SUKABUMIUPDATE.com – Novel A: Aku, Benci, dan Cinta merupakan salah satu karya fiksi remaja (teenlit) populer yang lahir dari tangan sastrawan muda berbakat, Wulanfadi. Sebelum dicetak secara mayor, kisah ini awalnya meraup popularitas luar biasa di platform Wattpad dengan dibaca lebih dari 3,5 juta kali.
Menyambut Semarak Hari Buku, Himpunan Mahasiswa Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) akan mengupas tuntas novel ini dalam acara Bedah Buku bersama sang penulis, Wulanfadi, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Berikut adalah resensi mendalam mengenai novel ber-cover ikonik tiga helai bulu tersebut.
Identitas Buku
- Judul Buku: A: Aku, Benci, dan Cinta
- Penulis: Wulanfadi (Wulan Fadila Fatia)
- Penerbit: Best Media (PT Melvana Media Indonesia)
- Cetakan: 1 Desember 2015
- Tebal: 456 halaman
- ISBN: 978-602-73303-3-7
- Genre: Fiksi Remaja / Romance
Sinopsis: Ketika Perasaan Mengubah Segalanya
Kisah ini berpusat pada lingkaran persahabatan masa kecil antara tiga serangkai: Alex, Alvaro, dan seorang gadis yang selalu mereka lindungi, Athala. Tumbuh bersama membuat benih-benih asmara tumbuh secara tidak sengaja. Baik Alex maupun Alvaro diam-diam menyukai Athala. Namun, Alex bergerak lebih cepat dengan menyatakan cintanya, sementara Alvaro memilih memendam perasaannya demi persahabatan.
Athala menerima Alex bukan karena cinta, melainkan karena enggan melukai hati sahabatnya, sekaligus lelah menunggu Alvaro yang tak kunjung menyatakan rasa. Tragedi besar kemudian terjadi saat Athala mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkannya koma selama tiga tahun.
Baca Juga: Sinopsis Film A: Aku, Benci & Cinta, Kisah Rumit Persahabatan dan Cinta Remaja
Selama masa-masa pilu menanti Athala sadar, kehidupan terus berjalan. Alvaro yang kini menjabat sebagai Ketua OSIS kerap terlibat perselisihan dengan wakilnya, Anggia, gadis berkacamata yang ambisius. Anggia menganggap Alvaro adalah rival terbesarnya. Namun, benci berubah jadi cinta saat keduanya dihukum oleh Bu Lynda untuk masuk kelas musik, di mana Anggia bertindak sebagai mentor musik Alvaro.
Konflik memuncak saat Alex menyadari Alvaro mulai berpaling kepada Anggia. Alex meminta Alvaro bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati Anggia. Saat kebenaran terungkap, Anggia merasa terluka karena merasa hanya dijadikan pelampiasan atau sosok "Athala kedua".
Di akhir cerita, waktu mengubah segalanya. Ketika Athala akhirnya terbangun dari koma, ia harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa Alvaro sudah bahagia bersama Anggia. Jalur takdir membawa mereka pada kebahagiaan masing-masing: Athala menemukan tambatan hati baru bernama Ferdy, sementara Alex pada akhirnya menikah dengan Alexa, adik Alvaro, setelah mengetahui mereka tidak memiliki ikatan darah. Meski perasaan mereka telah bertransformasi, keempatnya tetap menjadi sahabat sejati yang saling menjaga.
Analisis Unsur Intrinsik
- Tema: Kebencian yang berubah menjadi cinta di masa remaja, dikombinasikan dengan konflik cinta segitiga dan pengorbanan sahabat. (Rekomendasi pembaca: 15+).
- Alur: Campuran (Maju-Mundur). Cerita bergerak maju menyoroti hubungan Alvaro-Anggia, namun sesekali mundur (flashback) untuk mengurai masa lalu bersama Athala.
Tokoh & Penokohan:
- Alvaro Radyana Putra: Ketua OSIS yang menyebalkan, jahil, namun menjadi idola sekolah.
- Anggia Serenia Quinindha: Wakil Ketua OSIS yang jutek, tegas, dan ambisius.
- Alexander: Sahabat masa kecil Alvaro yang protektif dan dewasa.
- Athala Uryah Sharen: Gadis masa lalu Alvaro dan Alex yang bernasib malang.
Latar Tempat: Ruang Musik, Rumah Sakit, Ruang UKS, dan Rumah Alvaro.
Latar Suasana: Panik, marah, dan sedih emosional.
Amanat: Cinta bisa berubah dan tumbuh seiring berjalannya waktu. Sahabat sejati adalah mereka yang rela mengorbankan ego dan perasaannya sendiri demi melihat orang yang disayanginya bahagia.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan:
Desain sampul (cover) novel ini terlihat simpel namun sangat estetis bagi kalangan remaja. Bahasa yang digunakan ringan dan sangat adaptif dengan gaya tutur anak muda sehingga mudah dipahami. Selain itu, Wulan Fadi berhasil meramu plot twist dan konflik romansa yang tidak mudah ditebak, membuat pembaca penasaran di setiap babnya. Pemilihan jenis font dan ketebalan kertas juga pas, memberikan kenyamanan saat membaca buku yang cukup tebal ini.
Kekurangan:
Novel ini tidak dilengkapi dengan kata pengantar dari penulis yang biasanya menjadi jembatan pembuka bagi pembaca. Terdapat beberapa kesalahan cetak (typo) pada beberapa kata. Selain itu, banyaknya dialog berbahasa Inggris yang tidak disertai catatan kaki (terjemahan) cukup mengganggu bagi sebagian pembaca. Beberapa sub-plot di bagian akhir juga terkesan diselesaikan secara terburu-buru sehingga menyisakan kesan menggantung.
Referensi: Wulanfadi. (2016). A: Aku, Benci & Cinta. Jakarta: PT Melvana Media Indonesia.
Penulis: Siti Sayyidatunnisa, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Editor : Denis Febrian