SUKABUMIUPDATE.com - Bahasa Sunda dikenal kaya akan ungkapan bijak yang sarat makna, salah satunya adalah paribasa Sunda. Ungkapan ini tidak hanya berfungsi sebagai nasihat, tetapi juga sering digunakan untuk menyampaikan kritik secara halus, termasuk untuk menyindir perilaku seseorang.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sunda kerap menggunakan paribasa Sunda untuk menyindir orang malas tanpa harus berbicara secara langsung atau menyinggung perasaan. Cara ini dinilai lebih sopan dan penuh makna, karena pesan yang disampaikan tetap sampai namun dibalut dengan bahasa yang halus.
Menariknya, banyak paribasa Sunda yang secara khusus menggambarkan sifat malas, baik dalam bekerja, belajar, maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Ungkapan-ungkapan ini biasanya menggunakan perumpamaan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan mudah dipahami.
Baca Juga: 14 Istilah Anggota Tubuh Hewan dalam Bahasa Sunda, Pamatuk Soang
Nah, berikut ini kumpulan paribasa Sunda yang bisa digunakan untuk menyindir atau menegur orang malas tapi tidak secara langsung.
- Hoream gawe, hayang beunghar
Arti: Malas bekerja, tapi ingin kaya
Makna: Menyindir orang yang tidak mau berusaha, namun memiliki keinginan besar untuk mendapatkan hasil yang instan. - Ngadagoan kajeun, teu daék usaha
Arti: Menunggu saja tanpa mau berusaha
Makna: Ditujukan kepada orang yang hanya berharap tanpa melakukan tindakan nyata. - Loba catur, saeutik gawe
Arti: Banyak bicara, sedikit bekerja
Makna: Menggambarkan orang yang lebih suka berbicara daripada bertindak. - Ngareunahkeun awak, mopohokeun kawajiban
Arti: Mementingkan kenyamanan diri, melupakan kewajiban
Makna: Sindiran untuk orang yang malas karena terlalu menikmati kenyamanan. - Teu daék capé, hayang hasil
Arti: Tidak mau lelah, tapi ingin hasil
Makna: Menyindir orang yang ingin sukses tanpa proses. - Kawas kuya dina tampurung
Arti: Seperti kura-kura di dalam tempurung
Makna: Menggambarkan orang yang malas bergerak dan tidak mau berkembang. - Ngalamun bae, teu puguh gawena
Arti: Hanya melamun, tidak jelas pekerjaannya
Makna: Sindiran untuk orang yang tidak produktif dan suka bermalas-malasan. - Cicing baé kawas batu
Arti: Diam saja seperti batu
Makna: Menyindir orang yang pasif dan tidak mau bergerak atau berusaha. - Nya ngadagoan hujan emas
Arti: Menunggu hujan emas
Makna: Menggambarkan orang yang hanya berharap sesuatu yang tidak pasti tanpa usaha. - Gawé ukur lamun dipaksa
Arti: Bekerja hanya kalau dipaksa
Makna: Ditujukan untuk orang yang tidak memiliki inisiatif. - Kawas hayam teu paranti ngais
Arti: Seperti ayam yang tidak mau mengais
Makna: Sindiran untuk orang yang malas mencari rezeki. - Ngahaja teu puguh gawéna
Arti: Sengaja tidak jelas pekerjaannya
Makna: Menggambarkan orang yang bermalas-malasan tanpa arah. - Nya ukur ngagoler baé
Arti: Hanya berbaring saja
Makna: Menyindir orang yang terlalu malas untuk melakukan aktivitas. - Kawas kai teu boga rasa
Arti: Seperti kayu yang tidak punya rasa
Makna: Orang yang tidak peduli dan cenderung malas dalam bertindak. - Gawé sakahayang, teu puguh hasil
Arti: Bekerja seenaknya, hasilnya tidak jelas
Makna: Menyindir orang yang tidak serius dalam bekerja. - Ngadagoan batur, teu daék ngamimitian
Arti: Menunggu orang lain, tidak mau memulai
Makna: Orang yang malas mengambil inisiatif. - Leungeun teu kaambeu gawe
Arti: Tangan tidak tersentuh pekerjaan
Makna: Menggambarkan orang yang benar-benar tidak pernah bekerja. - Lila mikir, teu kungsi ngalakukeun
Arti: Lama berpikir, tidak pernah bertindak
Makna: Sindiran untuk orang yang terlalu banyak rencana tanpa aksi. - Ngahakan waktu ku teu puguh
Arti: Menghabiskan waktu tanpa arah
Makna: Orang yang malas dan tidak produktif. - Teu daék obah, hayang robah
Arti: Tidak mau bergerak, tapi ingin berubah
Makna: Menyindir orang yang ingin perubahan tanpa usaha.
Baca Juga: Sing Puriding Cerpen Sunda: Sandekala di Leuweung Hideung, Bagian ka 1
Itulah beberapa contoh paribasa Sunda tentang malas yang bisa kamu gunakan untuk menyindir secara halus namun bermakna. Selain menambah wawasan, memahami paribasa juga membantu kita berkomunikasi dengan lebih bijak dan berbudaya.
Editor : Dede Imran