Sukabumi Update

Virus Cicada, Antara Mutasi Biologis dan Pusaran Teori Konspirasi

Ilustrasi AI: Perkembangan virus cicada (Sumber: chatgpt)

Oleh: Rindi Andriani

Munculnya istilah “Virus Cicada” kembali membuat media sosial ramai diperbincangkan. Banyak narasi yang mengaitkannya dengan pendiri Microsoft, Bill Gates, bahkan menyebutnya sebagai “pandemi terjadwal” berikutnya. Namun, di balik ramainya teori dan spekulasi yang beredar, penting untuk memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan Cicada dan bagaimana keterkaitannya dengan dunia kesehatan global.

Cicada sendiri merupakan nama yang digunakan untuk menyebut salah satu subvarian baru COVID-19, yakni BA.3.2. Varian ini sempat terdeteksi beberapa waktu lalu, kemudian menghilang dari perhatian publik, sebelum akhirnya kembali muncul dengan jumlah mutasi yang cukup besar. Sejumlah lembaga kesehatan internasional di Eropa dan Amerika Serikat kini memantau perkembangan varian tersebut secara ketat karena dinilai memiliki karakteristik mutasi yang berbeda dibandingkan varian sebelumnya.

Informasi mengenai varian ini pertama kali ramai dibahas setelah GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunization)

 menerbitkan laporan berjudul “8 Things You Need to Know About the BA.3.2 ‘Cicada’ Variant”. Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa varian Cicada memiliki sekitar 75 mutasi pada protein spike, bagian virus yang berperan penting dalam proses infeksi ke tubuh manusia. Karena itulah, lembaga kesehatan global mulai mengkaji apakah vaksin yang ada saat ini masih efektif atau perlu diperbarui.

Nama Bill Gates kemudian ikut diseret dalam berbagai teori konspirasi karena Bill & Melinda Gates Foundation diketahui menjadi salah satu pendukung dana terbesar bagi GAVI. Yayasan tersebut memang selama bertahun-tahun aktif mendanai berbagai program kesehatan dunia, termasuk pengembangan vaksin, sistem deteksi wabah, hingga distribusi imunisasi di negara berkembang.

Kecurigaan publik semakin berkembang karena pidato TED Talk Bill Gates pada tahun 2015 kembali viral. Dalam pidatonya, Gates memperingatkan bahwa dunia belum siap menghadapi pandemi virus besar di masa depan. Sebagian orang menganggap peringatan itu sebagai bentuk prediksi berdasarkan riset kesehatan global, sementara kelompok lain menilainya sebagai bagian dari “rencana” yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Di sisi lain, sejumlah penelitian laboratorium menunjukkan bahwa vaksin generasi lama kemungkinan memiliki efektivitas yang lebih rendah terhadap varian baru seperti Cicada. Kondisi ini memunculkan kemungkinan perlunya pembaruan vaksin oleh perusahaan farmasi seperti Pfizer, Moderna dan BioNTech. Ketiga perusahaan tersebut sebelumnya memang bekerja sama dalam pengembangan vaksin COVID-19 dan memiliki hubungan pendanaan atau kerja sama dengan berbagai lembaga kesehatan global, termasuk Gates Foundation.

Dari sinilah muncul narasi yang banyak beredar di media sosial. Sebagian pihak melihat adanya pola berulang sejak pandemi COVID-19 dimulai:

  1. Tahun 2020, pandemi COVID-19 membuat negara-negara dunia menggelontorkan dana besar untuk program vaksinasi global melalui skema COVAX yang didukung GAVI.
  2. Tahun 2021, munculnya varian Delta memicu kebutuhan dosis kedua dan booster, sehingga kontrak pengadaan vaksin kembali meningkat tajam.
  3. Tahun 2022, varian Omicron yang mampu menghindari sebagian antibodi vaksin lama mendorong reformulasi vaksin baru dan kembali membuka pasar besar bagi industri farmasi.

Bagi sebagian orang, pola tersebut dianggap sebagai bukti bahwa setiap kemunculan varian baru selalu diikuti kebutuhan vaksin baru dan keuntungan besar bagi perusahaan farmasi. Narasi ini kemudian berkembang menjadi tuduhan bahwa tokoh-tokoh tertentu, termasuk Bill Gates, memiliki kepentingan ekonomi di balik isu pandemi.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa varian Cicada sengaja diciptakan atau bahwa pandemi dirancang untuk kepentingan bisnis tertentu. Sebagian besar lembaga kesehatan dunia tetap menilai mutasi virus sebagai proses biologis alami yang memang dapat terjadi seiring penyebaran virus dari waktu ke waktu.

Di era media sosial, informasi seperti ini memang mudah berkembang menjadi teori besar yang memancing perdebatan. Karena itu, masyarakat perlu memilah informasi dengan kritis, memeriksa sumber resmi, dan tidak langsung mempercayai narasi yang belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Editor : Muhammad Farhan Al Rasyid

Tags :
BERITA TERKAIT