Sukabumi Update

Berawal Bau Bensin Menyengat, Berikut Kronologi Kebakaran Depo Pertamina Plumpang

Berawal Bau Bensin Menyengat, Berikut Kronologi Kebakaran Depo Pertamina Plumpang. | (Sumber : Twitter/@anorganikk.)

SUKABUMIUPDATE.com - Kebakaran hebat menimpa Depo Pertamina Plumpang, Koja, Jakarta Utara, pada Jumat 3 Maret 2023 sekitar pukul 20.00 WIB. Kejadian itu turut memakan korban jiwa mencapai belasan orang.

Kobaran api dari ledakan Depo Pertamina Plumpang membuat warga di sekitaran lokasi panik dan berhamburan untuk menyelamatkan diri. Dari video yang beredar, terlihat api membungbung tinggi disertai ledakan yang hebat.

Tragedi Depo Pertamina Plumpang itu menyisakan duka yang sangat mendalam bagi para korban. Tak sedikit, ucapan belasungkawa datang dari berbagai elemen masyarakat yang bersimpati atas kejadian mengerikan itu.

Baca Juga: Simpati Atas Tragedi Depo Pertamina Plumpang, Persija Jakarta Kirimkan Doa

Lantas, seperti apa kronologi kebakaran Depo Pertamina Plumpang yang mensuplai 20 persen pasokan BBM harian di RI tersebut? Dilansir dari Tempo.co, berikut kronologinya.

Berawal dari bau bensin yang menyengat

Detik-detik awal kebakaran masih terpaut di ingatan Heni Anggraeni, 51 tahun. Heni ingat. Beberapa saat sebelum ledakan, petir mengguntur. Disusul hujan. Tak lama, bau bensin menyengat, lalu aroma gas lagi. Setelah mencium aroma bensin dan gas, Heni ke luar rumah.

"Pas saya keluar dengar ledakan," tutur warga Bendungan Melayu ini. Saat itulah api mengepung. Orang-orang, kata Heni, berlarian. Mereka saling berdesak-desakkan.

Heni bergegas, ia menyelamatkan anak-anak. Mereka meninggalkan rumah. Disusul ledakan kedua. "Ledakan paling besar yang ke dua, yang ledakan ketiga itu udah asap," tutur Heni, warga RT 10 RW 01, yang rumahnya berjarak dari lokasi ledakan. "Orang lari desak-desakan."

Baca Juga: IRT Jadi Tersangka Kasus Investasi Bodong di Sukabumi, Korban Sementara 60 Orang

Peristiwa ledakan yang menelan nyawa sejumlah orang dan puluhan korban terbakar itu, menurut Heni, menyeramkan. Dia dan keluarga berlari di bawah gelap. Mereka saling dorong menyelamatkan diri. "Meledak sampai enggak kelihatan. Udah mati lampu. Udah gelap." katanya.

Saat berlarian mengungsi dari rumah, di bawah gelap itu, Heni menyaksikan pria lanjut usia terjatuh, perempuan hamil terpelanting. "Orang hamil pada jatuh. Bapak-bapak jatuh," kata dia, mengenang. "Seram banget lihatnya."

80 persen pasien mengalami luka bakar

Menurut dr. Aditiya Rachman, setengah jam setelah ledakan, datang tiga orang korban. Sebagian besar yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat korban terbakar.

"Sekitar 80 persen pasien yang dirawat di sini korban luka bakar," ujar Aditiya, dokter IGD Mulyasari. Setelah itu para korban dirujuk ke sejumlah rumah sakiy. Sebanyak 12 orang dirujuk ke RSUD Koja; 1 orang ke Rumah Sakit Yarsi; dan 1 di Rumah Sakit Pertamina.

Baca Juga: Catat! Jadwal, Link Streaming Hingga Daftar Pembalap WSBK Mandalika 2023

Heni Anggraeni yang sejak tadi berlindung di teras rumah sakit menyaksikan para korban kebakaran depo Pertamina Plumpang didatangkan dengan mobil ambulans. Para korban itu, menurut Heni, dibawah hampir 20 ambulans. Ia mengaku melihat korban ledakan ini dengan berbagai macam luka di tubuh.

"Saya di sini kelihatan sekali lihatnya, ada yang kaku. Bapak-bapak mukanya, kakinya gosong. Ada anak kecil yang ususnya kelihatan gitu," ucap Heni, yang tengah bersiap mencari tempat pengungsian lain.

Ledakan bikin motor terpental

Sementara itu, suasana mencekam dirasakan setelah Indra dan dua rekannya, Rahman dan Amat mampir di sebuah kios di kompleks Mandiri 4. Kios dan lokasi ledakan berjarak sekitar 20 meter.

Indra dan dua rekannya memboncengi sepeda motor Beat. Di perjalanan mereka sudah mencium bau menyengat. Indra ingat, yang menguar itu bau bensin, lalu disusul aroma gas. Tak berselang lama ledakan disusul kebakaran Depo Pertamina Plumpang terjadi. Motor tempias. Tiga orang ini jungkir.

Saat itulah Indra, Rahman, dan Amat lari tunggang langgang. Ketiganya terpisah. "Awalnya mereka lari di belakang saya, setelah itu enggak tahu ke mana," tutur Indra, yang masih terbaring lemas.

Warga muntah-muntah karena bau bensin menyengat

Aini, 57 tahun, juga mengalami situasi serupa. Selepas Isya, Ia masih mengobrol dengan pedagang nasi goreng yang rutin berjualan di depan rumahnya. Tak berselang lama, Aini kaget ketika melihat warga berlarian sana-sini. Seketika muncul semacam embun dan bau bensin yang menyengat.

"Mas bau lho mas," kata Aini mengkonfirmasi soal bau yang diciumnya, kepada pedagang nasi goreng tersebut. Lantas, dia masuk ke dalam rumah, memanggil keluarganya dan memboyong arsip-arsip penting yang memang sudah disediakan di tas khusus. "Saya ke At Taubah, ikut arus saja," kata dia.

Baca Juga: 7 Mitos Bunga Wijaya Kusuma, Datangkan Jodoh Hingga Kesayangan Nyi Roro Kidul

Aini juga melihat beberapa warga muntah akibat bau bensin yang menyengat tersebut. Aini menyebut warga ramai-ramai berlarian menuju ke At Taubah tanpa pernah tahu siapa yang sedari awal mengarahkan ke sana. Di At Taubah, Aini tak bisa naik ke lantai 2 karena dapat info aroma bensin berhembus kencang di lantai tersebut.

Oleh sebab itu, Aini lanjut berjalan ke Jalan Mundari lalu ke Pasar Kaget. Di sana, Aini menyaksikan ada 3 jasad. manusia yang sudah terbakar api.

Jumlah korban meninggal dan mengungsi

Kepala Pelaksana Badan Penanganan Bencana Daerah DKI Jakarta, Isnawa Adji, melaporkan data terkini dampak kebakaran Depo Pertamina Plumpang, Jakarta Utara. Total ada 17 meninggal dunia, 49 luka berat, dan 2 luka sedang.

Data tersebut diterima Tempo hingga pukul 03.00 dini hari tadi. Meski demikian, Isnawa belum merilis penyebab pasti dari kebakaran yang bersumber dari pipa bensin Pertamina ini. "(Penyebab) dalam pendataan," kata Isnawa dalam keterangan tertulis, Sabtu, 4 Maret 2023.

Sejumlah area pengungsian pun telah disiapkan. Isnawa merilis data jumlah pengungsi di berbagai lokasi. Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Jakarta Utara 132 jiwa, Masjid As Sholihin 63 Jiwa, Kantor Kelurahan Rawa Badak Selatan 52 Jiwa.

Baca Juga: Skenario Gempa Sesar Cimandiri Menurut BMKG, Magnitudo 6,7 Untuk Wilayah Sukabumi

Berikutnya, Gedung Golkar Walang 258 Jiwa, Kantor Suku Dinas Ketenagakerjaan, Transmigrasi, dan Energi Jakarta Utara 74 Jiwa, Masjid Al Muhajirin: 60 Jiwa. Sedangkan, pengungsi di RPTRA Rasella dan Stadion Rawa Badak masih dalam pendataan.

Saat ini, api yang melalap rumah warga maupun Depo Pertamina sudah padam. Tapi hingga pukul 3 pagi, proses pemadaman masih berlangsung.

Sumber: tempo.co (Ihsan Reliubun/Fajar Pebrianto)

Editor : Ikbal Juliansyah

Tags :
BERITA TERKAIT