SUKABUMIUPDATE.com – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 08 Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) melaksanakan program Bumi Hijauku dengan menanam sekitar 500 bibit pohon di sejumlah titik rawan longsor di Desa Tanjungsari, Kecamatan Curugkembar, Kabupaten Sukabumi.
Program ini bertujuan mengurangi risiko bencana longsor sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Ketua KKN Kelompok 08 Desa Tanjungsari, Rafli Rasyiid Pratama, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari hasil observasi yang dilakukan mahasiswa selama dua pekan di lokasi KKN.
“Latar belakang kegiatan Bumi Hijauku adalah karena Desa Tanjungsari masih termasuk daerah rawan bencana, khususnya di Kampung Sinar Anyar dan Kampung Cimenteng. Berdasarkan hasil observasi selama dua minggu, lahirlah program ini,” ujar Rafli, Selasa (4/8/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan mahasiswa, wilayah yang memiliki tingkat kerawanan longsor cukup tinggi berada di Kampung Sinar Anyar, Dusun Tanjungsari, serta Kampung Cimenteng, Dusun Mekarwangi.
Program penanaman dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama digelar pada 1 Agustus 2026 di Kampung Cimenteng, sedangkan tahap kedua berlangsung pada 4 Agustus 2026 di Kampung Sinar Anyar. Kedua lokasi tersebut dipilih karena dinilai paling rentan terhadap bencana longsor.
Sebanyak 500 bibit pohon ditanam dalam kegiatan ini, terdiri dari pohon mahoni, manglid, kopi, alpukat, dan jengkol. Mahoni dipilih karena memiliki sistem perakaran yang kuat untuk membantu menahan pergerakan tanah dan aliran air, sementara tanaman buah dipilih agar selain berfungsi sebagai penghijauan juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pelaksanaan Penanaman Bibit. (Sumber foto: Annisa Nurizkiawan)
Meski penanaman difokuskan di dua dusun, bibit pohon turut dibagikan ke empat dusun yang ada di Desa Tanjungsari. Dengan demikian, masyarakat di wilayah lain juga dapat melakukan penghijauan secara mandiri.
Selain kegiatan penanaman pohon, mahasiswa KKN UMMI juga mengadakan sosialisasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan limbah rumah tangga, seperti sisa sayuran dan buah-buahan. Sosialisasi ini diharapkan dapat mendorong masyarakat memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk ramah lingkungan yang mudah dibuat dan murah.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari perangkat desa hingga pelajar. Rafli mengatakan, partisipasi masyarakat selama dua kali pelaksanaan tergolong baik, meski tantangan terbesar tetap datang dari cuaca.
Menurutnya, musim kemarau panjang atau el nino menjadi hambatan tersendiri dalam menjaga pertumbuhan bibit yang sudah ditanam. Karena itu, keberlanjutan program sangat bergantung pada perawatan setelah penanaman selesai.
“Untuk keberlanjutan program Bumi Hijauku, kami berharap masyarakat setempat bisa merawat tanaman yang sudah kami tanam karena mengingat akan menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dusun Tanjungsari, Bangbang Permana, mengungkapkan wilayahnya telah masuk kategori rawan longsor sejak 2020. Setiap musim hujan, sejumlah titik seperti Dusun Sinar Anyar, Puncak Lame, dan Cimenteng kerap mengalami longsor akibat berkurangnya vegetasi penahan tanah serta kondisi geografis yang berada di sekitar aliran sungai.
Menurut Bangbang, meski belum menimbulkan korban jiwa, longsor telah menyebabkan kerusakan lahan pertanian dan perkebunan milik warga sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Ia mengapresiasi kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat dalam mendorong gerakan penghijauan di desa.
“Di kampung itu kalau tidak ada penggerak suka malas. Dengan adanya mahasiswa KKN, warga masyarakat bisa antusias karena ada dorongan dan ajakan dari para mahasiswa,” ujarnya.
Pelaksanaan sosialisasi POC. (Sumber Foto: Annisa Nurizkiawan)
Pemerintah desa juga mengimbau warga untuk rutin merawat bibit yang telah ditanam, terutama selama musim kemarau. Warga diminta tidak menebang pohon secara sembarangan, khususnya pohon yang berfungsi sebagai penahan tanah di kawasan rawan longsor.
“Kalau ada pohon yang ditebang, sebaiknya diganti dengan pohon baru. Pohon memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami dari bencana,” ujarnya.
Bangbang berharap ke depan mahasiswa KKN yang bertugas di Desa Tanjungsari dapat terus menghadirkan program yang sesuai dengan potensi desa, terutama di sektor pertanian dan peternakan.
Apresiasi juga datang dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang menyambut baik penanaman bibit kopi. Mereka berharap tanaman tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di masa mendatang.
Melalui program Bumi Hijauku, mahasiswa KKN UMMI berharap langkah sederhana yang dilakukan hari ini dapat menjadi investasi lingkungan bagi Desa Tanjungsari sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga kelestarian alam.
“Pesan untuk warga Desa Tanjungsari, terkhusus anak muda, kami berharap bisa merawat tanaman dengan baik untuk kebermanfaatan masyarakat setempat karena apa yang kita tanam itu yang kita tuai,” tutup Rafli.
Penulis: Annisa Nurizkiawan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Editor : Denis Febrian