SUKABUMIUPDATE.com - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres mRocky Gerung mendesak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka segera mengundurkan diri dari jabatannya. Langkah drastis ini dinilai ampuh meredam ledakan kemarahan masyarakat yang terus memuncak akibat polemik ijazah.
"Alangkah elegannya kalau Gibran mengundurkan diri. Untuk mencegah amuk massa, untuk mencegah Presiden dikait-kaitkan dengan pasangan yang ilegal," kata Rocky di YouTube Akbar Faizal.
Langkah Mundur tersebut dianggap akan menjadi benteng utama agar Presiden Prabowo Subianto tidak ikut terseret dalam pusaran kontroversi legitimasi pasangan kepemimpinannya. Menjadi pilihan paling terhormat untuk menyelamatkan stabilitas politik nasional dari ancaman gejolak publik.
Melansir suara.com, Lembaga pengawal konstitusi yaitu Mahkamah Konstitusi dinilai telah menggeser panggung persoalan hukum ini menjadi komoditas politik yang sangat panas. Pembahasan isu kualifikasi pendidikan kini secara otomatis berpindah ke tangan para wakil rakyat di Senayan.
Baca Juga: Golkar Dukung Prabowo Subianto di 2029, Siapa Wapresnya?
DPR kini memegang kendali penuh untuk menindaklanjuti gelombang keresahan masyarakat setelah putusan resmi dibacakan. Parlemen diharapkan tidak mengabaikan tuntutan publik yang terus mencuat.
Gugatan hukum yang bergulir di Mahkamah Konstitusi pada akhirnya menyerahkan bola panas ini langsung ke gedung dewan. Skenario politik baru kini sedang terbentuk di parlemen.
"Mahkamah menyediakan diri untuk menyeberangkan keresahan publik yang bertahun-tahun ini supaya dia jadi mainan DPR. Jadi dia, dia kirim bom bola panas ke DPR itu," ujarnya.
Masyarakat diminta tetap menahan diri dan menjaga ketertiban agar situasi tidak berkembang menjadi bentrokan fisik di jalanan. Tekanan politik harus tetap berjalan sesuai koridor hukum yang berlaku.
Baca Juga: Wanci Tumoke Jam Berapa, Kenali Penanda Waktu Malam dalam Budaya Sunda
Kekecewaan kolektif warga terkait keabsahan dokumen pendidikan keluarga mantan Presiden Jokowi berisiko memicu sanksi sosial yang massif. Amarah publik mengancam keberlangsungan dinasti politik tersebut.
"Kita mesti cegah, jangan sampai kemarahan publik itu yang sudah terakumulasi dari kasus ijazah Pak Jokowi sampai ke ijazah Pak Gibran itu, akumulasi itu membuat orang merasa bahwa ini saatnya hukuman maksimal pada dinasti Jokowi," jelas Rocky.
Sorotan tajam terhadap kelayakan Gibran tidak boleh dibiarkan mencoreng wibawa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, fokus kritik masyarakat seharusnya hanya tertuju kepada sosok wakil presiden semata.
Kepala negara harus tetap fokus menjalankan roda pemerintahan tanpa terganggu oleh legitimasi pendampingnya yang sedang digugat masyarakat. Kepala negara diimbau tidak memberikan kompromi apa pun.
"Jangan sampai isu ini kemudian dilengketkan pada presiden. Bahwa presiden ternyata pasangannya ilegal. Padahal yang diincar cuman wapresnya tuh," tegasnya.
Presiden Prabowo disarankan untuk mengambil sikap tenang dan sama sekali tidak terpancing memberikan tanggapan secara terbuka kepada media. Komentar resmi presiden hanya akan membakar suasana yang sudah panas.
"Maka presiden akan susah untuk mengucapkan sesuatu ketika psikologi publik menuntut supaya Pak Presiden dipancing untuk terlibat memberi komentar. Nggak boleh," tutup Rocky.
Gelombang kontroversi ini bermula dari gugatan masyarakat terkait keabsahan dokumen kualifikasi pendidikan milik Presiden ke-7 Joko Widodo dan wakil presiden terpilih. Putusan terbaru Mahkamah Konstitusi mengenai syarat pendidikan pejabat negara semakin memperuncing kecurigaan publik hingga memicu desakan pengunduran diri demi menjaga stabilitas keamanan nasional.
Editor : Fitriansyah