Sukabumi Update

Bukan Cuma Usia, 5 Kebiasaan Ini Bisa Membuat Tubuh Terasa Lebih Cepat Menua

Ilustrasi badan cepat lelah (Sumber : Freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Penuaan merupakan proses alami yang pasti dialami setiap orang. Namun, bukan berarti perubahan pada tubuh hanya ditentukan oleh angka usia. Kebiasaan sehari-hari juga dapat mempengaruhi kebugaran, massa otot, kualitas tidur, kesehatan metabolik, hingga kemampuan tubuh menjalankan aktivitas.

Karena itu, tubuh yang terasa lebih cepat lelah atau tidak sebugar sebelumnya tidak selalu semata-mata karena bertambahnya usia. Beberapa kebiasaan berikut juga perlu diperhatikan.

1. Terlalu Banyak Duduk dan Jarang Bergerak

Duduk terlalu lama sering menjadi bagian dari rutinitas, terutama bagi orang yang bekerja di depan komputer. Setelah bekerja, waktu luang juga bisa dihabiskan dengan menonton televisi atau bermain ponsel.

Masalahnya, terlalu sedikit bergerak membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk mempertahankan kebugaran, kekuatan otot, dan fungsi fisik. Aktivitas fisik secara teratur membantu menjaga kesehatan dan mendukung penuaan yang sehat, sementara perilaku sedentari perlu dikurangi.

Baca Juga: Harpelnas 2026: BPJS Ketenagakerjaan Sukabumi Edukasi Ojol, Iuran JKK & JKM Hanya Rp16.800

2. Kurang Memperhatikan Asupan Protein

Protein dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan dan memperbaiki jaringan, termasuk massa otot. Seiring bertambahnya usia, mempertahankan massa dan kekuatan otot menjadi semakin penting karena penurunan fungsi otot dapat mempengaruhi kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

Bukan berarti harus mengonsumsi protein secara berlebihan. Sumber seperti ikan, telur, ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan, dan produk susu dapat menjadi bagian dari pola makan seimbang. 

3. Mengabaikan Kualitas Tidur

Tidur bukan sekadar waktu ketika tubuh berhenti beraktivitas. Istirahat yang cukup membantu tubuh dan pikiran memulihkan diri.

Tidur yang cukup sebagai bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Kualitas tidur juga berkaitan dengan kemampuan tubuh mengelola stres, energi, dan fungsi sehari-hari.

4. Pola Makan Didominasi Makanan Ultra-Proses

Kesibukan membuat makanan cepat saji, makanan kemasan, minuman manis, dan camilan menjadi pilihan praktis. Namun, jika jenis makanan tersebut terlalu mendominasi pola makan sehari-hari, asupan serat, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya bisa menjadi kurang seimbang.

Makan tidak sehat sebagai salah satu faktor risiko penting untuk berbagai penyakit tidak menular. Sebaliknya, pola makan yang lebih banyak didasarkan pada makanan utuh atau minim proses, sayuran, buah, dan sumber protein yang beragam mendukung kesehatan sepanjang hidup.

Baca Juga: Melihat Kondisi Siswi SD Korban Dugaan Asusila di Ciracap Sukabumi

5. Baru Memperhatikan Kesehatan Setelah Muncul Keluhan

Kebiasaan lain yang sering tidak disadari adalah menunggu tubuh memberikan tanda sebelum mulai menjaga kesehatan.

Seseorang mungkin merasa masih muda dan sehat sehingga tidak memperhatikan tekanan darah, gula darah, kolesterol, pola tidur, aktivitas fisik, atau kondisi berat badan. Padahal, beberapa faktor risiko penyakit kronis dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.

Merasa lebih cepat lelah atau mengalami perubahan kemampuan fisik bukan berarti seseorang pasti mengalami penuaan dini. Kondisi tubuh dipengaruhi banyak faktor, termasuk usia, genetik, penyakit, pola hidup, lingkungan, dan kondisi psikososial.

Membiasakan diri lebih banyak bergerak, mencukupi kebutuhan nutrisi terutama protein, memperbaiki kualitas tidur, mengonsumsi makanan yang lebih beragam, dan tidak menunggu sakit untuk memperhatikan kesehatan dapat menjadi langkah sederhana untuk mendukung proses tersebut.

ada akhirnya, usia memang tidak bisa dihentikan, tetapi kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi bagaimana tubuh menjalani proses penuaan. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menjaga kebugaran dan kemampuan tubuh dalam jangka panjang.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Bidik 1.000 Gol dan Gelar UEFA Nations League Bersama Portugal

Sumber: WHO

Editor : Silvi Maharani

Tags :
BERITA TERKAIT