SUKABUMIUPDATE.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan 22,93 juta penduduk masih hidup dalam kondisi miskin. 8,07% dari total penduduk, artinya 1 dari 12 warga di Indonesia hidup dalam kondisi rentan.
BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang atau 8,07% dari total penduduk. Angka itu turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan periode pendataan September 2025, dengan tingkat kemiskinan menyusut 0,18 poin persentase.
"Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 22,93 juta orang, atau turun sebanyak 0,43 juta orang dibandingkan dengan bulan September tahun 2025," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: Kesepakatan Sementara Belum Akhiri Polemik Trayek Angkot di Cicurug, KDM Diminta Turun Tangan
BPS mengungkapkan ketimpangan kesejahteraan antara desa dan kota masih menjadi tantangan serius. Tingkat kemiskinan di perkotaan tercatat 6,34%, sedangkan di pedesaan mencapai 10,67% atau hampir dua kali lebih tinggi.
Laju penurunan kemiskinan di desa juga jauh lebih lambat. Dibandingkan September 2025, tingkat kemiskinan di perkotaan turun 0,26 poin persentase, sementara di pedesaan hanya turun 0,05 poin persentase.
"Berdasarkan trend pada grafik sejak Maret 2023 sampai dengan Maret 2026, jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan," kata Edy.
Baca Juga: Warga Udunan dan Gotong Royong, Cor Jalan Hancur di Nyalindung Sukabumi
Konsentrasi penduduk miskin masih bertumpu di Pulau Jawa. BPS mencatat sebanyak 12,02 juta orang atau 52,42% dari seluruh penduduk miskin nasional berada di pulau Jawa Sebaliknya, Kalimantan menjadi wilayah dengan jumlah penduduk miskin paling sedikit, yakni sekitar 870 ribu orang atau 3.79% dari total nasional.
BPS menyebut penurunan tingkat kemiskinan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa mencatat penurunan terdalam sebesar 0,21 poin persentase dibandingkan September 2025.
Editor : Fitriansyah