Sukabumi Update

Mengenal Ecopsychology, Mengapa Berada di Alam Bisa Membuat Pikiran Lebih Tenang?

Ilustrasi - Ecopsychology adalah bidang yang mempelajari hubungan antara kondisi psikologis manusia dengan alam dan lingkungan (Sumber : freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Pernah merasa pikiran lebih tenang setelah berjalan-jalan di hutan, duduk di tepi pantai, atau sekadar menghabiskan waktu di tengah pepohonan?

Pengalaman tersebut ternyata tidak hanya berkaitan dengan suasana yang menyenangkan.
Dalam psikologi dikenal istilah ecopsychology, bidang yang mempelajari hubungan antara kondisi psikologis manusia dengan alam dan lingkungan.

Lantas, bagaimana alam dapat memengaruhi pikiran dan emosi manusia, dan mengapa hubungan dengan alam dianggap penting bagi kesejahteraan psikologis? Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Wanci Rumangsang Jam Berapa? Tradisi Sunda Membaca Waktu

Apa itu ecopsychology?

Menurut laman ecopsychology.info, secara sederhana, ecopsychology adalah bidang yang mempelajari hubungan timbal balik antara kondisi psikologis manusia dan alam atau lingkungan.

Bukan hanya bagaimana lingkungan mempengaruhi manusia, tetapi juga bagaimana cara manusia memandang dan memperlakukan alam mempengaruhi kondisi psikologis serta perilakunya.

Salah satu gagasan pentingnya adalah bahwa manusia tidak sepenuhnya terpisah dari alam. Karena itu, masalah lingkungan dapat memiliki dimensi psikologis, sementara keterputusan manusia dari alam juga dapat menjadi bagian dari persoalan kesejahteraan manusia.

Baca Juga: Pasar Kamar Penjara

Dari mana istilah ini berasal?

Tokoh yang paling sering dikaitkan dengan istilah ecopsychology adalah sejarawan budaya Amerika Theodore Roszak. Ia menggunakan istilah tersebut dalam bukunya The Voice of the Earth yang terbit pada 1992.

Beberapa tahun kemudian, Roszak bersama Mary Gomes dan Allen Kanner menyunting buku Ecopsychology: Restoring the Earth, Healing the Mind (1995), yang ikut memperkenalkan bidang ini kepada khalayak lebih luas.

Namun, akar pemikirannya lebih panjang. Pemikiran tentang hubungan manusia, perkembangan psikologis, dan alam sudah muncul dalam berbagai tradisi sebelum istilah "ecopsychology" digunakan.

Paul Shepard, misalnya, membahas hubungan antara perkembangan manusia dan keterpisahan dari lingkungan alami sejak dekade 1980-an.

Apa yang sebenarnya dipelajari?

Mengutip dari EBSCO, ada beberapa tema besar dalam ecopsychology, yaitu;

1. Keterhubungan dengan alam (nature connectedness)

Ini membahas sejauh mana seseorang merasa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan sekadar seseorang yang sesekali mengunjungi alam.

Penelitian meta-analisis yang diterbitkan pada 2025, misalnya, menemukan hubungan positif antara nature connectedness dengan kontak dengan alam serta sejumlah indikator psikologis seperti kesejahteraan, makna hidup, dan kepuasan hidup.

2. Dampak berada di alam terhadap psikologi

Peneliti mempelajari apakah berada di ruang hijau, hutan, taman, pantai, atau lingkungan alami berkaitan dengan stres, suasana hati, perhatian, dan kesejahteraan.

Tinjauan sistematis terhadap berbagai meta-analisis menemukan bukti yang secara umum mendukung hubungan antara kontak dengan alam dan berbagai aspek kesehatan serta kesejahteraan manusia.

3. Krisis lingkungan dan kesehatan mental

Ecopsychology juga membahas bagaimana perubahan lingkungan dapat memunculkan respons psikologis seperti eco-anxiety (kecemasan yang berkaitan dengan perubahan lingkungan dan krisis iklim), ecological grief (kesedihan akibat kehilangan lingkungan, ekosistem, spesies, tempat tinggal, atau kondisi alam yang bermakna), rasa tidak berdaya menghadapi kerusakan lingkungan, dan kecemasan terhadap masa depan lingkungan.

Mengapa pergi ke alam bisa terasa menenangkan?

Dalam presentasi yang dibagikan di Slideshare menyebut jika lingkungan alami dapat memberikan kesempatan untuk mengurangi tuntutan perhatian, melakukan aktivitas fisik, mendapatkan pengalaman sensorik yang berbeda, serta menjauh sejenak dari lingkungan perkotaan dan aktivitas sehari-hari.

Tetapi penting untuk tidak menyederhanakannya menjadi klaim seperti "hutan menyembuhkan semua masalah mental." Bukti ilmiahnya lebih kompleks, dan kualitas penelitian berbeda-beda.

Menariknya, bukan cuma alam yang memengaruhi manusia. Ini yang membuat ecopsychology berbeda dari sekadar penelitian jalan-jalan ke taman bikin rileks. Tapi, bidang ini juga bertanya bagaimana kondisi psikologis dan cara berpikir manusia memengaruhi alam?

Misalnya, orang yang merasa dirinya bagian dari alam mungkin lebih memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Contoh sederhananya, coba bayangkan seseorang tinggal di kota yang sangat padat. Setiap hari ia berada di antara gedung, kendaraan, layar komputer, suara mesin, dan aktivitas pekerjaan. Pada akhir pekan, ia pergi ke hutan atau kawasan pegunungan.

Di sana ia berjalan kaki, melihat pepohonan, mendengar suara air, menghirup udara luar ruangan, dan mengurangi penggunaan gawai.

Dari perspektif ecopsychology, yang menarik bukan sekadar "pemandangannya bagus." Tapi, yang dipelajari adalah apa yang terjadi pada perhatian, emosi, persepsi diri, rasa keterhubungan, dan perilakunya ketika ia kembali berinteraksi dengan lingkungan alami.

Penelitian terbaru tidak hanya membandingkan manusia dengan alam nyata. Ada pula penelitian mengenai virtual nature, misalnya lingkungan alam melalui teknologi imersif atau VR.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT