Sukabumi Update

Badan Geologi: Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Potensi Letusan Masih Tinggi

Kondisi Gunung Anak Krakatau pada Senin, 7 September 2026. (Sumber Foto: PVMBG Badan Geologi)

SUKABUMIUPDATE.com – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, menunjukkan kecenderungan menurun sejak berakhirnya episode erupsi menerus pada 6 September 2026. Meski demikian, Badan Geologi Kementerian ESDM menyebut probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode selanjutnya masih tinggi.

Berdasarkan evaluasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau per 10 September 2026 pukul 06.00 WIB, tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III (Siaga).

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut, sejak berakhirnya erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian.

Erupsi menerus tersebut terjadi sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

"Sejak berakhirnya erupsi menerus hingga tanggal 10 September 2026 pukul 06.00 WIB, telah terjadi 13 kali erupsi Strombolian," kata Lana dalam keterangan resminya, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Kembali Sebarkan Abu Vulkanik, Bergerak hingga Selatan dan Barat Laut

Badan Geologi menginterpretasikan kembalinya erupsi Strombolian yang merupakan salah satu karakteristik erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang.

Berdasarkan pemantauan kegempaan, lanjut Lana, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan kecenderungan menurun sejak erupsi menerus tersebut.

Pada periode 9-10 September 2026, alat pemantauan merekam satu kali gempa erupsi, enam kali gempa hembusan, tiga kali gempa low frequency, lima kali gempa hybrid/fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, serta tiga kali gempa tektonik jauh.

Selain itu, terekam tremor menerus. Energi aktivitas vulkanik yang tercermin melalui nilai perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) berfluktuasi dengan energi rendah.

Data tiltmeter dari Stasiun Tanjung dan Lava93 juga menunjukkan kecenderungan mendatar yang mengindikasikan kondisi relatif konstan, tanpa adanya peningkatan maupun penurunan.

Pengamatan visual Gunung Anak Krakatau melalui CCTV Pos Pasauran, Kamis (10/9/2026) pukul 05.55 WIB. Cuaca cerah. Tidak terlihat adanya erupsi. | Sumber Foto: Badan GeologiPengamatan visual Gunung Anak Krakatau melalui CCTV Pos Pasauran, Kamis (10/9/2026) pukul 05.55 WIB. Cuaca cerah. Tidak terlihat adanya erupsi. | Sumber Foto: Badan Geologi

Meski sejumlah indikator menunjukkan penurunan aktivitas, Lana menegaskan dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau dan dievaluasi.

"Probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya adalah masih tinggi," ungkap Lana.

Adapun potensi bahaya erupsi yang perlu diwaspadai berupa lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Ancaman lainnya berupa aliran lava apabila kembali terjadi erupsi menerus.

Baca Juga: Makna di Balik Prosesi Penyiraman Air 4 Penjuru Sukabumi dalam Sekar Budaya HJKS ke-156

Dengan status Level III (Siaga), Badan Geologi merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau serta pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak memasuki dan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Warga yang terdampak abu vulkanik hasil erupsi juga direkomendasikan mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat beraktivitas untuk menghindari gangguan pernapasan.

Sementara itu, masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai isu mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami.

Badan Geologi menyatakan masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau akan dievaluasi secara berkala atau apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Status Level III (Siaga) beserta rekomendasinya tetap berlaku hingga diterbitkan laporan evaluasi berikutnya.

Editor : Denis Febrian

Tags :
BERITA TERKAIT