SUKABUMIUPDATE.com - Pernah mendengar paribasa Sunda “saucap nyata, saciduh metu”? Mungkinbanyak yang belum tahu apa arti serta maksud dari kalimat tersebut.
Mengutip dari Sundaisme, paribasa itu menggambarkan seseorang yang perkataan atau ucapannya menjadi kenyataan.
Ungkapan ini berkaitan dengan kepercayaan bahwa perkataan seseorang memiliki kekuatan atau pengaruh yang besar, terutama ketika apa yang diucapkannya benar-benar terjadi.
Baca Juga: Geger! Wanita Muda Ditemukan Meninggal Tergantung di Rumahnya di Tegalbuleud Sukabumi
Secara sederhana, ungkapan ini dapat dipahami sebagai sekali berkata, menjadi kenyataan; sekali mengucapkan sesuatu, langsung terbukti terjadi.
Makna dalam kehidupan sehari-hari
Mengutip dari laman Kemendikbud, dalam tradisi Sunda, ungkapan ini sering dikaitkan dengan orang yang dituakan, orang tua, atau sosok yang dianggap memiliki ilmu dan kebijaksanaan.
Perkataannya dipercaya memiliki pengaruh besar dan dapat menjadi kenyataan.
Contohnya, orang tua menasehati anaknya agar tidak berkata kasar atau menyakiti hati orang lain.
Nasihat itu dapat disampaikan dengan mengingatkan bahwa ucapan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap sepele, sebab perkataan yang buruk bisa membawa dampak, sedangkan perkataan baik dapat menjadi doa dan harapan.
Baca Juga: Kesal Tak Kunjung Diperbaiki, Emak-emak di Sukabumi Tambal Sendiri Jalan Lio Santa yang Rusak Parah
Pesan moral paribasa “Saciduh Metu, Saucap Nyata”
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ungkapan ini:
- Berhati-hati dalam berbicara. Jangan mudah mengucapkan kata-kata buruk, sumpah serapah, atau ancaman kepada orang lain.
- Menghormati orang tua dan orang yang dituakan. Dalam nilai budaya Sunda, nasihat serta perkataan mereka patut didengarkan dengan baik.
- Menjaga ucapan agar membawa kebaikan. Biasakan menyampaikan doa, harapan, dan nasihat yang baik kepada sesama.
- Menyadari dampak perkataan. Ucapan dapat mempengaruhi perasaan, hubungan, dan tindakan seseorang, sehingga perlu disampaikan dengan bijaksana.
Saciduh metu, saucap nyata mengingatkan bahwa perkataan bukan sesuatu yang sepele. Dalam konteks budaya Sunda, ungkapan ini mencerminkan penghormatan terhadap sosok yang dianggap bijaksana sekaligus mengajarkan pentingnya menjaga lisan.
Editor : Dede Imran