SUKABUMIUPDATE.com - Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) menggelar seminar nasional bertajuk “Kepemimpinan Transformatif dan Inklusif: Membentuk Guru Profesional Berkarakter, Berintegritas Tinggi dan Menjamin Kesetaraan Hak Belajar Siswa”, Senin (28/9/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.500 peserta secara daring melalui Zoom maupun tatap muka. Peserta berasal dari 25 provinsi, terdiri dari mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), mahasiswa pendidikan, serta para guru.
Seminar nasional tersebut dihadiri Rektor UMMI beserta jajaran, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dosen PPG, serta sejumlah tamu undangan dari Universitas Suryakancana, Dinas Pendidikan Kota dan Kabupaten Sukabumi, hingga Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pemateri di bidang pendidikan, di antaranya Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kemendikdasmen, Arif Jamali, serta Kepala Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Barat, Dr. Sugito Adiwarsito.
Baca Juga: Masuk Desil 6, Keluarga Tukang Tambal Ban di Sukabumi Kehilangan Akses Pendidikan dan Kesehatan
Seminar ini menjadi wadah bagi calon guru, dan mahasiswa pendidikan untuk menambah wawasan mengenai kepemimpinan transformatif dan pendidikan inklusif. Materi yang diberikan diharapkan dapat menjadi bekal dalam menciptakan guru profesional, berkarakter, berintegritas tinggi, serta mampu menjamin kesetaraan hak belajar bagi seluruh siswa.
Dalam kesempatan tersebut, Arif Jamali menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, perkembangan AI merupakan realitas yang tidak dapat dihindari sehingga guru harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.
"Teknologi AI itu tentu realita yang harus kita hadapi ya, dan dia tidak mungkin untuk kita hindari. Nah sekarang yang terpenting adalah bagaimana guru-guru bisa menyikapi AI itu dengan sebaik-baiknya sebagai alat pembelajaran, bukan menggantikan peran guru," ujar Arif kepada sukabumiupdate.com.
Arif menegaskan, kehadiran AI tidak akan menggantikan peran guru. Justru, para pendidik dituntut memiliki kemampuan adaptif agar mampu menggunakan teknologi sekaligus mengajarkan kepada siswa bagaimana bersikap dan memanfaatkan teknologi secara tepat.
Baca Juga: SALAH: Guru Bakal Dilarang Kemendikbud Punya Barang Mewah
"Dan guru tidak akan bisa tergantikan apapun oleh AI. Sehingga guru-guru pun harus punya kemampuan adaptif menggunakan teknologi, sehingga nanti-nanti dia bisa mengajarkan kepada anak-anak dan bersikap terhadap teknologi itu," jelasnya.
Posisi Penting Guru
Menurut Arif, guru memiliki posisi penting dalam mendampingi proses tumbuh kembang peserta didik. Sementara AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, termasuk dalam membantu guru mengidentifikasi atau mendiagnosis kebutuhan siswa.
"Guru kan faktor utama yang melakukan pendampingan tumbuh kembangnya anak. AI sebagai alat bantu mendiagnosis, tetapi apa yang harus dilakukan dan kemudian diterapkan, itu sangat tergantung kepada guru," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa keputusan dan penerapan hasil pemanfaatan teknologi tetap membutuhkan peran guru. Sebab, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan, tetapi juga pendampingan terhadap tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Curug Leuwi Asih, Trekking Seru Menyusuri Sungai dan Sawah Sebelum Tiba di Air Terjun
"Maka guru punya peran penting sebagai pendamping tumbuh kembang anak. Jadi gurulah penentu utama dia mendampingi tumbuh kembang anak, bukan teknologi," tegas Arif.
Selain membahas tantangan teknologi, Arif juga mengapresiasi UMMI, khususnya FKIP, yang turut berperan dalam menyiapkan calon-calon guru agar mampu menghadapi tantangan pendidikan menuju Indonesia Emas 2045.
"Jadi saya mengapresiasi kepada terutama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, FKIP, Pak Dekan dan dan jajarannya serta Bu Rektor dan jajarannya yang telah juga tentu membantu kami di Kementerian dalam mensosialisasi dan menyiapkan calon-calon guru agar menjadi guru yang tadi, yang profesional, yang inklusif, yang berkomitmen bisa mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang hebat, menjadi anak-anak yang tangguh dan siap menghadapi tantangan zaman," pungkasnya. (Adv)
Editor : Fitriansyah