SUKABUMIUPDATE.com - Masyarakat Sunda memiliki banyak paribasa yang tidak hanya menjadi ungkapan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menyimpan pesan tentang bagaimana manusia seharusnya memperlakukan alam.
Salah satunya adalah “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak”. Paribasa ini menggambarkan hubungan yang erat antara hutan, air, dan kehidupan manusia.
Ketika hutan mengalami kerusakan, sumber air dapat ikut berkurang dan pada akhirnya manusia pula yang merasakan dampaknya. Lantas, apa arti dan makna yang terkandung dalam paribasa Sunda “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak”?
Baca Juga: Korban Dugaan Pelecehan Sekdishub Sukabumi Bertambah Jadi 3 Pelajar
Secara harfiah paribasa ini berarti jika hutan rusak, air habis, manusia akan sengsara. Paribasa ini menggambarkan hukum sebab-akibat dalam menjaga lingkungan.
Hutan memiliki peran penting dalam menjaga sumber air, sehingga ketika hutan rusak akibat penebangan liar, pembukaan lahan berlebihan, atau kerusakan lingkungan lainnya, ketersediaan air juga dapat terganggu.
Pada akhirnya, manusia yang akan merasakan dampaknya. Kekurangan air dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, pertanian, peternakan, hingga berbagai aktivitas masyarakat.
Dengan kata lain, paribasa ini mengingatkan bahwa manusia tidak bisa memisahkan kehidupannya dari alam. Ketika alam dirusak, dampaknya pada akhirnya akan kembali kepada manusia.
Baca Juga: Pemprov Jabar Buka Bursa Kerja Live di TikTok KDM Tiap Rabu
Paribasa “Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak” juga mencerminkan pandangan masyarakat Sunda yang menempatkan alam sebagai bagian penting dalam kehidupan.
Hutan dan air bukan sekadar sumber daya yang bisa dimanfaatkan, tetapi perlu dipelihara agar tetap memberikan manfaat bagi kehidupan sekarang dan generasi berikutnya.
Editor : Dede Imran