Sukabumi Update

Mengenal Kesenian Beluk Sunda, Seni Vokal dengan Suara Melengking yang Mulai Langka

Ilustrasi AI - Beluk adalah salah satu kesenian masyarakat Sunda yang saat ini sudah mulai sulit ditemukan (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Sunda memang dikenal memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam termasuk dalam hal kesenian. Salah satu kesenian Sunda yang saat ini mulai langka yaitu “Beluk”.

Kesenian ini sudah mulai sulit ditemukan dan hanya beberapa orang saja yang mungkin masih bisa memainkannya. Bahkan saat ini banyak orang Sunda yang tidak tahu apa itu Beluk.

Nah, untuk lebih mengenal soal kesenian Beluk Sunda, berikut ini beberapa hal yang perlu diketahui yang dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: Termasuk Opak Jampang khas Sukabumi, 30 Kue Tradisional Sunda Beberapa Sudah Sulit Ditemukan

Apa itu kesenian Beluk Sunda?

Mengutip dari e-jurnal ISBI Bandung, Beluk adalah seni vokal tradisional masyarakat Sunda yang ciri utamanya berupa lantunan suara bernada tinggi, melengking, panjang, dan meliuk-liuk, biasanya tanpa mengandalkan alat musik sebagai pengiring utama.

Seni ini erat kaitannya dengan wawacan, yaitu cerita panjang dalam bentuk puisi yang menggunakan aturan pupuh.

Jadi, Beluk sebenarnya bukan sekadar "orang Sunda bernyanyi dengan suara tinggi". Di dalam pertunjukannya terdapat hubungan antara cerita, pupuh, teknik vokal, dan tradisi masyarakat.

Yang menarik, Beluk tidak hanya ditemukan di satu daerah. Seni ini berkembang di berbagai wilayah budaya Sunda. Di wilayah timur Jawa Barat, khususnya Majalengka, istilah Gaok digunakan untuk kesenian yang memiliki hubungan erat dengan tradisi Beluk.

Baca Juga: Mengenal 52 Istilah saat Musim Kemarau dalam Bahasa Sunda, Ada Halodo, Cinyusu hingga Hanaang

Seperti apa suara Beluk?

Penembang Beluk biasanya menggunakan teknik vokal dengan nada tinggi dan suara yang melengking, disertai liukan melodi yang cukup ekstrem. Pergantian antara suara biasa dan suara kepala membuat karakter vokalnya terdengar unik.

Lengkingan tersebut juga dapat dilakukan cukup panjang dalam satu tarikan nafas. Karena itu, seorang penembang Beluk membutuhkan kemampuan olah nafas dan vokal yang tidak sederhana.

Mengapa disebut "Beluk"?

Menurut Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, disebut Beluk karena karakter suara yang elak-eluk, yaitu berkelok-kelok atau meliuk-liuk. Namun, ada juga yang menghubungkannya dengan suara guak-gaok atau gagaokan, yang berarti berteriak atau melengking.

Hubungannya dengan wawacan

Wawacan merupakan karya sastra Sunda berbentuk cerita panjang yang disusun menggunakan aturan pupuh. Cerita tersebut kemudian dibacakan atau ditembangkan dalam pertunjukan Beluk.

Karena itu, Beluk sekaligus menjadi salah satu cara masyarakat Sunda dahulu menyampaikan dan mewariskan cerita secara lisan. Pupuh yang digunakan dapat beragam, antara lain Kinanti, Sinom, Asmarandana, Dangdanggula, dan lainnya.

Bagaimana pertunjukan Beluk dilakukan?

Dalam beberapa tradisi Beluk di Jawa Barat, pertunjukan melibatkan beberapa orang penembang. Ada seorang yang bertugas sebagai dalang atau tukang ilo, yang membacakan bagian cerita dari wawacan.

Setelah itu, bagian tersebut dilantunkan oleh penembang secara bergantian. Jadi, pertunjukannya bukan sekadar satu orang berdiri kemudian bernyanyi dari awal sampai akhir.

Dalam tradisi di Tasikmalaya yang diteliti oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, misalnya, pertunjukan memiliki pembukaan, pembacaan wawacan, lantunan oleh para penembang secara bergantian, kemudian penutupan.

Apakah Beluk menggunakan alat musik?

Salah satu karakteristik Beluk yang menarik adalah kekuatan utamanya berada pada vokal. Sumber penelitian tentang Beluk di Tasikmalaya menyebutnya sebagai seni vokal tanpa instrumen.

Beluk dan kehidupan masyarakat agraris

Ada hubungan menarik antara Beluk dan kehidupan masyarakat Sunda zaman dahulu. Di Majalengka, kesenian Gaok, yang dianggap sebagai istilah lokal untuk Beluk, berkembang dalam masyarakat yang banyak bekerja sebagai petani.

Penelitian mengenai tradisi Gaok di Desa Kulur menyebut bahwa kesenian tersebut lahir dari kebiasaan masyarakat pada masa ketika kegiatan utama mereka adalah bercocok tanam.

Dalam kondisi masyarakat yang hidup di lingkungan pertanian, kemampuan menghasilkan suara keras dan panjang tentu memiliki fungsi praktis dalam komunikasi dari satu tempat ke tempat lain.

Kemudian, setelah tradisi wawacan berkembang, kemampuan vokal tersebut menjadi bagian dari seni pembacaan cerita.

Apakah Beluk masih ada sekarang?

Penelitian terbaru mengenai Grup Candralijaya di Kampung Cirangkong, Tasikmalaya, misalnya, menunjukkan bahwa Beluk masih dipertunjukkan di tengah masyarakat.

Fungsinya pun telah berkembang menjadi hiburan dalam berbagai kegiatan masyarakat. Di Sumedang juga masih terdapat kelompok seni Beluk, termasuk di wilayah Cirangkong.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT