Sukabumi Update

Arti Paribahasa Sunda “Ulah Pagiri-giri Calik, Pagirang-girang Tampian”

Ilustrasi - Paribasa Ulah Pagiri-giri Calik, Pagirang-girang Tampian sangat relevan di era modern (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Paribasa Sunda "Ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian" merupakan salah satu nasihat leluhur Sunda yang berbicara tentang kerendahan hati, kebersamaan, dan menghindari persaingan yang tidak sehat.

Inilah adalah salah satu ajaran luhur Sunda agar manusia tidak bersikap sombong, selalu mengutamakan kepentingan umum dan tidak berambisi berlebihan.

Menurut karuhun Sunda, kehormatan sejati tidak diperoleh dengan merebut tempat orang lain, melainkan melalui perilaku yang baik dan manfaat yang diberikan kepada sesama.

Baca Juga: Arti Pepatah Sunda “Ngukur ka Kujur Nimbang ka Awak”, Bisa Lebih Sabar dan Bersyukur

Secara Harfiah

Paribahasa Sunda ini tersusun beberapa kata yaitu “Pagiri-giri” (saling berebut, saling mendahului, saling mengunggulkan diri). Lalu kata “Calik” (duduk). Kemudian kata ketiga yaitu Pagirang-girang (saling mendahului atau saling berebut).

Dan terakhir kata “Tampian” (tempat mandi atau tempat mengambil air di sungai pada zaman dahulu).

Maknanya yaitu sikap saling berebut tempat duduk atau berebut kedudukan dan saling berebut kepentingan.

Baca Juga: Pesona Curug Cinulang, Air Terjun Kembar yang Diabadikan dalam Lirik Lagu Pop Sunda

Makna Filosofis

Karuhun Sunda mengajarkan bahwa kehidupan akan lebih harmonis jika setiap orang tahu batasnya, menghargai orang lain, tidak serakah, tidak haus jabatan, tidak merasa paling penting.

Pepatah ini sering ditujukan kepada orang yang ingin selalu menjadi pemimpin, ingin selalu paling depan, ingin selalu dipuji, dan tidak mau mengalah.

Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang tidak boleh hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi harus menjunjung kebersamaan.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam Dunia Kerja

Misalnya ada beberapa orang yang saling menjatuhkan demi promosi jabatan. Menurut orang Sunda “Eta mah pagiri-giri calik (Sedang saling berebut kursi atau kedudukan).

Dalam Masyarakat

Ketika ada pemilihan ketua RT atau ketua organisasi. Jika semua orang ingin menjadi pemimpin dan saling menjatuhkan, itulah yang disebut pagiri-giri calik.

Dalam Keluarga

Saat saudara saling berebut warisan hingga bermusuhan. Karuhun Sunda juga menganggap itu juga bentuk dari “Pagirang-girang tampian”.

Relevansi dengan Zaman Sekarang

Menariknya, paribasa ini sangat relevan di era modern saat ini kita sering melihat persaingan politik, perebutan jabatan, konflik organisasi, saling serang di media sosial demi popularitas.

Karuhun Sunda seolah sudah mengingatkan sejak lama "Ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian." Karena ketika semua orang sibuk berebut tempat paling depan, yang hilang adalah kebersamaan.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT