SUKABUMIUPDATE.com - Dalam kehidupan masyarakat Sunda, paribasa kerap digunakan untuk menyampaikan nasihat dan menggambarkan perilaku seseorang secara sederhana tetapi penuh makna.
Salah satunya adalah “agul ku payung butut”, sebuah ungkapan yang menggambarkan sikap membanggakan sesuatu yang sebenarnya tidak seberapa.
Lantas, apa arti paribasa “agul ku payung butut” dan bagaimana penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari?
Baca Juga: Makna Paribasa “Lamun Henteu Ngakal Moal Ngakeul”, Bukti Orang Sunda Bukan Pemalas
Arti dan Makna
Paribasa Sunda “Agul ku Payung Butut” merupakan ungkapan yang menggambarkan seseorang yang sombong atau membanggakan sesuatu yang sebenarnya tidak layak dibanggakan.
Kata “Agul” berarti membanggakan diri atau menyombongkan diri, sedangkan “Payung butut” berarti payung yang sudah tua, rusak, atau tidak bagus.
Jadi, secara kiasan “agul ku payung butut” berarti membanggakan sesuatu yang sederhana, buruk, atau tidak seberapa, seolah-olah merupakan sesuatu yang hebat.
Baca Juga: 15 Tata Krama Orang Sunda yang Diajarkan pada Anak Agar Si Kecil Jadi Pribadi Santun
Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Misalnya, seseorang memiliki barang lama yang sebenarnya sudah rusak, tetapi ia terus-menerus membanggakannya di hadapan orang lain. Keadaan seperti itu dapat diibaratkan dengan “agul ku payung butut.”
Makna yang lebih luas: paribasa ini mengajarkan agar seseorang tidak berlebihan dalam membanggakan kepunyaan atau kelebihannya, terutama jika sesuatu yang dibanggakan sebenarnya tidak seberapa.
Editor : Dede Imran