SUKABUNMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda memiliki banyak paribasa yang lahir dari kehidupan sehari-hari dan mengandung nasihat tentang bagaimana seseorang sebaiknya bersikap.
Salah satunya adalah “ari diarah supana, kudu dipiara catangna”, yang menggambarkan pentingnya menjaga sumber dari sesuatu yang ingin terus dinikmati hasilnya.
Lantas, apa arti paribasa “ari diarah supana, kudu dipiara catangna” dan apa makna yang terkandung di dalamnya?
Baca Juga: KAI Targetkan KRL Sampai Cigombong pada 2027, Sukabumi Jadi Tahap Berikutnya
Secara harfiah “Ari” berarti kalau atau apabila, “Diarah” berarti diambil atau dicari, “Supana” supa atau jamur, “Kudu berarti harus, “Dipiara” berarti dipelihara dan “Catangna” berarti catang atau batang pohon.
Secara sederhana, paribasa ini berarti “kalau menginginkan jamurnya, batangnya harus dipelihara.”. Jamur disini merujuk pada jamur yang biasa tumbuh pada batang pohon.
Dan ada juga yang mengartikan jika supa disini bukan merujuk pada jamur tapi sari atau seperti air nirah.
Disamping arti secara harfiah tersebut, ungkapan tersebut menggunakan gambaran sebuah pohon.
Jika seseorang ingin mendapatkan hasil dari pohon tersebut, ia tidak boleh hanya mengambil hasilnya, tetapi juga harus merawat pohon sebagai sumber penghasilnya.
Baca Juga: Mengatasi Jerawat Batu dengan Cara Alami agar Tidak Semakin Parah dan Berbekas
Makna yang Terkandung
Secara kiasan, paribasa ini mengajarkan bahwa jika ingin terus mendapatkan manfaat atau hasil dari sesuatu, sumbernya harus dijaga dan dipelihara.
Misalnya dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang ingin terus mendapatkan penghasilan dari pekerjaannya harus menjaga pekerjaan tersebut dengan baik.
Begitu pula dalam hubungan antarmanusia, jika ingin mendapatkan kebaikan dan dukungan dari orang lain, hubungan tersebut perlu dirawat dengan sikap saling menghargai.
Paribasa ini juga bisa dimaknai lebih luas sebagai nasihat agar tidak hanya mengejar hasil, tetapi memperhatikan dan menjaga sumber yang menghasilkan sesuatu tersebut.
Inti pesannya kalau ingin menikmati hasilnya, jangan lupa merawat sumbernya. Ini membuat paribasa tersebut tetap relevan dengan kehidupan masa kini, mulai dari pekerjaan, usaha, lingkungan, hingga hubungan sosial.
Editor : Dede Imran