Sukabumi Update

2 Tongkang Batu Bara Karam di Selatan Jabar, Ditengah Upaya Stop Pemadaman Listrik Bergilir

Tongkang Baru Bara tujuan PLTU Cilacap Jateng terdampar di pesisir pangandaran Jawa Barat (Sumber: dok warganet)

SUKABUMIUPDATE.com - Ditengah upaya PLN mempercepat suplai batu bara ke sejumlah pembangkit listrik di pulau jawa, 2 insiden terjadi di laut selatan Jawa Barat. Dua tongkang batu bara terdampar akibat cuaca buruk di perairan Pangandaran dan dan Tegalbuleud Kabupaten Sukabumi Jawa Barat.

Kapal tongkang pengangkut batu bara Titan 70 karam di perairan Cibuni, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Beruntung, seluruh awak kapal yang terdiri dari 16 anak buah kapal (ABK) beserta nakhoda diselamatkan dalam operasi evakuasi yang dilakukan oleh nelayan setempat. Informasinya tongkang tersebut hendak menuju PLTU Cilacap Jawa Tengah.

Dua hari kemudian, tongkang pengangkut batu bara dari Palembang menuju Cilacap, Jawa Tengah mengalami kebocoran saat melintas di perairan selatan Kabupaten Pangandaran, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Kabar Duka, Cuk Nugroho 'Saep Copet' Preman Pensiun Meninggal Dunia

Insiden ini terjadi ditengah upaya pemerintah mempercepat suplai batu batu ke sejumlah pembangkit listrik yang menjadi penyebab terjadinya pemadaman listrik bergilir di pulau Jawa. Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan perusahaan tengah mempercepat proses penandatanganan kontrak dengan para pemasok batu bara untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik.

Menurut Darmawan, PLN terus berkoordinasi secara intensif dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral guna mempercepat proses kontrak dan distribusi pasokan batu bara ke pembangkit.

“Kami juga mempercepat proses penandatanganan kontrak kepada para pemasok batu bara, terutama medium rank coal yang sudah mendapatkan penugasan dari pemerintah,” kata Darmawan dalam konferensi pers pada Jumat malam, dikutip dari tempo.co, Sabtu, 20 Juni 2026.

Baca Juga: Ayah Ditemukan di Pantai Pasir Putih Sukabumi, Korban Anak Warga Bogor Masih Dalam Pencarian

Darmawan mengklaim pasokan batu bara berkalori menengah kini mulai mengalir ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di berbagai wilayah Pulau Jawa, baik PLTU milik PLN maupun milik produsen listrik swasta atau independent power producer. Untuk wilayah Jawa bagian barat, pasokan mulai disalurkan ke PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuan, PLTU Suralaya 1-8, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, serta PLTU Indramayu.Sementara itu, untuk wilayah Jawa bagian timur, pasokan dialirkan ke PLTU Paiton 1 dan 2, PLTU Paiton 9, PLTU Rembang, PLTU Pacitan, dan PLTU Tanjung Awar-Awar.

Pemadaman listrik bergilir terjadi sepanjang 8 Juni hingga 19 Juni 2026 di sebagian wilayah Pulau Jawa. Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebutkan kekurangan pasokan batu bara medium menjadi pemicu pemadaman listrik di sebagian daerah di Pulau Jawa.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR pada 15 Juni 2026, Bahlil menjelaskan, keterbatasan pasokan batu bara tersebut membuat sejumlah pembangkit tidak dapat menghasilkan listrik secara optimal.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jawa Barat 20 Juni 2026: di Akhir Pekan Sukabumi Cerah di Pagi Hari

Bahlil mengklaim persoalan itu berkaitan dengan perbedaan yang cukup lebar antara harga batu bara untuk kebutuhan domestik atau domestic market obligation (DMO) dan harga pasar. Saat ini, batu bara untuk PLN dijual dengan harga DMO sebesar US$ 70 per ton, sementara Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode I Juni 2026 mencapai US$ 121,83 per ton untuk batu bara kalori 6.322 kcal/kg dan US$ 84,53 per ton untuk batu bara kalori medium 5.300 kcal/kg.

"Jadi, harga jual ke PLN itu untuk perusahaannya sudah tidak ada. Itulah yang menjadi masalah," kata Bahlil.

Masih dari tempo.co, selain faktor harga DMO, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani menilai terdapat persoalan fundamental lain yang memengaruhi ketersediaan batu bara untuk pembangkit listrik. Menurut dia, salah satu penyebabnya adalah kebijakan pemangkasan produksi batu bara melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang membatasi fleksibilitas produsen.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Manchester United di Liga Inggris Musim 2026/2027, Hadapi Tim Promosi di Awal Laga

“Apalagi saat ini produksi juga sedang dalam proses penyesuaian melalui RKAB, sehingga ruang fleksibilitas produsen tidak sebesar sebelumnya,” kata Gita.

Editor : Fitriansyah

Tags :
BERITA TERKAIT