Sukabumi Update

6 Pamali yang Dulu Bikin Takut Tapi Sekarang Bikin Paham, Ada yang Masih Ingat?

Ilustrasi - Mungkin sekarang kita sudah tidak lagi takut dengan pamali karena kita punya logika, punya penjelasan. Tapi ada satu hal yang tidak berubah yaitu niat di baliknya. (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Bagi anak-anak Sunda dulu pasti sering dengar pamali yang dirasa menyeramkan dan bikin takut. Kalau dilanggar, katanya bisa ada yang “mengikuti”, atau sesuatu yang tidak terlihat jadi ikut hadir.

Waktu kecil, kita tidak berani melanggar. Bukan karena mengerti, tapi karena takut. Namun sekarang, saat dewasa kita mulai bertanya apakah itu benar-benar mistis, atau sebenarnya ada makna lain di baliknya?

Nah, berikut ini beberapa contoh pamali yang bikin kita takut waktu kecil, tapi sekarang tahu alasan dan manfaatnya untuk kita waktu itu.

Baca Juga: Pamali Sunda: Antara Mitos dan Makna yang Tersembunyi, Pamali Apa Yang Paling Diingat?

1. Pamali Kaluar Waktu Maghrib

Dilarang keluar saat maghrib yang katanya nanti bisa “kaganggu” atau”bisi aya nu nuturkeun” (nanti ada yang ngikutin). Namun, jika dipikir lagi, waktu menjelang malam itu waktu rawan karena gelap mulai turun, banyak hewan yang aktif di waktu malam mulai keluar. Jadi, anak-anak harus sudah di rumah agar tetap aman.

2. Pamali Nyebut Ngaran di Tempat Sepi

Jangan sembarangan menyebut nama di hutan atau tempat sunyi karena katanya bisa “dipanggil balik” atau ada yang menjawab. Padahal hal tersebut tidak boleh dilakukan untuk menjaga sikap di tempat yang asing dan kita tidak boleh sembarangan berbicara. Jadi Ini lebih soal kehati-hatian dan rasa hormat.

3. Pamali Seuri Kaleuleuwihi Peuting

Jangan tertawa berlebihan di malam hari karena katanya bisa “ngondang nu teu katingali” (mengundang yang tidak terlihat). Padahal hal itu berfungsi untuk menjaga ketenangan lingkungan dan menghormati waktu istirahat orang lain.

Baca Juga: 6 Cara Orang Sunda Memandang Hidup: Pelan dan Penuh Makna, Tapi Kini Mulai Terlupakan

4. Pamali Ulin ka Leuweung Peuting

Dilarang ke hutan malam hari karena katanya bisa “leungit jalan” atau bisa “kaganggu mahluk halus”. Padahal pergi ke hutan malam-malam tentu berbahaya karena selain potensi celakan lebih besar akibat gelap. Di hutan juga banyak hewan buas yang aktif mencari makan di malam hari.

5. Pamali Ngaganggu Tempat Sepi

Jangan berisik atau sembarangan di tempat sunyi, karena katanya tempat itu “aya nu ngajaga” (ada penjaganya). Larangan ini lebih ke menghormati tempat dan menjaga sikap sebagai salah satu bentuk etika terhadap alam.

6. Pamali Sare Sorangan di Tempat Anyar

Jangan tidur sendirian di tempat asing karena nanti bisa mimpi buruk atau bisa “kaganggu”. Ini lebih tentang rasa aman secara psikologis dan adaptasi terhadap lingkungan baru.

Yang menarik semakin kita dewasa, semakin kita sadar banyak pamali yang “dibungkus rasa takut” tapi isinya justru rasa sayang. Orang tua tidak bilang “itu berbahaya”, tapi mereka bilang “pamali”. Karena dengan satu kata itu, kita langsung berhenti dan nurut.

Mungkin sekarang kita sudah tidak lagi takut dengan pamali karena kita punya logika, punya penjelasan. Tapi ada satu hal yang tidak berubah yaitu niat di baliknya. Karena di balik setiap “pamali” selalu ada seseorang yang ingin kita tetap aman.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT