Sukabumi Update

Pengusaha Ogah Jual Batu Bara ke PLN, Pakar IPB Soroti Buruknya Tata Kelola Energi

Aceng Hidaya, Pakar Tambang IPB University | Foto : Pixabay/Istimewa

SUKABUMIUPDATE.com - Pengakuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia terkait kekurangan pasokan batu bara kalori menengah untuk pembangkit listrik PLN usai terjadinya pemadaman listrik di sejumlah daerah mendapat sorotan dari Pakar Ekonomi Sumber Daya dan Lingkungan IPB University, Aceng Hidayat.

Menurut Aceng, salah satu penyebab terganggunya pasokan batu bara untuk pembangkit listrik adalah kecenderungan perusahaan tambang yang lebih memilih menjual produknya ke pasar ekspor dibandingkan memenuhi kebutuhan PLN.

"Berkaitan dengan pemadaman listrik saat ini, itu dikarenakan perusahaan batu bara lebih suka menjual ke luar negeri karena harga dolar yang sangat tinggi. Sementara kalau menjual ke PLN harganya lebih murah dari harga pasaran. Dengan demikian perusahaan batu bara lebih tertarik menjual ke luar negeri dibandingkan jual ke PLN yang harganya lebih murah," kata Aceng kepada sukabumiupdate.com, Sabtu (20/6/2026).

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam tata kelola batu bara nasional. Menurutnya, PLN seharusnya memiliki jaminan pasokan melalui kerja sama kontraktual jangka panjang dengan perusahaan tambang sehingga kebutuhan pembangkit tidak terganggu oleh fluktuasi harga pasar.

Baca Juga: Singgah di Puncak Habibie, Panorama Pantai Cikembang Sukabumi dari Warung Pinggir Jalan

"Tentu ini menunjukkan adanya tata kelola batu bara yang sangat buruk. Artinya bahwa PLN tidak memiliki cadangan yang pasti misalkan kontraktual dengan perusahaan-perusahaan batu bara untuk menjamin ketersediaan batu baranya. Mestinya PLN ada kontraktual dengan perusahaan penambang batu bara jangka panjang untuk memastikan kebutuhan PLN per harinya tanpa terganggu dengan fluktuasi harga," ujarnya.

Aceng menilai persoalan pasokan batu bara tidak bisa dianggap sepele. Jika terus berlanjut dan memicu pemadaman listrik, dampaknya akan dirasakan luas oleh masyarakat maupun dunia usaha.

"Kalau pasokan batu bara ini terus berlanjut tanpa solusi dan terjadi pemadaman yang terdampak ya semuanya dong, baik masyarakat, maupun perusahaan, UMKM, hampir semua sektor industri," katanya.

Lebih jauh, Aceng menyebut peristiwa ini menjadi alarm bagi ketahanan energi nasional. Ketergantungan yang tinggi terhadap batu bara menunjukkan Indonesia belum memiliki sumber energi alternatif yang cukup kuat untuk menopang kebutuhan listrik nasional.

"Ini menunjukkan secara kasat mata bahwa ketahanan energi nasional itu dalam ancaman yang luar biasa, atau kita memiliki ketahanan energi nasional yang sangat rendah, karena kita tergantung pada pasokan batu bara untuk pembangkit listrik. Ini menunjukkan juga bahwa kita belum memiliki alternatif energi lain yang bisa digunakan untuk ketahanan energi nasional," tuturnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk mulai mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai langkah jangka panjang agar pasokan listrik tidak terus bergantung pada batu bara.

Baca Juga: Dalam Dua Hari, Kebakaran Landa Tiga Rumah Warga Cibitung Sukabumi

"Saya kira transisi energi baru dan terbarukan tidak harus menunggu momentum kelangkaan energi seperti ini. Artinya bahwa kita mestinya memiliki perencanaan yang matang dan baik. Kita harus mengembangkan energi sumber daya listrik lain selain yang bersumber kepada batu bara," ujarnya.

Di sisi lain, Aceng menilai pemerintah dan PLN perlu mengambil langkah cepat untuk mengatasi persoalan pasokan batu bara yang saat ini terjadi. Menurutnya, terdapat dua pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi besar bagi negara maupun masyarakat.

"Pilihan mendesak saat ini, PLN harus mau beli harga tinggi atau pemerintah menekan perusahaan BB mau menjual sesuai harga PLN. Bila pilihan pertama, siap-siap APBN jebol untuk memberi subsidi ke PLN, atau rakyat siap-siap marah karena harga beli listrik jadi mahal," pungkasnya.

Editor : Syamsul Hidayat

Tags :
BERITA TERKAIT