SUKABUMIUPDATE.COM - Ketua I Bidang Riset Strategis & Kajian Internasional Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Bela Negara Husni Sutikno Abdullah mengajak semua elemen bangsa Indonesia, terutama kaum Muslim supaya mewaspadai Komunis Gaya Baru atau KGB.
Ajakan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Bela Negara (GBN) tersebut saat pertemuan dengan Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) Kalimantan Selatan (Kalsel) di Hotel Rattan Inn Banjarmasin, Sabtu (15/10).
"Memang Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama antek-anteknya sudah tiada, tetapi gerakan mereka tetap ada dengan gaya baru atau secara terselubung," tutur mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) Jawa Tengah (Jateng) itu.
Namun pemerhati Gerakan Komintern dari Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) itu mengaku, sulit untuk memantau KGB yang sudah berkolaborasi dengan tatanan kehidupan masyarakat Indonesia.
Oleh sebab itu, GBN bersama semua kekuatan anti komunis akan selalu memantau dan melakukan perlawan terhadap KGB, demi tetap tegak dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila, demikian Husni Sutikno.
Sementara Ketua Umum KB-PII Kalsel ustadz H Chairani Idris menambahkan, komunisme bukan cuma bertentangan dengan Pancasila, tetapi juga tidak sesuai ajaran Islam.
"Karena ajaran komunis itu anti tuhan atau athies. Sedangkan Pancasila mengandung nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dan Islam mengaku adanya Allah, Tuhan Yang Maha Esa," ujar mantan aktivis mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin tersebut.
Menurut mantan Ketua Umum Pimpinan Nasional Taman Pendidikan Al Quran/Taman Kanak-kanak Al Quran (TPA/TKA) tersebut, sekarang terjadi pemutarbalikan sajarah oleh mereka yang tergabung dalam KGB.
Sebagai contoh, Gerakan 30 September PKI tahun 1965 atau G 30 S/PKI mereka sebut gerakan pembantaian terhadap orang-orang PKI bersama antek-anteknya atau sebuah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dengan kepemimpinan Letjen Soeharto (Presiden kedua RI).
"Saya pernah membaca buku yang tebalnya ratusan halaman yang memutarbalikan fakta sejarah 180 derajat tentang G 30 S/PKI tersebut. Sehingga generasi bangsa Indonesia mendatang tidak mengetahui, bagaimana penghianatan PKI terhadap negeri ini," demikian Chairani Idris.
Editor : Administrator