SUKABUMIUPDATE.com - Dalam budaya Sunda, banyak paribasa yang lahir dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah “nété semplék, nincak semplak”.
Paribasa Sunda tersebut menggambarkan keadaan seseorang yang harus menjalani hidup dalam kondisi serba sulit dan penuh keterbatasan.
Lantas, apa arti paribasa “nété semplék, nincak semplak” dan apa makna yang terkandung di dalamnya? Berikut penjelasannya seperti dikutip dari berbagai sumber.
Baca Juga: Arti Paribasa Sunda “Agul ku Payung Butut” dan Contohnya dalam Keseharian
Arti secara sederhana
Nété semplék, nincak semplak secara kiasan menggambarkan keadaan susah, prihatin, dan tidak memiliki banyak pilihan.
Seseorang yang berada dalam kondisi seperti ini harus menjalani kehidupan apa adanya dan berusaha keras untuk bertahan.
Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menggambarkan keadaan ekonomi atau kehidupan yang serba pas-pasan.
Baca Juga: 15 Tata Krama Orang Sunda yang Diajarkan pada Anak Agar Si Kecil Jadi Pribadi Santun
Makna filosofis
Di balik ungkapan tersebut terdapat gambaran tentang ketabahan dalam menghadapi kesulitan. Hidup tidak selalu berjalan dalam keadaan berkecukupan.
Ada kalanya seseorang harus melewati masa sulit dengan kemampuan yang terbatas. Karena itu, paribasa ini dapat dikaitkan dengan sikap tabah menghadapi kesulitan, tidak mudah menyerah, menerima keadaan dengan tetap berusaha, hidup sederhana sesuai kemampuan.
Contoh penggunaan
Misalnya ada seseorang yang kehidupannya sedang sulit. Penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari sehingga ia harus benar-benar mengatur pengeluaran.
Orang tersebut bukan tanpa usaha, namun segala usaha yang dilakukannya belum membuahkan hasil dan tak jarang berakhir dengan kegagalan.
Dalam bahasa Sunda, keadaan tersebut bisa digambarkan dengan ungkapan “nété semplék, nincak semplak.”
Paribasa ini menarik untuk dibahas karena menggambarkan realitas kehidupan masyarakat Sunda dengan ungkapan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang cukup dalam.
Editor : Dede Imran