tapi kondisi masih cukup terang.
Baca Juga: Pembagian Waktu Pagi dalam Budaya Sunda, Wanci Hayam Kongkorongok Sampai Peucat Saweud
Itulah pembagian wanci beurang atau waktu siang hingga sore dalam budaya Sunda. Wanci siang hingga sore dalam budaya Sunda sangat menghargai suasana alam, sering dikaitkan dengan kondisi matahari.
Editor : Dede Imran