Sukabumi Update

Kearifan Lingkungan dalam Budaya Sunda yang Harus Dipertahankan Agar Hidup Sejahtera

Ilustrasi - Masyarakat Sunda sejak zaman dulu memiliki kearifan lingkungan yang mengharuskan manusia hidup selaras dengan alam (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Kearifan lingkungan Sunda merupakan cara pandang masyarakat Sunda dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Berlandaskan nilai-nilai leluhur, konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem melalui pengelolaan ruang, pelestarian sumber daya air, serta pemanfaatan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

Nah, mengutip dari berbagai sumber, berikut ini beberapa kearifan lingkungan dalam budaya Sunda yang harus dipertahankan.

Baca Juga: Ekonomi Indung, 4 Cara Leluhur Sunda Mengelola Harta Agar Terhindar dari Kemiskinan

Baca Juga: Mengenal Leuhang: Sauna Tradisional Warisan Leluhur Sunda Untuk Mengobati Penyakit

1. Falsafah Ekologis Masyarakat Sunda

Salah satu prinsip utama dalam budaya Sunda adalah "Leuweung Hejo, Gunung Lestari, Cai Herang", yang mengandung makna bahwa hutan harus tetap hijau, gunung harus terjaga kelestariannya, dan air harus tetap bersih. Ketiga unsur tersebut dipandang sebagai fondasi kehidupan yang wajib dilindungi.

Selain itu, masyarakat Sunda juga menjunjung tinggi nilai Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh, yaitu saling menyayangi, saling memberi pengetahuan, dan saling membimbing. Nilai-nilai ini tidak hanya diterapkan dalam kehidupan sosial, tetapi juga menjadi dasar dalam menjaga lingkungan secara bersama-sama.

Filosofi Sabilulungan atau kebersamaan turut memperkuat semangat gotong royong dalam mengelola serta melestarikan alam agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

2. Pembagian Kawasan Hutan Adat

Dalam sistem pengelolaan lingkungan tradisional Sunda, khususnya pada masyarakat adat Kanekes (Baduy), kawasan hutan dibagi ke dalam beberapa zona berdasarkan fungsi dan tingkat perlindungannya.

  • Leuweung Tutupan merupakan hutan lindung yang tidak boleh dirusak karena berfungsi sebagai kawasan resapan air dan penyangga keseimbangan lingkungan.
  • Leuweung Titipan adalah kawasan yang dianggap sebagai titipan leluhur sehingga keberadaannya harus dijaga secara ketat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan menjaga keseimbangan alam.
  • Leuweung Garapan atau Leuweung Sampalan merupakan area yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tetap dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan.

3. Tradisi dan Praktik Ramah Lingkungan

Kearifan lingkungan Sunda juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Rumah tradisional Sunda, misalnya, dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, dan ijuk yang mudah terurai serta lebih ramah terhadap lingkungan.

Dalam bidang pangan, masyarakat Sunda sejak dahulu menerapkan pola konsumsi berbasis sumber daya lokal. Berbagai kebutuhan makanan dipenuhi dari hasil pekarangan, kebun, sungai, maupun kolam, sehingga lebih berkelanjutan dan memiliki dampak lingkungan yang lebih kecil.

Rasa syukur terhadap alam juga diwujudkan melalui berbagai tradisi adat, seperti Seren Taun dan Hajat Laut. Selain menjadi ungkapan terima kasih atas hasil bumi dan kekayaan alam, tradisi tersebut juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan untuk masa depan.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT