Sukabumi Update

4 Mitos Seputar Hujan dalam Masyarakat Sunda, dari Hujan Poyan hingga Cerita Bidadari

Ilustrasi - Beberapa mitos seputar hujan yang berkembang di masyarakat Sunda (Sumber : AI chatGPT)

SUKABUMIUPDATE.com - Ada banyak mitos tentang hujan dalam masyarakat Sunda yang berkaitan dengan kepercayaan turun-temurun, tradisi meminta hujan, tanda-tanda alam, hingga berbagai pantangan yang berkembang di lingkungan masyarakat.

Sebagian kepercayaan tersebut lahir dari kedekatan masyarakat dengan alam dan kehidupan agraris, sedangkan sebagian lainnya diwariskan melalui cerita lisan antargenerasi.

Meski cerita-cerita ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun banyak orang yang masih mempercayainya. Berikut beberapa mitos seputar hujan yang berkembang di masyarakat Sunda dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: 6 Pilihan Pemandian Air Panas di Sukabumi Untuk Liburan di Musim Hujan

1. Hujan poyan dipercaya bisa menyebabkan sakit

Dalam istilah cuaca masyarakat Sunda, hujan poyan merujuk pada hujan yang turun ketika matahari masih bersinar. Fenomena ini terkadang juga dihubungkan dengan kemunculan pelangi atau katumbiri.

Menurut catatan budaya populer Sunda, terdapat kepercayaan bahwa anak-anak sebaiknya tidak bermain hujan ketika hujan poyan karena dikhawatirkan dapat menyebabkan sakit.

Selain itu, hujan yang turun saat matahari masih bersinar terang ini sering dikaitkan dengan mitos bahwa ada orang yang meninggal dunia, atau ada "riwa" (makhluk halus) yang sedang lewat.

Baca Juga: 5 Tuntutan Aksi Sumpah Pemuda 28 Oktober: Mahasiswa Suarakan Indonesia Sadar

2. Pelangi dipercaya sebagai tempat turunnya bidadari

Pelangi atau katumbiri juga memiliki tempat dalam cerita dan kepercayaan tradisional. Salah satu kepercayaan yang tercatat dalam tulisan mengenai istilah cuaca Sunda menyebutkan bahwa pelangi merupakan tempat turunnya bidadari.

Dalam penjelasan ilmiah, pelangi terbentuk ketika cahaya matahari mengalami pembiasan, pemantulan, dan penguraian warna oleh tetesan air di udara.

3. Suara Bangkong Tanda Hujan Segera Turun

Jika mendengar suara bangkong (sejenis katak) berbunyi secara bersahutan dengan nada tinggi di malam hari, masyarakat Sunda percaya bahwa hujan lebat akan segera turun dalam waktu dekat.

Secara alamiah, perubahan tekanan udara dan kelembapan menjelang hujan memang memicu katak untuk lebih aktif berbunyi (memanggil pasangan).

Namun bagi masyarakat tradisional, ini adalah kode alam (siloka) yang sangat diandalkan untuk bersiap-siap.

4. Membalikkan Sapu Lidi untuk Menolak Hujan

Jika ada acara penting di luar ruangan dan awan hitam mulai menggantung, ada mitos untuk menyimpan sapu lidi secara terbalik (bagian ujung lidi menghadap ke atas) di sudut halaman, kadang ditancapkan bawang merah dan cabai di ujungnya. Kepercayaan ini dianggap bisa menahan atau menggeser hujan ke tempat lain.

Itulah beberapa mitos seputar hujan yang berkembang di masyarakat Sunda. Meski hal tersebut belum bisa dibuktikan secara ilmiah, namun tetap menjadi daya tarik tersendiri saat musim hujan tiba.

Editor : Dede Imran

Tags :
BERITA TERKAIT