SUKABUMIUPDATE.com - Pernahkah kamu mendengar kisah cinta tragis yang tetap abadi meski berakhir memilukan? Di dunia sastra Tiongkok Kuno, terdapat satu legenda yang sangat melegenda: San Pek Eng Tay.
Cerita tentang dua insan yang bersahabat di dunia pendidikan lalu jatuh cinta namun terhalang oleh adat ini sering dijuluki sebagai "Romeo and Juliet versi Tionghoa". Lebih dari sekadar romansa, kisah ini juga memotret perjuangan seorang perempuan melawan stigma zaman.
Asal-usul Kisah San Pek Eng Tay
Legenda ini telah berusia lebih dari 1.460 tahun. Catatan sejarah tertua mengenai kisah ini ditulis oleh Zhang Du, seorang pejabat pada abad ke-11 melalui puisi berjudul Liang Zhu (梁祝). Nama tersebut diambil dari nama asli kedua tokohnya dalam bahasa Mandarin: Liang Shanbo (San Pek) dan Zhu Yingtai (Eng Tay).
Seiring berjalannya waktu, legenda ini berkembang menjadi berbagai adaptasi, mulai dari opera, film, hingga novel. Di Indonesia sendiri, kisah ini sangat populer dan kerap dipentaskan oleh kelompok teater ternama, seperti Teater Koma, yang mencerminkan betapa kuatnya pengaruh budaya ini dalam keberagaman literatur dunia.
Baca Juga: Bikin Baper! Rekomendasi Drama China tentang CEO yang Wajib Ditonton
Kisah Cinta di Balik Penyamaran
Cerita bermula dari Eng Tay, seorang gadis cerdas dari keluarga bangsawan yang memiliki tekad kuat untuk menuntut ilmu di Kota Hang-ciu. Pada zaman itu, pendidikan adalah hal yang tabu bagi perempuan. Demi impiannya, Eng Tay nekat menyamar sebagai laki-laki agar bisa belajar di sekolah.
Dalam perjalanannya menuju Hang-ciu, ia bertemu dengan San Pek, seorang pemuda santun yang memiliki tujuan serupa. Mereka pun menjadi sahabat dekat dan belajar bersama selama tiga tahun. Selama itu pula, San Pek tidak pernah menyadari bahwa sahabat terbaiknya adalah seorang perempuan.
Baca Juga: Barongsai Gie Say Ikon Sukabumi, Warisan Budaya yang Tak Ditemukan di China
Ketegangan dimulai saat Eng Tay harus pulang karena ibunya sakit. Sebelum berpisah, Eng Tay memberikan berbagai isyarat mengenai identitas aslinya dan perasaannya, namun San Pek yang polos terlambat menyadarinya.
Saat San Pek akhirnya mengetahui kebenaran dan datang melamar, Eng Tay ternyata sudah dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya. Kecewa dan patah hati, San Pek jatuh sakit hingga meninggal dunia. Mendengar kabar duka tersebut, Eng Tay yang setia meminta izin mengunjungi makam San Pek di hari pernikahannya.
Di depan makam, sebuah keajaiban terjadi: bumi merekah dan Eng Tay terjun ke dalamnya untuk bersatu dengan kekasihnya. Tak lama kemudian, dari makam tersebut muncul sepasang kupu-kupu yang terbang bersama, melambangkan persatuan cinta mereka yang abadi.
Nilai-nilai dalam Kisah San Pek Eng Tay
Legenda ini mengandung makna mendalam yang tetap relevan hingga saat ini:
- Nilai Cinta dan Kesetiaan: Menegaskan bahwa cinta sejati mampu bertahan melampaui batas waktu dan tekanan sosial.
- Emansipasi Perempuan: Perjuangan Eng Tay mengenyam pendidikan adalah simbol penolakan terhadap pembatasan gender. Ini merefleksikan semangat hak perempuan untuk menentukan nasib sendiri.
- Keberanian Melawan Norma: Perilaku Eng Tay menunjukkan bahwa kemajuan dimulai dari keberanian untuk mendobrak aturan yang mengekang.
- Pengorbanan: Cerita ini menekankan bahwa hal-hal besar dalam hidup sering kali menuntut pengorbanan pribadi yang berat.
- Refleksi Sosial Budaya: Memperlihatkan kerasnya tradisi perjodohan dan struktur sosial Tiongkok Kuno yang membatasi ruang gerak individu.
Kisah San Pek Eng Tay bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah potret tragis kehidupan yang mengajak kita berempati terhadap mereka yang terpinggirkan oleh sistem. Akhirnya, sepasang kupu-kupu itu mengingatkan kita bahwa meski raga bisa terpisahkan oleh adat, jiwa yang mencintai akan menemukan jalannya untuk bersatu.
Sumber: TIANG, O. K. 2001. SAN PEK ENG TAY: Romantika Emansipasi Seorang Perempuan. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.
Andriyanto. 2024. Kisah Sampek Engtay: Legenda Cinta Tiongkok Era Dinasti Song. Kisah Sampek Engtay: Legenda Cinta Tiongkok Era Dinasti Song
Penulis: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Editor : Denis Febrian