Pada 9 Juni 2026 sekitar pukul 17.45 WIB, saya bersama suami dan dua anak kami yang masih kecil mengalami kejadian yang cukup mengkhawatirkan di sekitar Terminal Bus Jalur Lingkar Selatan, Kota Sukabumi, tepatnya di depan sebuah pedagang nasi goreng.
Saat itu kami sedang mengendarai sepeda motor bersama bayi berusia 6 bulan dan anak pertama kami yang berusia 4,5 tahun. Tiba-tiba sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang pria menghampiri kami. Salah seorang dari mereka berteriak, "Teh, saya dari WOM."
Awalnya saya dan suami tidak mengerti maksud mereka. Namun kemudian mereka meminta kami berhenti di pinggir jalan. Setelah kami berhenti, mereka mengaku bahwa motor yang kami gunakan masih memiliki tunggakan cicilan.
Kami kaget karena motor tersebut tidak pernah kami kredit. Mereka kemudian memaksa kami untuk turun dari motor. Padahal saat itu kami sedang membawa dua anak kecil.
Ketika suami saya berusaha menjelaskan, tiba-tiba datang seorang pria lain berusia sekitar 40 tahun dengan postur tubuh tinggi dan besar. Awalnya saya mengira ia warga yang hendak melerai, namun ternyata ia juga bagian dari kelompok tersebut. Pria itu ikut membentak suami saya dan meminta menunjukkan BPKB motor.
Saat itu BPKB berada di rumah. Mereka tidak percaya ketika suami menjelaskan bahwa motor tersebut dibeli dari pemilik kedua. Mereka bahkan memaksa suami saya untuk menghubungi pemilik sebelumnya, meskipun saat itu sudah menjelang Magrib.
Karena tidak memiliki kuota internet, suami saya meminta hotspot kepada salah seorang dari mereka. Setelah sambungan telepon dengan pemilik sebelumnya tersambung dan belum sempat berbicara banyak, tiba-tiba mereka mematikan hotspot tersebut.
Anehnya, salah seorang pria yang sejak awal menghentikan kami langsung berkata, "Lunas, sudah lunas."
Mereka kemudian mempersilakan kami pergi dan berkata, "Kalau nanti ada yang menyetop lagi, bilang saja sudah lunas. Kalau ada waktu, ambil surat pelunasan di kantor."
Ucapan itu justru membuat kami semakin bingung. Kantor yang mana? Dan untuk apa mengambil surat pelunasan, sementara kami tidak pernah mengajukan kredit motor?
Keesokan harinya, suami saya menghubungi pemilik motor sebelumnya. Dari penjelasannya diketahui bahwa motor tersebut memang tidak bermasalah. Bahkan saat dicek, kredit kendaraan tersebut dahulu dilakukan melalui FIF Bogor, bukan WOM seperti yang diklaim oleh orang-orang tersebut.
Menurut pemilik sebelumnya, modus seperti ini sering dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai debt collector atau petugas leasing. Mereka biasanya mengincar masyarakat yang kurang memahami aturan hukum terkait penarikan kendaraan.
Untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut, suami saya kemudian mendatangi kantor polisi terdekat. Dari penjelasan yang diterima, kendaraan yang masih dalam masa kredit tidak mungkin memiliki BPKB yang sudah diserahkan kepada pemilik. Selain itu, kendaraan kami juga memiliki dokumen lengkap dan pajaknya selalu dibayar tepat waktu.
Karena itu kami meyakini bahwa orang-orang tersebut bukan petugas resmi leasing, melainkan pelaku yang diduga menjalankan modus penipuan dengan mengatasnamakan perusahaan pembiayaan.
Saya membagikan pengalaman ini agar masyarakat lebih waspada dan tidak menjadi korban berikutnya. Saya khawatir apabila yang mengalami kejadian serupa adalah ibu-ibu, pelajar, atau masyarakat yang kurang memahami aturan hukum, mereka bisa saja menyerahkan kendaraannya karena takut atau panik.
Dari pengalaman kami, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila menghadapi situasi serupa:
- Berhentilah di tempat yang ramai dan aman.
- Jangan menyerahkan kendaraan kepada siapa pun.
- Jangan turun dari kendaraan apabila situasi terasa mencurigakan.
- Minta identitas resmi dan surat tugas yang sah.
- Segera hubungi Call Center Polri 110 yang dapat diakses secara gratis apabila merasa terancam atau membutuhkan bantuan.
Kejahatan bisa terjadi di mana saja dengan berbagai modus yang terus berkembang. Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada pihak yang mengatasnamakan suatu instansi tanpa bukti yang jelas.
Semoga pengalaman ini dapat menjadi pelajaran bersama agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban modus serupa.
Semoga kita semua senantiasa berada dalam perlindungan Allah SWT. Aamiin.
Penulis: Aisyah Nur Jannah
Editor : Denis Febrian