SUKABUMIUPDATE.com - Sebuah brankas besi berukuran dua meter ditemukan di lantai dua Cafe de’Clan Signature, Cipete, Jakarta Selatan, saat penggeledahan oleh Penyidik Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kepolisian RI (Kortastipidkor Polri) dan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.
Dikutip dari Tempo.co, bagian dalam brankas besar tersebut berisi rak kayu serta sebuah brankas berukuran lebih kecil yang diupayakan untuk dibongkar.
“Kan enggak gampang bukanya,” kata seorang anggota polisi yang ada di lokasi penggeledahan. Kafe tersebut digeledah perihal kasus tindak pidana pencucian uang atau TPPU dan suap di perkara PT Asabri, serta kasus korupsi pasokan batu bara yang menyebabkan blackout di Sumatera dan kasus PT Krakatau Steel.
Dimana polisi menyita duit sebesar Rp 60 miliar dari hasil penggeledahan kafe de’Clan Signature di Jalan Cilandak Tengah, Cipete, Jakarta Selatan. Penggeledahan itu berkaitan dengan tiga kasus, yakni kasus Asabri, batu bara yang menyebabkan blackout di Sumatera, dan kasus PT Krakatau Steel yang ditangani tim gabungan dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Kepolisian RI bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.
Baca Juga: Ratusan Warga Pabuaran Diduga Jadi Korban Investasi Bodong AMV, Dewan Paoji: “Akan Ditelusuri”
“Kami telah menyita dokumen, beberapa barang elektronik, termasuk handphone serta uang senilai S$ 3.130.000, US$ 889.965, dan Rp 259 juta. Kami konversi dalam bentuk rupiah sehingga jumlahnya hampir Rp 60 miliar,” kata Kepala Kortastipidkor Polri Inspektur Jenderal Totok Suharyanto, Rabu, 8 Juli 2025.
Uang itu tersimpan di brankas kecil dalam brankas besar setinggi 2 meter di lantai 2 kafe tersebut. Dari pantauan Tempo di lapangan, polisi turut memboyong tiga koper kecil berwarna hitam, biru, dan merah, satu koper hitam besar, serta satu brankas besi kecil. Uang dan dokumen itu ada di dalamnya.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto menjelaskan penggeledahan tersebut merupakan atensi Presiden Prabowo Subianto dalam memberantas korupsi. “Rangkaian penggeledahan ini bagian dari proses penyidikan dalam mencari barang bukti,” ucap Budi di lokasi, Rabu.
Baca Juga: Sukabumi Adventure Education, Saat Alam Jadi Ruang Kelas Terbaik Bagi Generasi Masa Depan
Cafe de’Clan bukan kali pertama jadi sasaran penggeledahan. Pada 2025 lalu, polisi juga berencana menggeledah kafe tersebut. Kafe itu dikelola oleh Ferry Yanto Hongkiriwang. Ia diduga memiliki keterkaitan dengan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung Febrie Ardiansyah. Pengelola kafe tersebut bahkan pernah diringkus polisi pada Senin, 28 Juli 2025. Ia ditangkap atas dugaan penculikan, penganiayaan dan juga perintangan penyidikan.
Fery disebut menganiaya dan menculik personel Detesemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian RI. Ia sebelumnya sempat dibuntuti oleh anggota Densus 88, Brigadir Satu Faisal Faizurrahman saat bersantap siang di Bogor Cafe, Hotel Borobudur, Jakarta pada Jumat, 25 Juli 2025. Fery lantas langsung menghubungi seorang perwira tinggi TNI. Dan tak lama, beberapa prajurit yang diduga berasal dari Bais datang ke lokasi menahan Briptu Faisal.
Dalam laporan Majalah Tempo edisi 24 Agustus 2025 disebutkan, penegak hukum yang saat itu ikut menyidik kasus penculikan anggota Densus 88 tersebut mengatakan, Briptu Faisal berasal dari tim yang sama dengan personel Densus 88 yang pernah membuntuti Jampidsus Febrie.
Baca Juga: Ada Apa dengan Indonesia? Dalam 5 Tahun Terakhir Ada 8.000 Orang Lepas Status WNI
Sebelum berubah nama menjadi Cafe de’Clan, dulunya kafe ini bernama Gontran Cherrier, lokasi peristiwa penguntitan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah oleh anggota Densus 88 pada 19 Mei 2024 lalu. Febrie dulu dikabarkan sering menyantap sarapan di sana.
Seorang polisi yang ikut dalam penggeledahan hari ini mengatakan, ia memang mendengar ada nama Febrie. “Iya kami dengar tapi kan itu harus dibuktikan dengan dokumen ya,” kata dia saat dikonfirmasi bahwa restoran de’Clan masih memiliki keterkaitan dengan Febrie.
Sumber: Tempo.co
Editor : Ikbal Juliansyah