SUKABUMIUPDATE.com - Dalam kehidupan sehari-hari, sikap serakah atau ingin menguasai segala sesuatu untuk kepentingan pribadi kerap menimbulkan perselisihan.
Perilaku tersebut tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga dapat merusak hubungan dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Dalam budaya Sunda, sikap seperti ini diingatkan melalui ungkapan “Ulah Ngarawu ku Siku”. Secara kiasan, ungkapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak bersikap tamak, mengambil hak orang lain, atau menginginkan sesuatu secara berlebihan.
Baca Juga: Legenda Mata Air Kabuyutan Sirah Cipelang, Kisah Buyut Ahsan Hingga Pangeran Kornel
Ungkapan ini menggambarkan perilaku manusia yang tidak pernah merasa cukup dan selalu ingin mendapatkan keuntungan lebih, bahkan dengan merugikan orang lain.
Secara harfiah, Ulah Ngarawu ku Siku dapat diterjemahkan sebagai “jangan mengambil dengan siku”.
Dalam makna kiasannya, ungkapan ini merupakan sindiran terhadap orang yang serakah dan ingin menguasai banyak hal untuk kepentingan dirinya sendiri.
Seseorang dengan perilaku tersebut biasanya tidak memikirkan hak orang lain karena terlalu berambisi mendapatkan keuntungan.
Baca Juga: Produksi Kelapa Sawit Sukabumi Tembus 104 Ribu Ton! Tertinggi di Jawa Barat
Makna dan pesan moral
Paribasa Ulah Ngarawu ku Siku mengajarkan pentingnya memiliki sikap sederhana, tidak serakah, dan menghargai hak sesama.
Dalam kehidupan sehari-hari, sifat serakah dapat terlihat dari berbagai perilaku. Misalnya, seseorang yang sudah mendapatkan bagian atau keuntungan, tetapi masih berusaha mengambil jatah orang lain.
Ada pula orang yang ingin menguasai semua kesempatan meskipun sebenarnya kesempatan tersebut seharusnya dibagi bersama.
Perilaku seperti ini dapat menimbulkan perselisihan, merusak hubungan sosial, dan menghilangkan kepercayaan orang lain.
Pesan moral yang terkandung dalam ungkapan ini adalah manusia sebaiknya tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi. Setiap orang perlu memahami batasan, menghormati hak orang lain, dan belajar merasa cukup dengan apa yang dimiliki.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari
Berikut beberapa contoh perilaku yang dapat digambarkan melalui paribasa Ulah Ngarawu ku Siku.
1. Dalam lingkungan pekerjaan.
Seorang pegawai yang sudah mendapatkan tugas dan tanggung jawab sesuai porsinya, tetapi masih berusaha mengambil pekerjaan atau keuntungan yang menjadi hak rekan lainnya. Ia ingin mendapatkan pengakuan dan penghargaan lebih banyak tanpa memikirkan kepentingan tim.
2. Dalam kehidupan keluarga.
Beberapa saudara mendapatkan pembagian warisan sesuai kesepakatan keluarga. Namun, salah satu anggota keluarga masih berusaha mengambil bagian lebih besar dengan mengabaikan hak saudara lainnya.
3. Dalam kehidupan bermasyarakat.
Seseorang yang sudah mendapatkan bantuan dari lingkungan sekitar, tetapi masih berusaha mengambil jatah bantuan yang seharusnya diberikan kepada warga lain yang lebih membutuhkan.
Ketiga contoh tersebut memperlihatkan perilaku mementingkan diri sendiri dan tidak menghargai hak orang lain.
Editor : Dede Imran