Sukabumi Update

Respons Krisis Energi Global, Dosen dan Mahasiswa Diimbau Jalan Kaki atau Bersepeda ke Kampus

Mendiktisaintek Brian Yuliarto. (Sumber Foto: Kemendiktisaintek)

SUKABUMIUPDATE.com - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengimbau seluruh warga kampus untuk mulai mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di tengah kondisi krisis energi global. Ia mengajak para dosen dan mahasiswa untuk beralih menggunakan sepeda atau berjalan kaki saat menuju ke kampus.

Brian menekankan bahwa berjalan kaki atau bersepeda bukanlah indikator penurunan status sosial seseorang. Ia merujuk pada tren di negara-negara maju, seperti di Eropa, di mana mobilitas ramah lingkungan sudah menjadi gaya hidup sehari-hari.

“Zaman dulu sebenarnya kita sudah terbiasa ada yang jalan kaki, naik sepeda. Itu barangkali juga diharapkan mulai terbiasa,” kata Brian di kantor Kemendiktisaintek, Jakarta Selatan, Senin (6/4/2026).

Ia juga menyarankan penggunaan sepeda listrik bagi mereka yang memiliki kendala fisik atau rute yang berat.

“Kalau berat, seperti ada tanjakan misalnya, bisa saja kan pakai sepeda listrik. Itu membantu bagaimana mobilitas dari yang masih tergantung menggunakan fosil atau bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi diubah menjadi kebiasaan yang lebih sehat,” ujar Brian.

Baca Juga: Pemerintah Resmi Tetapkan WFH ASN Sehari Sepekan, Penggunaan Kendaraan Dinas Dipangkas 50 Persen

Brian juga menyerahkan sepenuhnya kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) kepada masing-masing kampus. Menurutnya, hanya kampus atau kepala prodi yang mengetahui mata kuliah apa yang dapat dilakukan secara hibrida (penggabungan luring dan daring) atau PJJ.

“Prodi yang tahu mana mata kuliah yang sifatnya wawasan bisa dilakukan hybrid atau PJJ,” kata Brian.

Namun, khusus mata kuliah yang sifatnya intensif seperti perhitungan, penurunan rumus, atau praktikum, Brian menyatakan kampus tak boleh memberlakukan PJJ. “Masa kedokteran hewan membedah hewan melalui PJJ?” ujarnya. Karena itu, Brian menyerahkan kembali kebijakan PJJ itu selama mata kuliah tersebut bisa diajarkan dengan jarak jauh.

Merespons kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), Brian meminta agar setiap kampus dapat mengatur jadwal mengajar dosen pada hari-hari tertentu.

“Misalnya dosen mengajar dari Senin-Kamis penuh. Hari Jumat, bisa bekerja dari rumah,” tuturnya.

Baca Juga: Pemkot Sukabumi Gelontorkan Rp29,8 Miliar untuk 9 Proyek Infrastruktur 2026, Ini Daftarnya

Menurut Brian, kebijakan satu hari dosen mengajar dari rumah lebih efisien. Selain itu, kata Brian, mahasiswa juga tidak perlu bolak-balik ke kampus jika sistemnya sudah berjalan dengan baik.

Sebelumnya, langkah Kemendiktisaintek merespons krisis energi global ini sejalan dengan imbauan sebelumnya yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti.

Pada Rabu (1/4/2026) lalu, Mu'ti mengimbau para orang tua agar tidak mengantar anak sekolah menggunakan kendaraan pribadi secara berlebihan jika jarak rumah cukup dekat.

“Kalau jaraknya tidak jauh, ya naik sepeda atau jalan kaki, yang penting tetap aman dan nyaman,” kata Mu’ti.

Kebijakan ini juga beriringan dengan instruksi Kerja dari Rumah (WFH) bagi ASN sebagai bagian dari upaya pemerintah pusat dalam menghemat energi nasional.

Tak hanya sekadar imbauan, Abdul Mu’ti juga menyoroti pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyediakan infrastruktur yang mendukung. Ia berharap jalur pedestrian dan jalur sepeda kembali diperbanyak agar masyarakat merasa tergerak untuk beralih ke transportasi ramah lingkungan.

“Dulu di Jakarta fasilitas itu cukup masif, sayang sekali jika sekarang berkurang. Bersepeda itu lebih sehat karena ada aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin,” pungkasnya.

Sumber: Tempo.co

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT