Sukabumi Update

Arti Paribasa Sunda Ngalajur Nafsu Ngumbar Amarah, Sebuah Sikap yang Harus Dijauhi

Ilustrasi - Paribasa Sunda ngalajur nafsu ngumbar amarah mengandung nasihat tentang pentingnya mengendalikan emosi, menjaga sikap, serta berpikir jernih sebelum bertindak. (Sumber : Freepik/@freepik)

SUKABUMIUPDATE.com - Dalam kehidupan sehari-hari, mengendalikan hawa nafsu dan amarah merupakan hal penting agar seseorang tidak bertindak gegabah hingga merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam bahasa Sunda, ungkapan "Ngalajur Nafsu Ngumbar Amarah" menggambarkan perilaku seseorang yang menuruti keinginan dan melampiaskan kemarahan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Ungkapan ini mengandung nasihat tentang pentingnya mengendalikan emosi, menjaga sikap, serta berpikir jernih sebelum bertindak.

Secara sederhana, ungkapan ini dapat dipahami melalui dua bagian yaitu;

Baca Juga: Mengubah Definisi Korupsi di Indonesia, Klarifikasi DEN dan Pendapat KPK

Ngalajur nafsu yang artinya menuruti keinginan atau hawa nafsu secara berlebihan tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Dan ngumbar amarah yang artinya melampiaskan kemarahan secara bebas tanpa berusaha mengendalikan emosi.

Jika digabungkan, Ngalajur Nafsu Ngumbar Amarah menggambarkan perilaku seseorang yang membiarkan dorongan hati dan kemarahannya menguasai pikiran, sehingga bertindak tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya suatu tindakan.

Makna dan pesan moral

Paribasa ini mengingatkan bahwa manusia perlu mengendalikan hawa nafsu dan emosi dalam menghadapi berbagai persoalan.

Ketika seseorang dikuasai kemarahan, ia bisa mengucapkan kata-kata kasar, menyakiti perasaan orang lain, bahkan mengambil keputusan yang kemudian disesalinya.

Baca Juga: Noda Membandel di Baju Susah Hilang? Coba 7 Cara Ini di Rumah

Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini dapat digunakan untuk menggambarkan orang yang mudah tersulut emosi, melampiaskan kekesalan kepada orang lain, atau bertindak semaunya hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.

Pesan moralnya adalah pentingnya mengendalikan diri sebelum bertindak. Marah merupakan emosi yang wajar dirasakan manusia, tetapi melampiaskannya tanpa pertimbangan dapat menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, seseorang sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu, berpikir jernih, dan menyelesaikan masalah dengan cara yang bijaksana.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari

Misalnya, seseorang merasa tersinggung karena pendapatnya dikritik oleh rekan kerja. Alih-alih mendengarkan penjelasan atau membicarakan masalah tersebut dengan tenang, ia justru membentak, mengeluarkan kata-kata kasar, dan mempermalukan rekannya di depan orang lain.

Perilaku tersebut dapat menggambarkan makna Ngalajur Nafsu Ngumbar Amarah, yakni membiarkan emosi menguasai diri hingga tindakan yang dilakukan justru memperburuk keadaan.

Contoh lainnya adalah orang tua yang melampiaskan kemarahan kepada anak secara berlebihan ketika anak melakukan kesalahan kecil. Padahal, masalah tersebut sebenarnya bisa diselesaikan melalui teguran yang baik dan penjelasan yang bijaksana.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT