SUKABUMIUPDATE.com – Kabar mengenai potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga tengah ramai diperbincangkan berbagai kalangan termasuk mantan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), turut menyampaikan kekhawatirannya setelah mengamati dinamika global dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden yang menjabat selama dua periode, yakni 20 Oktober 2004 hingga 20 Oktober 2014, mengungkapkan bahwa dalam tiga tahun terakhir ia terus mengikuti perkembangan situasi dunia, terutama dinamika global yang semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir.
“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini,” ujar SBY, dikutip dalam keterangan, Kamis (05/02/2026).
SBY menegaskan, sebagai seseorang yang puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dunia, ia merasa cemas terhadap kemungkinan terjadinya prahara besar bagi umat manusia.
“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ucapnya.
Baca Juga: Kekhawatiran Perang Dunia 3 Pecah! 27 Pemimpin Negara Eropa Disebut Rapat dan Bersiap
Menurut SBY, kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga sangat nyata, meskipun ia masih meyakini bahwa bencana global tersebut sebenarnya dapat dicegah. Namun, ia mengingatkan bahwa ruang dan waktu untuk mencegahnya semakin sempit dari hari ke hari.
Ia juga membandingkan situasi global saat ini dengan kondisi dunia menjelang Perang Dunia Pertama (1914–1918) dan Perang Dunia Kedua (1939–1945), yang dinilainya memiliki banyak kesamaan.
“Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas,” jelas SBY.
Ia menambahkan, sejarah mencatat bahwa tanda-tanda akan terjadinya perang besar sebenarnya sudah terlihat jauh hari sebelumnya. Namun, kesadaran dan langkah nyata untuk mencegah perang kerap tidak dilakukan secara serius oleh bangsa-bangsa di dunia.
Baca Juga: Ada Indonesia! 11 Negara Teraman yang Bisa Dituju Jika Perang Dunia III Terjadi
SBY pun mempertanyakan apakah dunia saat ini tidak peduli, tidak berdaya, atau tidak mampu mencegah perang global. Ia mengaku secara pribadi terus berdoa agar mimpi buruk terjadinya perang dunia, terlebih dengan penggunaan senjata nuklir, tidak pernah terwujud.
“Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” ungkapnya.
Namun demikian, SBY menegaskan bahwa doa saja tidaklah cukup. Menurutnya, upaya penyelamatan dunia harus disertai tindakan nyata dari manusia dan bangsa-bangsa di seluruh dunia.
“Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya.,” tegasnya.
Baca Juga: 20 Pepeling Sunda Buhun dan Artinya, Caina Herang Laukna Beunang
SBY menilai, meskipun waktu yang tersisa sangat sempit, masih ada peluang dan cara untuk mencegah kehancuran global. Ia mengajak semua pihak untuk tidak diam dan mulai berbicara serta bertindak.
Ia mengutip pemikiran Edmund Burke dan Albert Einstein yang menegaskan bahwa kehancuran dunia bukan semata karena orang jahat, melainkan karena orang baik memilih diam.
“Kalau yang baik-baik diam, yang jahat akan menang,” katanya.
Sebagai langkah konkret, SBY mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif dengan mengundang para pemimpin dunia dalam sidang darurat Majelis Umum PBB (Emergency UN General Assembly). Sidang tersebut diharapkan membahas langkah-langkah nyata untuk mencegah krisis global, termasuk kemungkinan perang dunia baru.
Meski mengakui bahwa saat ini PBB dinilai tidak berdaya dan kurang berpengaruh, SBY menegaskan lembaga internasional tersebut tidak boleh tercatat dalam sejarah sebagai pihak yang melakukan pembiaran.
“Janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan doing nothing,” ujarnya.
SBY menyadari bahwa seruan tersebut mungkin tidak langsung direspons oleh dunia internasional. Namun, ia berharap langkah itu bisa menjadi awal tumbuhnya kesadaran dan kehendak bersama untuk menyelamatkan dunia.
“Mungkin seruan itu bagai berseru di padang pasir. Tapi bisa juga menjadi awal dari langkah nyata bangsa-bangsa sedunia. Ingat, if there is a will, there is a way,” pungkasnya.
Editor : Ikbal Juliansyah