Sukabumi Update

20 Paribasa Sunda untuk Menyindir Orang Malas, Lengkap dengan Artinya

Ilustrasi - Paribasa Sunda untuk Menyindir Orang Malas (Sumber : Sora)

SUKABUMIUPDATE.com - Bahasa Sunda dikenal kaya akan ungkapan bijak yang sarat makna, salah satunya adalah paribasa Sunda. Ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai nasihat, tetapi juga sering digunakan untuk menyampaikan kritik secara halus, termasuk untuk menyindir perilaku seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sunda kerap menggunakan paribasa Sunda untuk menyindir orang malas tanpa harus berbicara secara langsung atau menyinggung perasaan. Cara ini dinilai lebih sopan dan penuh makna, karena pesan yang disampaikan tetap sampai namun dibalut dengan bahasa yang halus.

Menariknya, banyak paribasa Sunda yang secara khusus menggambarkan sifat malas, baik dalam bekerja, belajar, maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Ungkapan-ungkapan ini biasanya menggunakan perumpamaan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan mudah dipahami.

Baca Juga: 14 Istilah Anggota Tubuh Hewan dalam Bahasa Sunda, Pamatuk Soang

Nah, berikut ini kumpulan paribasa Sunda yang bisa digunakan untuk menyindir atau menegur orang malas tapi tidak secara langsung.

  1. Hoream gawe, hayang beunghar
    Arti: Malas bekerja, tapi ingin kaya
    Makna: Menyindir orang yang tidak mau berusaha, namun memiliki keinginan besar untuk mendapatkan hasil yang instan.
  2. Ngadagoan kajeun, teu daék usaha
    Arti: Menunggu saja tanpa mau berusaha
    Makna: Ditujukan kepada orang yang hanya berharap tanpa melakukan tindakan nyata.
  3. Loba catur, saeutik gawe
    Arti: Banyak bicara, sedikit bekerja
    Makna: Menggambarkan orang yang lebih suka berbicara daripada bertindak.
  4. Ngareunahkeun awak, mopohokeun kawajiban
    Arti: Mementingkan kenyamanan diri, melupakan kewajiban
    Makna: Sindiran untuk orang yang malas karena terlalu menikmati kenyamanan.
  5. Teu daék capé, hayang hasil
    Arti: Tidak mau lelah, tapi ingin hasil
    Makna: Menyindir orang yang ingin sukses tanpa proses.
  6. Kawas kuya dina tampurung
    Arti: Seperti kura-kura di dalam tempurung
    Makna: Menggambarkan orang yang malas bergerak dan tidak mau berkembang.
  7. Ngalamun bae, teu puguh gawena
    Arti: Hanya melamun, tidak jelas pekerjaannya
    Makna: Sindiran untuk orang yang tidak produktif dan suka bermalas-malasan.
  8. Cicing baé kawas batu
    Arti: Diam saja seperti batu
    Makna: Menyindir orang yang pasif dan tidak mau bergerak atau berusaha.
  9. Nya ngadagoan hujan emas
    Arti: Menunggu hujan emas
    Makna: Menggambarkan orang yang hanya berharap sesuatu yang tidak pasti tanpa usaha.
  10. Gawé ukur lamun dipaksa
    Arti: Bekerja hanya kalau dipaksa
    Makna: Ditujukan untuk orang yang tidak memiliki inisiatif.
  11. Kawas hayam teu paranti ngais
    Arti: Seperti ayam yang tidak mau mengais
    Makna: Sindiran untuk orang yang malas mencari rezeki.
  12. Ngahaja teu puguh gawéna
    Arti: Sengaja tidak jelas pekerjaannya
    Makna: Menggambarkan orang yang bermalas-malasan tanpa arah.
  13. Nya ukur ngagoler baé
    Arti: Hanya berbaring saja
    Makna: Menyindir orang yang terlalu malas untuk melakukan aktivitas.
  14. Kawas kai teu boga rasa
    Arti: Seperti kayu yang tidak punya rasa
    Makna: Orang yang tidak peduli dan cenderung malas dalam bertindak.
  15. Gawé sakahayang, teu puguh hasil
    Arti: Bekerja seenaknya, hasilnya tidak jelas
    Makna: Menyindir orang yang tidak serius dalam bekerja.
  16. Ngadagoan batur, teu daék ngamimitian
    Arti: Menunggu orang lain, tidak mau memulai
    Makna: Orang yang malas mengambil inisiatif.
  17. Leungeun teu kaambeu gawe
    Arti: Tangan tidak tersentuh pekerjaan
    Makna: Menggambarkan orang yang benar-benar tidak pernah bekerja.
  18. Lila mikir, teu kungsi ngalakukeun
    Arti: Lama berpikir, tidak pernah bertindak
    Makna: Sindiran untuk orang yang terlalu banyak rencana tanpa aksi.
  19. Ngahakan waktu ku teu puguh
    Arti: Menghabiskan waktu tanpa arah
    Makna: Orang yang malas dan tidak produktif.
  20. Teu daék obah, hayang robah
    Arti: Tidak mau bergerak, tapi ingin berubah
    Makna: Menyindir orang yang ingin perubahan tanpa usaha.

Baca Juga: Sing Puriding Cerpen Sunda: Sandekala di Leuweung Hideung, Bagian ka 1

Itulah beberapa contoh paribasa Sunda tentang malas yang bisa kamu gunakan untuk menyindir secara halus namun bermakna. Selain menambah wawasan, memahami paribasa juga membantu kita berkomunikasi dengan lebih bijak dan berbudaya.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT