Sukabumi Update

Lebih dari Sekadar Fiksi, "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" Angkat Isu Kesehatan Mental

Buku novel "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna. (Sumber Foto: Gramedia)

SUKABUMIUPDATE.com – Isu kesehatan mental semakin banyak mendapat perhatian, terutama di kalangan generasi muda yang menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga tuntutan media sosial. Fenomena tersebut turut menjadi inspirasi bagi banyak penulis untuk menghadirkan karya yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat.

Salah satu novel yang menarik perhatian adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Novel yang diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) pada 2025 ini hadir dengan genre fiksi reflektif yang memadukan unsur sastra populer dan filosofi kehidupan. Dengan ketebalan 216 halaman, novel ini mengajak pembaca merenungkan makna hidup melalui kisah yang sederhana namun menyentuh.

Novel tersebut mengisahkan Ale, seorang pria yang tengah berada di titik terendah kehidupannya. Dilanda depresi dan kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup, Ale memutuskan menikmati semangkuk mie ayam sebagai santapan terakhir sebelum mengakhiri hidupnya. Namun, keputusan yang tampak sederhana itu justru menjadi awal dari perjalanan yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Melalui tokoh Ale, Brian Khrisna menghadirkan gambaran tentang pergulatan batin seseorang yang berjuang menghadapi kesepian, kehilangan harapan, trauma, dan berbagai tekanan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Kisah tersebut disampaikan secara ringan dan dekat dengan keseharian sehingga mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.

Baca Juga: Berawal dari Wattpad, Wulanfadi Kini Jadi Novelis Best Seller dan Suarakan Pemberdayaan Perempuan

Meski mengangkat tema yang cukup berat, novel ini tidak disajikan dengan nada menggurui. Sebaliknya, pembaca diajak melihat bahwa setiap orang memiliki persoalan yang mungkin tidak tampak di permukaan. Melalui perjalanan hidup Ale, novel ini menunjukkan bahwa harapan bisa muncul dari hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian.

Tak hanya membahas depresi, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati juga menyinggung berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, seperti krisis identitas, tekanan sosial, rasa kehilangan, hingga kesulitan mengungkapkan perasaan kepada orang lain. Novel ini menggambarkan bahwa proses pemulihan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan keberanian untuk menerima diri sendiri dan membuka ruang bagi bantuan dari orang lain.

Menariknya, Brian Khrisna mengungkapkan bahwa novel ini terinspirasi dari pengalaman seseorang yang dekat dengannya. Dalam proses penulisannya, ia juga melakukan riset bersama penyintas gangguan kesehatan mental serta berkonsultasi dengan psikiater agar penggambaran kondisi psikologis para tokohnya lebih akurat dan bertanggung jawab.

Baca Juga: Bakal Hadir di Layar Lebar, Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Umumkan Para Pemain

Kehadiran riset tersebut membuat cerita terasa lebih realistis dan empatik. Pembaca tidak hanya diajak mengikuti alur cerita, tetapi juga memahami berbagai aspek kesehatan mental yang sering kali masih dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka.

Salah satu kekuatan novel ini terletak pada kemampuannya menghadirkan refleksi tanpa harus memberikan ceramah panjang. Brian Khrisna berhasil menyampaikan pesan-pesan tentang kehidupan melalui percakapan, pengalaman, dan perjalanan emosional tokohnya sehingga terasa lebih natural dan menyentuh.

Pada akhirnya, Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bukan sekadar novel tentang depresi atau keinginan mengakhiri hidup. Novel ini merupakan cerita tentang harapan, penerimaan diri, dan keberanian untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup. Melalui kisah Ale, pembaca diajak memahami bahwa setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing, dan bahwa meminta bantuan ketika menghadapi masalah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk terus melangkah.


Penulis: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Magang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT