SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah konten media sosial yang mengutip data Badan Pusat Statistik atau BPS tentang daerah di Jawa Barat dengan jumlah pemuda (lajang) belum menikah menarik perhatian publik. Kota Sukabumi menduduki posisi ke 7 dengan angka persentase mencapai 77,75 persen.
Pada April 2026, akun medsos Jabarstats (instagram) merilis data BPS tahun 2025 tentang tema pemuda menikah. Dari 10 wilayah di Jabar Cirebon paling tinggi, sementara Kota Sukabumi ada diposisi ke 7.
Berikut daftar 10 besar wilayah di Jabar dengan pemuda yang belum menikah dalam angka persentase jumlah penduduk muda; Kota Cirebon – 85,05%, Kota Bogor – 82,99%, Kota Bekasi – 82,83%, Indramayu – 80,74%, Kota Bandung – 79,07%, Kota Depok – 78,35%, Kota Sukabumi – 77,75%, Subang – 76,64%, Kabupaten Cirebon – 75,19%, dan Kota Cimahi – 73,96%.
Baca Juga: 1,3 Juta Anggota Mundur Setelah Presiden Partai Buruh Gabung Pemerintah
Lalu kenapa belum atau sulit menikah?
Melansir umc.ac.id, Keputusan menikah yang dahulu identik dengan fase awal kedewasaan kini tidak lagi menjadi prioritas utama bagi sebagian generasi muda. Di tengah tuntutan karier, pendidikan, serta kesiapan finansial, banyak anak muda memilih menunda pernikahan hingga merasa benar-benar siap secara menyeluruh.
Guru Besar sekaligus dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Halim Purnomo, M.Pd.I., menjelaskan bahwa penundaan pernikahan tidak terjadi tanpa sebab. Ia menegaskan bahwa pernikahan merupakan ibadah jangka panjang yang membutuhkan kesiapan komprehensif, bukan sekadar dorongan emosional sesaat.
“Pernikahan bukan perjalanan satu atau dua hari, melainkan perjalanan hidup. Karena itu diperlukan persiapan matang, bagaimana menyatukan dua pribadi dan dua keluarga yang berbeda agar dapat berjalan bersama serta meminimalkan risiko dalam rumah tangga,” jelas Halim.
Baca Juga: Tas LV Sus Rini Jadi Sorotan saat Liburan di Kapal Pesiar, Harganya Capai Puluhan Juta
Menurutnya, salah satu faktor utama penundaan pernikahan adalah kesiapan personal. Generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan besar, termasuk mengakhiri masa lajang. Pertimbangan finansial, kemantapan karier, serta kesiapan mental menjadi variabel dominan dalam proses pengambilan keputusan tersebut.
Faktor Psikologis
Selain aspek ekonomi dan karier, faktor psikologis juga berpengaruh signifikan generasi muda tunda nikah. Halim menilai munculnya kekhawatiran terhadap komitmen dan kepercayaan antar pasangan menjadi salah satu penyebab yang kerap tidak disadari. Pengalaman masa lalu dalam keluarga, seperti perceraian orang tua, dapat membentuk sikap yang lebih hati-hati terhadap pernikahan.
“Ada yang merasa takut terhadap komitmen atau dalam istilah psikologi disebut gamophobia. Ada pula yang menyaksikan perceraian orang tuanya sehingga muncul kekhawatiran akan mengulang pengalaman yang sama. Ketika rasa tidak percaya itu muncul, seseorang cenderung menunda pernikahan karena ingin benar-benar yakin bahwa pilihannya tepat,” terangnya.
Baca Juga: Tantri Kotak Ungkap Dugaan Penipuan oleh Teman Dekat, Begini Kronologinya
Halim juga menyoroti adanya pergeseran paradigma dalam peran gender di kalangan generasi muda. Perempuan kini semakin rasional dan realistis dalam merencanakan masa depan, termasuk memilih memantapkan karier terlebih dahulu sebelum menikah. Di sisi lain, laki-laki juga menghadapi tekanan sosial untuk memiliki stabilitas ekonomi sebagai pencari nafkah utama.
Penundaan tersebut, lanjutnya, sering kali dimaksudkan untuk meminimalkan potensi masalah setelah menikah. Generasi muda ingin memastikan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, papan, hingga pendidikan anak di masa depan dapat terpenuhi dengan baik. Namun, Halim mengingatkan bahwa kesiapan tidak selalu identik dengan kondisi yang sempurna.
Karena itu, ia menekankan pentingnya edukasi kesiapan menikah yang tidak bersifat memaksa, melainkan membekali generasi muda dengan pemahaman utuh mengenai makna dan tanggung jawab pernikahan.
Baca Juga: Petak Umpet Dimensi Mulai Syuting di Sukabumi, Pesona Alam Dalam Film Petualangan Anak
“Generasi muda perlu banyak berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman. Belajar tidak hanya dari bangku kuliah, tetapi juga dari pengalaman orang lain. Dengan berdiskusi dan memperoleh perspektif yang lebih luas, seseorang akan lebih mantap dalam mengambil keputusan. Menikah adalah ibadah sepanjang hayat yang melibatkan banyak pihak, sehingga keputusan itu harus diambil dengan kesiapan, bukan dengan ketakutan,” tegas Prof. Halim.
Editor : Fitriansyah