SUKABUMIUPDATE.com - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa salah satu penyebab utama banyaknya anak putus sekolah bukan karena biaya pendidikan, melainkan keterbatasan orang tua dalam memberikan uang jajan harian kepada anak.
Pernyataan tersebut disampaikan Dadan Hindayana saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, pada Agustus 2025 lalu.
Dalam wawancara bersama Helmy Yahya, Dadan memaparkan hasil analisis terbaru terkait faktor sosial yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak di Indonesia.
“Apa sih yang menyebabkan banyak anak putus sekolah? Kan pendidikan di kita sudah gratis. Sebagian besar, kecuali sekolah-sekolah swasta yang terkenal,” ujar Dadan.
Namun, meskipun biaya pendidikan telah digratiskan, Dadan menilai masih ada beban ekonomi lain yang harus ditanggung keluarga, salah satunya kebutuhan uang jajan harian anak.
Baca Juga: Sama dengan 1 Kg Telur, Menkes: Suami Beli Rokok tapi Tak Beri Uang Belanja, Jewer!
“Dan ternyata yang membuat banyak keluarga anaknya putus sekolah. karena kemampuan orang tua memberi jajan uang harian kepada anak Itu yang menyebabkan banyak putus sekolah,” jelasnya.
Menurut Dadan, program makan bergizi di sekolah menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Kehadiran makanan bergizi dinilai mampu meringankan beban ekonomi keluarga sekaligus mendorong anak tetap bersekolah.
“Jadi, hadirnya makan bergizi menyelamatkan mereka,” katanya.
Ia menjelaskan, dengan adanya makanan yang disiapkan di sekolah, anak-anak tidak lagi harus membawa bekal dari rumah atau membutuhkan uang jajan.
“Jadi, mereka sekarang kalau ke sekolah tidak lagi membutuhkan bekal gitu karena sudah disiapkan di sekolah atau yang dikasih jajan sedikit bisa ditabung juga gitu karena makannya sudah ada di sekolah gitu,” ujar Dadan.
Sementara itu, dikutip dari Tempo.co dalam artikel berjudul “Kementerian Pendidikan: 3,9 Juta Anak Tak Bersekolah” data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat jumlah anak yang tidak mengenyam pendidikan saat ini mencapai 3,9 juta orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 881.168 anak tercatat putus sekolah, 1.027.014 anak telah menyelesaikan jenjang pendidikan namun tidak melanjutkan ke tingkat berikutnya, sementara 2.077.596 anak belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali.
Kemendikdasmen juga mencatat sejumlah faktor yang menjadi penyebab anak tidak bersekolah. Faktor ekonomi menjadi alasan terbesar, yakni ketiadaan biaya yang mencapai 25,55 persen. Selain itu, 21,64 persen anak tidak bersekolah karena harus bekerja atau mencari nafkah, 14,56 persen karena menikah atau mengurus rumah tangga, serta 9,77 persen karena merasa pendidikan yang ditempuh sudah mencukupi.
Adapun faktor lainnya meliputi disabilitas sebesar 3,64 persen, jarak sekolah yang terlalu jauh sebesar 2,61 persen, serta pengalaman perundungan yang dialami anak sebesar 0,48 persen.
Editor : Ikbal Juliansyah