Sukabumi Update

Belasan Tahun Hidup di Zona Merah, Warga Kampung Nangewer Purabaya Masih Menanti Kepastian Relokasi

Sisa bangunan rumah warga di Kampung Nangewer, Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, yang rusak akibat pergerakan tanah dan longsor. (Sumber Foto: Dok. KKN 17 UMMI Desa Neglasari)

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 17 Desa Neglasari Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) yang tengah melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, menyoroti kondisi masyarakat di Kampung Nangewer, Kedusunan Kalibunder, yang hingga kini masih hidup di bawah ancaman longsor.

Melalui kegiatan observasi lapangan dan wawancara dengan aparat desa serta warga setempat yang terdampak, Selasa (28/7/2026), mahasiswa KKN menemukan bahwa masyarakat masih menantikan kepastian terkait relokasi dan penanganan wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona merah.

Di balik keindahan perbukitan Kampung Nangewer, Dusun Kalibunder, tersimpan kecemasan yang terus menghantui masyarakat. Sudah lebih dari satu dekade mereka hidup di wilayah yang kini ditetapkan sebagai zona merah rawan longsor. Di tengah ancaman bencana yang terus berulang, warga mengaku masih menunggu kepastian mengenai masa depan tempat tinggal mereka.

Kepala Dusun Kalibunder, bapak Endah, menjelaskan bahwa nama Kalibunder berasal dari keberadaan sebuah sungai yang memiliki bentuk melingkar atau bulat.

"Kalibunder dinamakan Kalibunder karena di sini ada kali (sungai) yang bentuknya bundar atau bulat, sehingga masyarakat sejak dulu menyebut wilayah ini Kalibunder," ujarnya.

Baca Juga: Harapan Penyintas dan PR Pemerintah dalam Penanganan Pascabencana Sukabumi

Namun, di balik sejarah nama tersebut, Kalibunder menyimpan catatan panjang mengenai bencana pergerakan tanah yang mengubah kehidupan masyarakat.

Menurut Endah, bencana besar pertama terjadi pada tahun 2014. Saat itu hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama satu hari satu malam tanpa henti. Keesokan harinya, terjadi pergerakan tanah sehingga warga terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mengungsi selama kurang lebih 10 hari di SDN Kalibunder.

Setelah melakukan kajian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) saat itu memperkirakan bahwa dalam kurun waktu sekitar 10 tahun ke depan wilayah tersebut berpotensi kembali mengalami longsor.

Prediksi tersebut akhirnya terbukti. Pada tahun 2024, bencana serupa kembali melanda Kampung Nangewer. Dampaknya jauh lebih besar. Sebanyak tiga rumah hancur total, 47 rumah mengalami kerusakan berat, sementara puluhan rumah lainnya mengalami kerusakan sedang hingga ringan. Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG menetapkan dua wilayah yaitu RT 48 dan RT 49 di Kampung Nangewer sebagai zona merah karena memiliki tingkat risiko longsor yang tinggi.

Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, masyarakat yang tinggal di dua RT tersebut kini memilih mengungsi sementara demi menghindari jatuhnya korban jiwa. Pemerintah juga memberikan bantuan darurat berupa makanan, pakaian, serta penanganan selama masa pengungsian.

"Kami berharap pemerintah dapat segera merealisasikan relokasi secara menyeluruh dengan menyediakan hunian tetap yang aman dan layak. Masyarakat ingin hidup tenang tanpa terus dihantui ancaman longsor," katanya.

Baca Juga: Sekda Sukabumi Lepas 720 Mahasiswa KKN UMMI, Diminta Jadi Agen Perubahan di Desa

Bertani Tak Lagi Menjanjikan

Ketua RT 49 bapak Olih mengungkapkan bahwa bencana tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat.

Mayoritas warga bekerja sebagai petani. Namun sejak bencana 2014 dan kembali diperparah pada 2024, sistem irigasi di sekitar Sungai Cikaso mengalami kerusakan sehingga lahan pertanian tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Akibatnya ketahanan pangan warga Nangewer terancam yang sebelumnya padi yang dihasilkan untuk kebutuhan sehari-hari (subsisten), sekarang mereka harus membeli beras dan lauk-pauk dengan harga yang tidak biasanya. Tak hanya itu, banyak warga yang kehilangan mata pencahariannya dan beralih menjadi pendulang emas dengan penghasilan yang sangat tidak menentu. Dalam sehari, pendapatan mereka bahkan hanya mencapai sekitar Rp20.000.

Kondisi ekonomi masyarakat juga semakin sulit karena jumlah penerima bantuan sosial mengalami penurunan. Jika sebelumnya sekitar 23 warga menerima Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan sosial lainnya, kini hanya sekitar 6 orang yang masih terdaftar sebagai penerima bantuan.

Mengungsi Saat Fajar Menjelang

Ketua RT 49 bapak Onih menjelaskan ancaman longsor menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Nangewer. Saat hujan deras turun, mereka selalu bersiap meninggalkan rumah.

“Pada salah satu kejadian, warga harus mengungsi pada dini hari sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 WIB menuju wilayah Kalibunder dengan berjalan kaki. Warga yang sedang sakit harus dievakuasi menggunakan tandu sederhana dengan cara digotong oleh tetangga. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, bencana tersebut menyebabkan banyak rumah mengalami retak-retak hingga tidak lagi layak dihuni” ujarnya.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, bencana tersebut menyebabkan banyak rumah mengalami retak-retak hingga tidak lagi layak dihuni.

Hingga kini, sekitar 55 kepala keluarga masih tinggal di wilayah terdampak. Sebagian kecil telah berpindah secara mandiri menggunakan biaya pribadi. Sementara itu, sekitar 102 warga disebut pernah dijanjikan akan direlokasi hunian tetap, tetapi hingga sekarang belum ada kepastian mengenai realisasinya.

Trauma yang Belum Sembuh

Luka akibat bencana juga masih membekas dalam kehidupan warga. Salah seorang warga RT 48 ibu Mirliya menceritakan bahwa rumah milik ibunya hancur akibat longsor dan hingga kini belum pernah diperbaiki. Karena tidak memiliki tempat tinggal yang layak, ibunya yang telah lanjut usia memilih tinggal seorang diri di sebuah saung sederhana di daerah dekat pesawan bambu.

Menurut keluarga, sang ibu mengalami trauma berat sejak peristiwa longsor tersebut. Setiap kali hujan turun, ia merasa ketakutan, menangis, dan selalu teringat pada bencana yang pernah menghancurkan rumahnya.

Meskipun anaknya tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut, perempuan lanjut usia itu menolak tinggal bersama keluarganya karena trauma yang masih sangat mendalam.

Sementara itu, kondisi ekonomi keluarga juga semakin berat. Suami ibu Mirliya tidak lagi mampu bekerja setelah sakit pasca bencana terjadinya longsor. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ibu Mirliya kini berjualan gorengan di sekolah.

Selama masa pengungsian, masyarakat memang menerima bantuan berupa makanan dan pakaian. Namun setelah itu, menurut ibu Mirliya, bantuan lanjutan berupa perbaikan rumah maupun pembangunan hunia tetap belum kunjung terealisasi. Akibatnya, masih banyak rumah yang dibiarkan dalam kondisi rusak atau retak.

Mahasiswa KKN Turut Berkontribusi dalam Mitigasi Bencana

Selain melakukan pendataan dan menggali informasi dari masyarakat, Mahasiswa KKN 17 Desa Neglasari Universitas Muhammadiyah Sukabumi juga berupaya memberikan kontribusi nyata melalui kegiatan penghijauan di kawasan rawan longsor. Mahasiswa melakukan penanaman pohon di beberapa titik di Kampung Nangewer sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan sekaligus mendukung upaya mitigasi bencana.

Penanaman pohon dipilih karena vegetasi memiliki peran penting dalam memperkuat struktur tanah, mengurangi erosi, meningkatkan daya resap air hujan, serta membantu mengurangi potensi terjadinya longsor. Meskipun bukan solusi utama dalam menangani persoalan zona merah, kegiatan tersebut menjadi langkah kecil yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kawasan rawan bencana.

Mahasiswa KKN Kelompok 17 UMMI melakukan penanaman pohon di kawasan rawan longsor Kampung Nangewer, Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi.Mahasiswa KKN Kelompok 17 UMMI melakukan penanaman pohon di kawasan rawan longsor Kampung Nangewer, Desa Neglasari, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi.

Menunggu Kepastian

Bagi masyarakat Kampung Nangewer, persoalan terbesar saat ini bukan hanya ancaman longsor, tetapi juga ketidakpastian. Warga berharap pemerintah segera memberikan penjelasan yang jelas mengenai status zona merah, melakukan peninjauan langsung ke lokasi, serta merealisasikan relokasi bagi masyarakat yang memang harus meninggalkan wilayah tersebut.

Selain itu, masyarakat juga berharap adanya solusi terhadap kerusakan lahan pertanian dan sistem irigasi yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Bagi warga Nangewer, memiliki rumah yang aman bukan sekadar kebutuhan, melainkan harapan untuk mengakhiri rasa takut yang terus muncul ketika hujan turun.

Melalui kegiatan observasi, wawancara, dan aksi penanaman pohon yang dilakukan oleh Mahasiswa KKN 17 Desa Neglasari Universitas Muhammadiyah Sukabumi, diharapkan kondisi Kampung Nangewer dapat semakin dikenal oleh berbagai pihak sehingga mendorong perhatian dan kebijakan yang lebih nyata bagi masyarakat terdampak. Upaya mitigasi melalui penghijauan menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa, namun penyelesaian jangka panjang tetap memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.

Hingga saat ini, masyarakat masih menunggu arah kebijakan yang pasti. Di tengah status sebagai zona merah, mereka hidup dalam ketidakpastian bertahan di tanah yang rawan bencana, sambil berharap pemerintah segera menghadirkan solusi nyata bagi masa depan mereka.

Penulis: Astriana Srikandi, Mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT