SUKABUMIUPDATE.com - Di bagian 1 kemarin menceritakan tokoh “Ujang” yang akhirnya pulang ke rumah dan disambut ibunya yang merasa khawatir. Namun, sang ibu tahu jika sedang ada yang tidak beres dengan anaknya. Dan kali ini cerita Ujang berlanjut yang diteror sosok tak kasat mata dari “Leuweung Hideung”.
Perlu diingat jika “Sing Puriding” ini hanya cerita fiktif dan tidak juga didasarkan pada kejadian nyata, jadi murni hanya sebuah karangan belaka. Nah, untuk cerita SIng Puriding yang pertama ini, kita akan mengangkat cerita yang terinspirasi dari sebuah urban legend yang cukup terkenal di Sunda yaitu “Sandekala”.
Sandekala sendiri adalah mitos yang sudah lama menyebar dari mulut ke mulut mengenai makhluk halus atau jin yang keluar saat peralihan sore ke malam (wanci sareupna) atau saat maghrib. Sosok ini diyakini sering mengganggu anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat hari mulai gelap.
Baca Juga: Sing Puriding Cerpen Sunda: Sandekala di Leuweung Hideung, Bagian ka 1
Sandekala di Leuweung Hideung (Bagian 2)”
Sejak kejadian itu, Ujang jadi sering diam.
Ia tidak lagi main jauh. Bahkan ke kebun belakang rumah pun, ia selalu menunggu ditemani.
Tapi yang paling aneh…
Setiap menjelang Sandekala,
Ujang selalu merasa ada yang memanggil.
Pelan.
Jauh.
Tapi jelas.
“…jang…”
Awalnya ia pikir hanya perasaan.
Sampai suatu sore, saat ibunya sedang di dapur, Ujang duduk di dekat jendela.
Langit mulai redup.
Angin masuk pelan.
Dan suara itu kembali datang.
Lebih dekat dari sebelumnya.
“…Ujaaaang…”
Kali ini bukan dari luar.
Tapi seperti… dari belakang rumah.
Dekat sekali.
Tanpa sadar, Ujang berdiri.
Langkahnya pelan menuju pintu belakang.
Padahal di dalam kepalanya, ia tahu…
Ia tidak seharusnya keluar.
Pintu terbuka.
Pelan.
Berderit.
Di luar, kebun terlihat biasa saja.
Pohon pisang diam.
Tanah masih basah.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi di dekat pagar bambu…
Ada sesuatu.
Sebuah tikar.
Tergulung.
Persis seperti yang ia lihat di hutan.
Ujang tidak bergerak.
Nafasnya tertahan.
Tikar itu…
Bergeser.
Sedikit.
Seperti hidup.
Lalu berhenti.
“…jang…”
Kali ini, suaranya jelas keluar dari dalam gulungan itu.
Ujang mundur selangkah.
Tangannya gemetar.
“Ujang!”
Suara ibunya tiba-tiba memanggil dari dalam rumah.
Seketika itu juga
Tikar itu berhenti bergerak.
Diam.
Seperti benda biasa.
Ibunya keluar, melihat Ujang berdiri kaku di pintu.
“Naha? Kunaon?” (Kenapa?)
Ujang menunjuk ke arah tikar.
Tapi…
Tidak ada apa-apa di sana.
Hanya tanah kosong.
Ibunya langsung menarik Ujang masuk.
Menutup pintu rapat.
Dan kali ini, wajahnya benar-benar serius.
“Dengekeun, Jang…” (Dengerin Jang!) katanya pelan.
“Lamun aya nu nyebut ngaran maneh… ulah dibales.” (Jika ada yang memanggil namamu… jangan dijawab.)
Malam itu, Ujang tidak bisa tidur.
Angin terdengar lebih kencang.
Dan dari sudut kamar…
Ia merasa ada sesuatu yang menunggu.
Tidak terlihat.
Tidak bergerak.
Tapi… ada.
Sejak saat itu, orang-orang kampung mulai percaya…
Bahwa apa yang Ujang temui di leuweung bukan sekadar Lulun Samak biasa.
Melainkan sesuatu yang…
Sudah mengikuti.
Dan yang paling ditakuti bukan saat melihatnya…
Tapi saat…
ia mulai mengenal namamu.
Lanjut bagian 3.
Editor : Dede Imran