Sukabumi Update

Wanci Tunggang Gunung Artinya Apa? Mengenal Penanda Waktu Sore dalam Budaya Sunda

Ilustrasi - Wanci tunggang gunung bukan sekadar sebutan untuk pukul 16.00–17.00, tetapi menunjukkan cara masyarakat Sunda membaca waktu melalui alam. (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Wanci Tunggang Gunung merupakan salah satu penanda waktu tradisional dalam budaya Sunda dan masih digunakan sebagian masyarakat hingga sekarang.

Masyarakat Sunda dahulu tidak selalu menentukan waktu berdasarkan angka pada jam, tetapi juga melalui perubahan posisi matahari dan kondisi alam di sekitarnya.

Menurut Kamus Ukuran Sunda-Indonesia terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, wanci tunggang gunung merupakan penanda waktu sekitar pukul 16.00–17.00, ketika matahari berada di atas punggung gunung.

Baca Juga: Tim SAR Perluas Area Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Gunung Anak Krakatau

Apa arti Tunggang Gunung?

Secara gambaran, tunggang gunung merujuk pada keadaan ketika matahari sudah condong ke arah barat dan tampak berada di atas atau di balik punggung gunung sebelum akhirnya terbenam.

Karena itu, istilah ini digunakan untuk menyebut waktu sore menjelang matahari terbenam.
Dalam pembagian waktu tradisional Sunda, tunggang gunung berada setelah wanci lingsir ngulon dan wanci panonpoé satangtung.

Setelah wanci tunggang gunung, kemudian dilanjutkan dengan wanci sariak layung ketika semburat kemerahan mulai terlihat di langit.

Baca Juga: Musim Durian Tiba! Kenali 5 Jenis Durian yang Banyak Dicari Pecinta Durian

Maknanya dalam kehidupan masyarakat Sunda

Wanci ini juga berkaitan dengan aktivitas masyarakat, terutama masyarakat agraris. Ketika matahari mulai rendah dan memasuki tunggang gunung, aktivitas di luar rumah seperti pekerjaan di sawah biasanya mulai mendekati waktu selesai. Masyarakat kemudian bersiap kembali ke rumah sebelum hari semakin gelap.

Menariknya, istilah tunggang gunung juga memiliki makna kiasan. Dalam ungkapan “umur tunggang gunung”, istilah tersebut dapat menggambarkan usia lanjut, dengan perumpamaan bahwa kehidupan manusia seperti perjalanan matahari yang telah memasuki penghujung hari.

Jadi, wanci tunggang gunung bukan sekadar sebutan untuk pukul 16.00–17.00, tetapi menunjukkan cara masyarakat Sunda membaca waktu melalui alam.

Istilah ini memperlihatkan kedekatan budaya Sunda dengan matahari, gunung, perubahan cahaya, dan ritme kehidupan sehari-hari.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT