SUKABUMIUPDATE.com - Alkateri merupakan band pendatang baru dari Kota Bandung yang mengusung aliran post-rock dan shoegaze (rock alternatif yang ditandai distorsi dan efek gitar). Band ini terbentuk tahun 2021, Fauzan Ghifari (Vokal), Rifqi Maulana (synth), Galuh Ilham (gitar), Reza Zulmi (gitar), Hadiyan Fazari (bass), dan Felmy Herdianto (drum).
Sebelumnya, Alkateri merupakan crew teknis dari band asal Sumedang, The Panturas, yang dikenal dengan Lifeguard Panturas. Nama Alkateri merupakan salah satu jalan di Kota Bandung, menurut para personilnya, Jalan Alkateri memiliki nuansa kuat dan estetika yang begitu kental dengan identitas Kota Bandung dan merepresentasikan karakter mereka.
Baca Juga: Polri Persilahkan Warga yang Mudik Titip Motor dan Mobil di Kantor Polisi Terdekat, Gratis!
Album pertama mereka diberi nama ‘Kontemplasi’ delapan lagu menghiasi album pertama Alkateri dengan berbagai macam suasana lagu yang dapat membawa pendengar terbawa suasana bahkan hingga jingkrak kegirangan. Muatan nuansa post-rock nampak hadir di setiap liriknya. Lagu seperti “Egosentris”, “Zaman”, “Lebih Dari”, “Kontemplasi”, “Esok”, “Penetrasi”, “BDO” dan “Buang” menjadi renungan bagi setiap pendengar.
Jika menengok setiap kolom komentar unggahan klip Alkateri didominasi oleh komentar bahasa sunda“teu kudu tarik, nu penting ceurik,” yang memiliki arti “tidak perlu keras, yang penting menangis,” hal ini menggambarkan bahwa banyak pendengar terbawa suasana dalam kesedihan semakin mendalam.
Baca Juga: Hari Perempuan Sedunia: 9 Cara Menjadi Wanita High Value dan Percaya Diri
“Lebih Dari” jadi lagu yang kerap ditunggu-tunggu oleh para penonton yang menyaksikan langsung. Lebih Dari memiliki lirik yang begitu melantangkan kejujuran dalam melontarkan perasaan. Selain itu, dalam penggalan liriknya menyimpan dua orang yang tengah berharap untuk meraih kebahagiaan yang kekal namun perlu waktu untuk mendapatkan itu semua.
Bedah lirik lagu “Lebih Dari” Alkateri;
Atas dasar muram
Yang hadir di dalam benak
Meratapi renjana sejenak
Suasana muram dalam hati kerap hinggap, namun kita perlu menyelami diri sendiri untuk mendapatkan jawaban atas kemuraman tersebut.
Bayang terang bulan
Bantu redupkan temaram
Jalan menelusuri malam
Bayang-bayang cahaya bulan memiliki makna meredakan kegelisahan hati serta membantu meredupkan kemuraman (temaram) untuk tetap berjalan menuju tujuan hidup yang hendak dicapai.
Bak daun yang luruh
Dari tangkai dan terbang
Lalu jatuh menghantam tanah
Bak daun yang luruh merupakan bentuk analogi kehilangan terhadap pasangan, sementara Dari tangkai dan terbang menggambarkan bahwa perasaan seseorang tak dapat dipaksakan. Jika terlalu berlarut-larut maka seseorang layaknya Jatuh menghantam tanah akan mengalami kerapuhan atau kenyataan pahit.
Andai ia mampu
Menahan angannya melangkah
Akan kupastikan
Lebih dari indah
Namun jika salah satu pasangan mampu menahan angannya agar tidak pergi, pasangan lainnya akan tetap berusaha walau dalam keterbatasan, sehingga tercipta makna yang lebih dari indah.
Majas yang terluka
Adalah apa adanya
Pulih berangsur dalam tawa
Majas yang terluka memiliki makna secara simbolis seseorang tengah mengalami kekecewaan. Adalah apa adanya merupakan bentuk kejujuran dalam menghadapi kesedihan tersebut. Namun perlu untuk segera pulih dari rasa sakit tersebut (Pulih berangsur dalam tawa)
Dari dua insan
Ratusan macam harapan
Kejar satu muara senang
Dari dua insan menggambarkan dua orang yang terlibat perasaan untuk merealisasikan keinginan dan harapannya (Ratusan macam harapan) keduanya perlu berjalan bersama untuk sampai ke tujuan yang sama untuk mendapatkan hasil kebahagiaan (Kejar satu muara senang)
Sumber: dari berbagai sumber
Editor : Muhammad Farhan Al Rasyid