Sukabumi Update

Arti “Halodo Sataun Lantis Ku Hujan Sapoe”, Paribasa Sunda Penuh Makna

Ilustrasi - Paribasa Sunda Halodo Sataun Lantis Ku Hujan Sapoe memiliki arti cukup mendalam (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda memiliki banyak warisan, salah satunya paribasa yang kerap memiliki arti tersirat di dalamnya.

Salah satu paribasa Sunda paling populer yaitu “Halodo sataun lantis ku hujan sapoe”. Paribasa ini memiliki makna yang cukup dalam.

Arti secara harfiah

Secara harfiah, paribasa ini terdiri dari kata “Halodo” (musim kemarau), “Sataun” (selama setahun), “Lantis” (lenyap, hilang, berakhir, atau bisa juga berarti basah), “Ku hujan sapoe” (oleh hujan sehari).

Jadi, secara harfiah paribasa ini berarti “kemarau selama setahun hilang oleh hujan sehari.”

Baca Juga: Cara Orang Sunda Zaman Dulu Menentukan Musim yang Masih Dipakai Hingga Sekarang

Makna kiasannya

Mengutip dari berbagai sumber, paribasa ini menggambarkan suatu keadaan atau penderitaan yang berlangsung lama kemudian berakhir karena datangnya suatu peristiwa yang singkat.

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sudah lama ditunggu-tunggu, kemudian terjadi dalam waktu singkat tetapi memberikan perubahan atau kebahagiaan yang besar.

Misalnya, seseorang yang sudah lama mengalami kesulitan kemudian mendapatkan pertolongan yang sangat berarti. Kesulitan yang berlangsung lama seolah-olah dapat terhapus oleh satu kejadian yang membawa perubahan.

Baca Juga: Kekecapan Bahasa Sunda Klasik yang Sudah Jarang Digunakan, Balaka Hingga Sasadu

Paribasa ini juga bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat Sunda dahulu yang sangat dekat dengan alam dan pertanian.

Kemarau panjang menjadi gambaran masa sulit karena air terbatas dan kegiatan pertanian terganggu, sedangkan hujan menjadi simbol datangnya harapan dan perubahan.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT